Semarang Sketchwalk, Tumbuh Bersama di Jagad Seni (Sketsa) Rupa

Foto bersama dengan nara sumber perupa Klowor Waldiyono, Nanang Wijaya, Rudi Hartanto dan Donny Hendro Wibowo pada acara penutupan Pameran Semarang dalam Gambar dalam rangka HUT SSW ke- 7 di TAN ARTSPACE, Semarang, Minggu 26 Juni 2022 (Foto: Christian Heru Cahyo Saputro)

Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro *)

“One sketch on a moment“ jargon yang diugemi para pesketsa kota Semarang berhasil melahirkan komunitas Semarang Skechwalk (SSW). Kini SSW merupakan salah satu komunitas pesketsa terbesar di Indonesia.

SSW lahir 7 tahun lalu tepatnya 20 Juni 2015. SSW diresmikan pendiriannya oleh istri Walikota Semarang Tia Hendi di Taman Srigunting, Kota Lama, Semarang. Tujuh tahun Semarang Sketchwalk (SSW) berkiprah menancapkan eksistensi di dunia seni rupa. Kiprah SSW diakui salah satunya oleh Zamrud Setya Negara dari Galeri Nasional Indonesia Jakarta, ketika menggelar hajat pameran di Semarang.

Donny HW memberikan materi media cat air mix acrilyc di atas Canvas ( Foto: Christian Saputro)

Ketua SSW Ratna Sawitri berkisah komunitas SSW berawal dari kumpulnya beberapa sketser Semarang pada tahu 2015 yang sering melakukan kegiatan nyeket bareng mendokumentasikan beberapa lokasi heritage warisan sejarah dan budaya di Kota Semarang.

Tujuh tahun sudah bergulat bersama, srawung dan nyeket bareng, dan tumbuh bersama. Sebuah rentang waktu yang cukup lumayan lama. Apalagi dengan memikul beban menjaga kebersamaan dan konsistensi dalam berkarya.

Ratna Sawitri, lebih lanjut, membabar kisah sejarah Semarang Sketchwalk. SSW berdiri diawali dengan perbincangan LK Bung (Sketser Surabaya), Heti Palestina (Penulis dan Pemerhati Seni dari Surabaya) , Yudi Prasinto (Ketua ArsiSKETur), Tatas Sehono, Harry Suryo, Mick Lo, Yudi Mahaswanto, Sugiarto (Ketua IAI Jateng) . Dari perbincangan ini kemudian tercetus untuk menggelar event International Semarang Sketchwalk (ISSW)..

Pesketsa Rudia Hartanto menyampaikan materi sketsa di atas kertas ( Foto : Christian Saputro)

“Maka pada tanggal 20 Juni 2015, komunitas SSW diresmikan oleh ibu Tia Hendi. Pada saat pembentukan komunitas SSW, saya (Ratna Sawitri) juga Krisna Wariyan, dan beberapa sketser lain hadir,” beber Ratna Sawitri.

Kemudian pada tahun 2016, lanjut Ratna, SSW menggelar hajat International Semarang Sketchwalk (ISSW) yang diikuti oleh 9 negara dengan total peserta 400 orang.

Yang menjadi Ketua SSW Bapak Martha (almarhum). Sedangkan yang menjadi Ketua Penyelenggara Ketua event ISSW Yudi Mahaswanto. “Saya waktu itu mendapat tugas sebagai bendahara sekaligus koordinator acara,” imbuh Ratna.

Pelukis Klowor Waldiyono memberi materi melukis dengan media pastel di atas kertas. (foto : Christian Saputro)

Kemudian pada tahun 2018, Ketua SSW dijabat Tatas Sehono hingga akhir 2018. “Pada saat pemilihan pada akhir 2018, saya terpilih mendapat amanah menjadi Ketua SSW hingga sekarang,” jelas Ratna.

Kiprah Semarang Sketchwalk

Komunitas SSW punya agenda kegiatan rutin tiap bulan pada tiap minggu ke- 3 menggelar nyeket bareng dilokasi yang ditentukan. Kegiatan SSW yang dikenal dengan on the spot (OTS) ini terus berjalan, lokasinya taka hanya di Kota Semarang tetapi juga ke beberapa kota lainnya. Kegiatan OTS ini bahkan terkadang diramaikan dengan kehadiran tamu sketser dari kota-kota lain yang ikut gabung antara lain; dari Bandung, Jakarta dan Jogjakarta,

Baca Juga :  Ngobrol Gayeng Seni Rupa Bersama Masdibyo di Monod Dieephuis Semarang

Sedangkan untuk kegiatan pameran SSW beberapa kali menggelar pameran bersama di Galeri Semarang, Gedung Rasa Dharma, DP Mall, Monod Huis pada event Bienal Jateng.

