Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pemerhati Seni Rupa tinggal di Semarang
Di Semarang, garis tidak pernah benar-benar lurus. Ia berkelok seperti sejarahnya—menyusuri bekas-bekas kolonial, melintasi pelabuhan yang tua, menepi di gang-gang sempit yang menyimpan jejak diaspora. Kota ini tumbuh dari pertemuan: air laut dan sungai, dagang dan doa, ingatan dan kehilangan. Maka ketika seseorang menyebutnya sebagai “Ibu Kota Sketsa”, pertanyaannya bukan sekadar layak atau tidak—melainkan: sejak kapan kota ini diam-diam digambar begitu tekun?
Jawabannya bisa ditelusuri dalam satu dekade terakhir, melalui langkah-langkah sederhana yang nyaris tak terdengar: berjalan, berhenti, lalu menggambar. Itulah ritme yang dipelihara oleh Semarang Sketchwalk—sebuah gerakan yang tumbuh bukan dari kebijakan, melainkan dari kebiasaan. Dari tangan-tangan yang setia mencoret, dari mata yang bersedia melihat lebih lama dari biasanya.
Tidak ada deklarasi resmi. Tidak ada peluncuran besar. Tapi seperti banyak hal penting di kota ini, ia bekerja pelan-pelan, nyaris senyap—dan justru karena itu, bertahan.
Suatu pagi di Kota Lama Semarang, beberapa orang duduk di trotoar. Ada yang membawa bangku lipat, ada yang hanya bersandar pada dinding tua. Di hadapan mereka, bangunan-bangunan tua berdiri seperti fragmen yang menolak selesai. Di kejauhan, kubah Gereja Blenduk memantulkan cahaya yang lembut. Lalu garis pertama ditarik.
Di situlah perbedaan dimulai.
Fotografi mungkin menangkap momen dalam sepersekian detik. Tapi sketsa menolak tergesa. Ia menuntut waktu, bahkan kesabaran. Untuk menggambar satu fasad bangunan, seseorang harus duduk cukup lama untuk benar-benar melihat: bagaimana cat mengelupas, bagaimana bayangan jatuh, bagaimana manusia melintas tanpa sadar menjadi bagian dari komposisi.
Dalam proses itu, kota berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar ruang yang dilewati, melainkan teks yang dibaca perlahan. Setiap jendela menjadi paragraf. Setiap retakan tembok adalah catatan kaki.
Dan para sketser itu—mereka bukan hanya menggambar. Mereka sedang membaca kota.
Awalnya sederhana. Sekelompok orang yang gemar menggambar, bertemu, lalu sepakat untuk berjalan bersama. Tahun 2015 menjadi titik mula. Tidak ada target besar. Hanya satu kesadaran: Semarang terlalu kaya untuk dilewati begitu saja.
Dari sana, ritme terbentuk.
Mereka menyusuri Pasar Johar—pasar yang bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang riuh dan berlapis. Mereka duduk di sekitar Lawang Sewu—bangunan yang selalu memanggil antara sejarah dan mitos. Mereka berjalan ke Pecinan, ke pelabuhan, ke sudut-sudut kota yang bahkan tidak tercatat dalam peta wisata.
Di setiap tempat, mereka melakukan hal yang sama: berhenti lebih lama dari kebanyakan orang.
Dari kebiasaan itu, sesuatu yang lebih besar perlahan tumbuh. Bukan sekadar komunitas, tetapi ekosistem kecil yang menghubungkan banyak hal—seni, ruang publik, sejarah, bahkan percakapan sehari-hari.
Yang menarik, Semarang Sketchwalk tidak pernah menjadi ruang yang eksklusif. Tidak ada batasan siapa yang boleh datang. Tidak ada syarat harus “bisa menggambar dengan baik”. Bahkan, justru banyak yang datang dengan keraguan—dan pulang dengan rasa percaya diri yang baru.
Di sinilah sketsa menemukan wajahnya yang paling jujur: sebagai praktik yang demokratis.
Semua duduk sejajar. Tidak ada hierarki yang kaku. Seorang pemula bisa menggambar di samping perupa berpengalaman. Seorang pekerja kantoran bisa berbagi ruang dengan mahasiswa seni. Mereka tidak saling menilai secara formal. Mereka saling melihat, sesekali berdiskusi, lalu kembali ke kertas masing-masing.
Yang dirayakan bukan hasil akhir, tetapi proses.
Dalam dunia seni rupa yang sering terjebak pada legitimasi—galeri, kurator, pasar—praktik ini terasa seperti pembebasan kecil. Sketsa kembali ke bentuk dasarnya: langsung, spontan, tanpa pretensi berlebihan.
Namun di balik kesederhanaannya, ada sesuatu yang jauh lebih penting sedang terjadi: pengarsipan.
