Yogyakarta — Ruang seni kembali bergeliat. Pameran kelompok bertajuk “Art is All Around 2” yang menjadi bagian dari DGTMB Versus Project #31 akan resmi dibuka pada Selasa, 31 Maret 2026, pukul 19.00–21.00 WIB di Institut Français d’Indonésie (IFI) Yogyakarta.
Pameran ini menghadirkan puluhan seniman lintas medium dan generasi, menegaskan bahwa seni tidak lagi terbatas pada ruang galeri semata, melainkan hadir dalam keseharian, merembes ke ruang publik, bahkan ke ranah digital dan sosial.
Pembukaan acara akan diresmikan oleh Direktur IFI Yogyakarta, Margaux Nemmouchi, bersama perupa sekaligus kurator Versus Project, Eko Nugroho. Kehadiran keduanya menjadi penanda penting kolaborasi antara institusi budaya internasional dan ekosistem seni lokal yang terus berkembang di Yogyakarta.
Suasana pembukaan akan semakin hidup dengan penampilan musik dari Metzdub, yang menghadirkan nuansa eksperimental sebagai pengiring dialog antar karya.
Lebih dari sekadar pameran, “Art is All Around 2” menjadi ruang pertemuan gagasan. Nama-nama seniman yang terlibat mencerminkan keberagaman pendekatan artistik, mulai dari praktik visual kontemporer, ilustrasi, seni urban, hingga eksplorasi medium baru.
Selain nama-nama yang telah dikenal seperti Bama Suprobojati, Beng Rahadian, Catur Setyawan, Christina Flora, Dimas Marjuki, Edi Bonetski, Farah Diana Amelia, Gesang, dan Gloria Pearl, pameran ini juga menghadirkan deretan seniman lain dari berbagai latar, di antaranya Oky Tisna, Omar, Opuscula, Phaksi KD, Piranti, Popomangun, Qaddafa Dylan AF, Qaireen, R.Force, Raj, Rani AW, Ratri IB, Regedaily, Roedy Winarno, Rool Rama, Ryu Marcello Sie, Salsabila Nadhif F, Satria Pandu Wibawa, Sheila RD, Storymorpha, Syathra Alif, hingga nama-nama seperti Yoseph Novi C, Yoyok Barokalloh, dan Yulaikha Eka Putri.
Tak hanya itu, sejumlah kolektif dan pendekatan eksperimental juga turut ambil bagian, seperti Binatang Approach, Bujangan Urban, serta Wayang Bocor, memperlihatkan bagaimana seni bergerak sebagai praktik kolektif yang cair dan terbuka.
Kurasi yang digagas dalam proyek ini mencoba menangkap denyut keseharian: bagaimana isu sosial, identitas, lingkungan, hingga dinamika kota diterjemahkan menjadi karya visual. Tema “Art is All Around” sendiri menegaskan bahwa seni bukan sesuatu yang jauh dan eksklusif, melainkan dekat, akrab, dan hadir dalam pengalaman sehari-hari.
Pameran ini akan berlangsung hingga 30 April 2026 dan terbuka untuk umum tanpa biaya masuk. Pengunjung dapat menikmati karya-karya yang dipamerkan setiap Senin hingga Sabtu, pukul 09.00–19.00 WIB.
Didukung oleh berbagai pihak, termasuk Studio Eko Nugroho, Till Drop, Porta, serta dukungan individu seperti Thalia Halim, Theresia Purna, Vivi Jonathan, Wanto Susilo Rahayu, Weda, Wimal, Yasmin Salim, dan lainnya, pameran ini diharapkan menjadi salah satu titik temu penting bagi pelaku dan penikmat seni di Yogyakarta.
Di tengah dinamika zaman yang serba cepat, “Art is All Around 2” seolah mengingatkan kembali: seni tidak pernah benar-benar jauh. Ia selalu ada—di sekitar kita, di antara kita, dan kadang, di dalam diri kita sendiri. (Christian Saputro)