Pelukis Nanang Wijaya memberikan materi melukis dengan media Cat Air di Atas Canvas ( Foto : Christian Saputro)

Di samping itu juga, SSW juga ikut serta dalam kegiatan beberapa event sket antara lain; di Asialink Sketchwalk Bangkok dan Khucing. Sedangkan untuk event dalam negeri mengikuti event “101 travelsketch” di beberapa kota besar seperti jakarta, Malang, Bandung dan Jogjakarta. Juga ikut berpartisdipasi dalam event sketsa yang digelar oleh komunitas ArsiSKETur. Pada tahun 2019 SSW mendapat kesempatan berpameran di Galeri Nasional Jakarta dalam acara bertajuk: “Sketsaforia”.

Geliat SSW di Masa Pandemi

Ratna Sawitri menambahkan Semarang Sketchwalk di masa pandemi justru menggelar event rutin bertajuk: “Arisan Exhibition The Series”. Menurut Ratna Sawitri event ini untuk memantik semangat dan memberi kesempatan anggota aktif SSW untuk digenjot menggelar pameran tunggal dengan durasi masa pamer 2 minggu.

Nama arisan dipetik, lanjut Ratna, karena dalam menentukan urutan pameran menggunakan sistem diundi seperti orang saat arisan. Pameran “Arisan Exhibition The Series” ini sudah berlangsung setahun lebih.

Di jeda kegiatan pameran tunggal itu digelar artis talk (diskusi seni) dan juga. Selain itu, SSW juga pernah berkolaborasi dengan komunitas fotografi Insta Nusantara dan Tutik Konde.

“Tujuan kegiatan ini agar dalam masa pandemi kita semua tetap selalu bergerak dan semangat berkarya. Sedangkan kegiatan OTS juga tetap berlangsung,” ujar Ratna.

Untuk pameran “Arisan Exhibition the Series” yang bekerjasama dengan TAN Artspace yang dikomandani Dony Hendro Wibowo sudah berlangsung 12 kali. Para perupa anggota Semarang Sketchwalk yang sudah tampil berpameran yaitu; Dessaf, Emmerita, Djoko Susilo, Nanang Widjaya, Tiyok Black, , Harry Suryo, Tatas Sehono, Hartono, Rudi Hartanto, Aryo Sunaryo, Budi Sudarwanto, juga menampilkan perupa 2 perupa tamu yaitu; Sukriyadi Sukartoen dan Klowor Waldiyono (Jogjakarta)

Ratna menambahkan Semarang Sketchwalk pada tahun 2020 juga pernah melakukan kegiatan Charity Exhibitition “Berbagi Cinta” . Pada event itu hasil penjualan karya anggota SSW didonasikan 50 persen, bahkan lebih untuk warga Semarang yang terdampak covid 19. Pada waktu itu SSW bersama Komunitas Pit Lempit, Garasi Pit dan Sinar Sepeda berkolaborasi. “SSW membuat sketsa tentang Semarang di body sepeda. Yang kemudian sepeda tersebut diserahkan ke Walikota Hendrar Prihadi untuk dilelang. Kemudian hasil lelang diserahkan ke Baznas utk disalurkan,” imbuh Ratna.

Baca Juga :  Ngobrol Gayeng Seni Rupa Bersama Masdibyo di Monod Dieephuis Semarang

Semarang Sketchwalk sudah 7 tahun berkiprah mewarnai dunia Senirupa Kota Semarang. Ratna Sawitri, berharap ke depan, SSW menjadi lebih solid, selalu guyub. “Masih banyak agenda yang harus diejawantahkan. Salah satunya, keinginan membuat event internasional daring dan pameran internasional luring,” ujar Ratna

Uniknya anggota komunitas SSW ini dari yang berusia muda hingga lansia, dari anak-anak hinggga kakek, lintas agama juga lintas profesi dari ibu rumah tangga, pelajar, guru, pengacara, arsitek, dosen, penerbang, bahkan ada yang professor dan lainnya.

SSW menandai 7 Tahun perjalanannya dengan menaja pameran bertajuk : “Menggambar Semarang” di dua lokasi; Waroeng Kopi Alam di kawasn Pleburan dan TAN Artspace, kawasan Papandayan, Candi, Semarang. Pameran digelar dari 12 – 26 Juni 2022.

Ketua Pelaksana Hajat Arief Maulana menambahkan, kegiatan peringatan hari jadi SSW dimarakkan dengan berbagai event, yaitu, pembukaan sekaligus pembukaan Pajang Karya Bersama da Sarasehan Seni bertempat di Waroeng kopi Alam (12/06), Tasyakuran dan Menggambar Bersama di Kota Lama (19/06) dan penutupan akan berlangsung di TAN Artspace (26/06).