Dalam sepuluh tahun terakhir, wajah Semarang berubah dengan cepat. Bangunan lama direnovasi atau hilang. Ruang publik berganti fungsi. Ritme kota mengalami pergeseran yang kadang nyaris tak terasa—sampai suatu hari, kita menyadari bahwa sesuatu telah lenyap.
Di titik inilah sketsa bekerja sebagai arsip alternatif.
Ia mungkin tidak presisi secara arsitektural. Tapi justru karena itu, ia menyimpan sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh kamera atau data: suasana. Rasa. Atmosfer.
Sebuah sketsa dari Tugu Muda pada sore hari tidak hanya menunjukkan monumen itu. Ia juga merekam cahaya yang jatuh miring, kendaraan yang melintas, dan mungkin—perasaan si penggambar saat itu.
Jika dikumpulkan, ratusan bahkan ribuan sketsa yang dihasilkan selama satu dekade membentuk sebuah arsip yang unik: arsip rasa kota.
Bukan arsip resmi. Tapi justru karena itu, ia lebih hidup.
Tahun 2016 menjadi salah satu momen penting, ketika Semarang Sketchwalk menggelar International Semarang Sketchwalk.
Ratusan sketser dari berbagai negara datang, berjalan, dan menggambar bersama. Kota ini, untuk sesaat, menjadi panggung global—tanpa kehilangan kesederhanaannya.
Di sana, sketsa bekerja sebagai bahasa yang melampaui batas.
Tidak semua peserta berbicara dalam bahasa yang sama. Tapi ketika mereka duduk dan menggambar objek yang sama, ada kesepahaman yang muncul—bahwa melihat adalah pengalaman universal, dan menggambar adalah cara untuk membagikannya.
Semarang, pada titik itu, tidak hanya menjadi objek. Ia menjadi pertemuan.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah semua ini cukup untuk menyebut Semarang sebagai “Ibu Kota Sketsa”?
Mungkin jawabannya tidak perlu dicari dalam legitimasi formal.
Tidak ada kementerian yang akan mengesahkan gelar itu. Tidak ada sertifikat yang bisa dipajang. Tapi dalam praktik sehari-hari, dalam konsistensi yang nyaris tanpa jeda, dalam ribuan garis yang terus ditarik selama sepuluh tahun—sebutan itu menemukan maknanya sendiri.
Ia bukan klaim. Ia adalah konsekuensi.
Kota ini digambar. Berulang kali. Oleh banyak orang. Dengan cara yang berbeda-beda. Dan itu berlangsung terus-menerus.
Bukankah itu cukup?
Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk melihat siapa yang bertahan dan siapa yang hilang. Banyak komunitas lahir dengan semangat tinggi, lalu meredup ketika energi awal habis. Tapi Semarang Sketchwalk memilih jalan yang berbeda: tidak spektakuler, tapi konsisten.
Pertemuan rutin. Langkah kecil. Aktivitas yang diulang.
Dalam dunia yang semakin cepat—di mana segala sesuatu harus viral, harus terlihat, harus segera diakui—pilihan ini terasa hampir subversif. Ia menolak tergesa. Ia memilih untuk pelan.
Dan justru di situlah kekuatannya.
Ke depan, tantangannya bukan lagi bagaimana bertahan, tetapi bagaimana merawat.
Arsip yang sudah terbentuk perlu dipikirkan: apakah akan tetap tersebar di buku-buku sketsa pribadi, atau mulai dikumpulkan sebagai memori kolektif?
Di sisi lain, era digital juga membawa perubahan cara melihat. Generasi baru mungkin lebih akrab dengan layar daripada kertas. Tapi justru di tengah itu, sketsa menawarkan sesuatu yang tidak tergantikan: sentuhan langsung antara tangan dan waktu.
Mungkin masa depan Semarang Sketchwalk tidak harus berubah drastis. Ia hanya perlu terus berjalan—secara harfiah.
Selama masih ada orang yang mau berhenti sejenak di tengah kota, membuka buku, lalu menarik garis pertama, gerakan ini akan tetap hidup.
Pada akhirnya, “Semarang, Ibu Kota Sketsa” bukanlah tentang gelar. Ia adalah tentang cara melihat.
Tentang keberanian untuk memperlambat langkah di kota yang terus berlari. Tentang kesediaan untuk duduk di trotoar, mengamati hal-hal yang dianggap sepele. Tentang keyakinan bahwa setiap sudut kota—betapapun biasa—layak untuk digambar.
Dan mungkin, di situlah inti dari semuanya: Kota yang digambar adalah kota yang diingat.
Kota yang diingat adalah kota yang hidup.
Di tangan para sketser itu, Semarang tidak pernah benar-benar selesai. Ia selalu dalam proses—selalu menjadi, selalu digambar ulang. (*)