Kegiatan pajang gambar, lajut Arief Maulana yang juga sekretaris SSW, memajang 48 karya pesketsa yaitu; di Waroeng Kopi Alam 26 Peseketsa terdiri dari; Adem, Harry Suryo, S.Hartono, Dony Hendro, Krishna Wariyan, Mona Palma, Djoko Susilo, Klowor Waldiyono, Budi Sudarwanto, Emmerita , Nandia Nanda, Ditya Naumila, Rudi Hartanto, Henny, Nanang Widjaya, Agus Budi Santoso dan Ratna Sawitri. Sedangkan di TAN Artspace terdiri dari 22 pesketsa;. Tatas Sehono, Arief Maulana, Broto Hastono, Ade Guntur, Irene Indriasari, Cyndo, Riva, Tania, Hana, Tiyok Kustiono, Agung Dwi, Dessaf, Bambang Is Wirya, Rudy Murdock, Gunawan Wibisono , Mbah Gagoek, Chandra Capung, Franky Jo, Dhani William, Mike Lo, Levina dan Aryo Sunaryo.

Sarasehan Seni

Sarasehan yang menghadirkan pengamat seni rupa sekaligus pemilik Semarang Chris Dharmawan dan pengamat Lingkungan dan Heritage Widya Widjajanti dimoderatori Rudi Murdock berlangsung dengan gayeng.

Baca Juga :  Ngobrol Gayeng Seni Rupa Bersama Masdibyo di Monod Dieephuis Semarang

Chris Dharmawan mengatakan, menurut oengamatannya selama tujuh tahun perjalanan Semarang Sketchwalk bertumbuh signifikan. Disebutkannya, kalau karya-karya beberapa individu sudah punya bentuk ucap yang khas. “Saya amati beberapa anggota karya-karyanya sudah memiliki karakter dan kekuatan sebagai sebuah karya sketsa,” tandas Chris Dharmawan.

Menurut Chris Dharmawan, karya sketsa kalau digarap dengan serius dan berkarakrer juga tak kalah dengan karya lukisan. Dicontohkan, beberapa perupa Indonesia yang kuat goresan sketsanya antara lain; Ipe Ma;ruf, Sri Hadi Soedarsono , Nyoman Nuarta dan banyak lagi. “Sketsa mereka kuat dan dakui sebagai karya fine art juga. Untuk itu, ke depan para pesketsa SSW bisa melakukan pendalaman dalam karya sketsanya,” imbuh Chris Dharmawan.

Sementara itu, Widya Widjajanti, mengatakan, kehadiran komunitas Semarang Sketwalk patut diapresiasi. Pasalnya, komunitas SSW ini selain travelling memperkenalkan sudut-sudut Kota Semrang yang kaya dengan warisan sejarah dan budaya juga mendokumentasikan tempat-tempat yang jadi memori kolektif banyak orang.

“Saya paling terdepan mengapresiasi keberadaan SSW. Semoga ke depan SSW makin bertumbuhkembang tetap konsisten kiprahnya membukukan sejarah kota yang terkadang diabaikan orang bahkan oleh kalangan yang berkompeten,” pungkas Widya Widjayanti.

Pada Tasyakuran di Oudetrap, Kota Lama, Semarang digelar nyeket bersama terpanjang di kawasan Kota Lama, Semarang dengan peserta anggota SSW dan komunitas dari dalam dan luar kota Semarang.

Pada acara penutupan di Tan Artspace, Semarang, 26 Juni 2022 dige;ar acara workshop yang menghadirkan pelukis dari Yogyakarta Klowor Wardiyono dan Nanang Wijaya serta Rudi Hartanto serta Donny Hendro Wibowo. Workshop berlangsung dengan gayeng dan meriah.

Semarang Sketchwalk, tujuh tahun sudah berkiprah. Srawung guyub, gayeng berkarya dan tumbuh bersama di jagad seni (sketsa) rupa. Bersama mengabadikan dunia dengan sketsa. Membukukan kenangan.Membukukan sejarah.

*) Christian Heru Cahyo Saputro, jurnalis, fotografer, penggiat Heritage anggota Pansumnet, pernah ikut berpameran di Plaza Kemedikbud, Jakarta 2013 , Bienalle Sumatera #3 di Jambi dan Pameran Bersama Maetro Seni Rupa Indonesia di Taman Budaya Lampung 2017. Pada Tahun 2022 ikut pameran bersama dengan IDM bertajuk : HENING di Monod Huis, Kota Lama, Semarang. Kini hijrah tetap menulis dan bermukim di Tembalang, Semarang.