Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro,Jurnalis – Pemerhati Seni Rupa tinggal di Semarang.
Di sebuah ruang galeri yang tenang di Semarang, lukisan-lukisan tergantung rapi di dinding putih. Warna-warna berkelindan: biru yang murung, merah yang menyala, garis-garis yang seperti menyimpan cerita panjang dari tangan seorang perupa. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa hilang—sebuah gema yang dulu pernah hidup di ruang-ruang pameran seni: kritik.
“Kalau soal berharap kritik seni di Semarang? Boro-boro di Semarang, Mas,” kata Chris Dharmavan, seorang pemilik ruang seni di kota ini, suatu malam menjelang pembukaan pameran. Kalimatnya ringan, bahkan terdengar seperti bercanda. Tetapi di dalamnya tersimpan keprihatinan yang panjang.
Menurutnya, yang hilang bukan hanya kritik seni di Semarang, melainkan di hampir seluruh medan seni rupa di Indonesia.
Dalam sejarah seni rupa modern, kritik seni pernah menjadi denyut penting. Ia bukan sekadar komentar, melainkan ruang dialektika. Kritik adalah percakapan—kadang keras, kadang penuh perdebatan—yang membuat karya seni tidak berhenti pada kanvas, tetapi bergerak dalam pemikiran publik.
Dulu, setelah sebuah pameran dibuka, tulisan-tulisan panjang muncul di media. Kritikus menafsirkan karya, mengaitkannya dengan sejarah, bahkan mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh perupanya sendiri.
Hari ini, pemandangan itu semakin jarang.
Media massa semakin sedikit memberi ruang bagi kritik seni. Banyak rubrik budaya menghilang. Sebagian yang tersisa lebih memilih menulis laporan pameran daripada ulasan kritis. Akibatnya, pameran seni sering berhenti sebagai peristiwa sosial: pembukaan yang ramai, foto-foto dokumentasi, lalu selesai.
“Barangkali memang sudah tidak diperlukan lagi,” kata Chris, setengah bertanya.
Ia merujuk pada perubahan besar dalam seni rupa kontemporer. Di dunia seni yang semakin plural, hampir semua bentuk ekspresi diterima. Lukisan, instalasi, video art, performans—semuanya memiliki tempat. Dalam situasi seperti itu, batas antara “baik” dan “buruk” sering menjadi kabur.
Seni menjadi otonom.
Dan ketika semua dihargai, kritik sering dianggap tidak lagi relevan.
Namun ketiadaan kritik menyisakan ruang kosong lain: ekosistem yang rapuh.
Dalam percakapan tentang seni rupa, sering disebut istilah “ekosistem seni”. Ia mencakup banyak unsur: seniman, kurator, galeri, kolektor, akademisi, kritikus, media, hingga publik. Semua unsur itu saling terkait, seperti jaringan akar yang menjaga sebuah pohon tetap hidup.
Jika satu unsur hilang, keseimbangan bisa terganggu.
Chris melihat persoalan ini tidak hanya terjadi di Semarang. Kota-kota lain di Indonesia menghadapi situasi yang serupa.
“Ekosistem seni rupa memang sedang tidak baik-baik saja,” katanya. “Bukan hanya di Semarang. Di kota lain juga sami mawon.”
Kata sami mawon—bahasa Jawa untuk “sama saja”—diucapkannya dengan nada getir.
Semarang sendiri sebenarnya memiliki sejarah seni rupa yang cukup panjang. Kota ini pernah menjadi ruang penting bagi perupa-perupa yang mencari jalannya sendiri di luar pusat seni seperti Yogyakarta atau Jakarta. Beberapa komunitas pernah tumbuh, pameran pernah ramai, diskusi pernah hidup.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, energi itu terasa menurun.
Pameran tetap ada. Seniman tetap berkarya. Tetapi percakapan di sekelilingnya semakin tipis.
Di tengah situasi itu, sebuah pameran kembali digelar. Sehari sebelum pembukaan, Chris merencanakan sesuatu yang sederhana: sebuah bincang seni.
“Besok sebelum pembukaan pameran ada art talk,” katanya. “Datang ya, Mas. Ajak teman-teman senirupa Semarang,” suatu kali sehari sebelum galerinya menggelar pameran SDI Yogyakarta.
Bincang seni sebenarnya bukan hal baru. Dalam banyak pameran, ia menjadi ruang pertemuan antara seniman, kurator, dan publik. Di sana karya tidak hanya dilihat, tetapi juga dibicarakan.
Namun di Semarang, bahkan perbincangan seperti ini sering sepi.
“Sekalian kita tes,” kata Chris sambil tersenyum, “seberapa jauh mereka masih tertarik pada perbincangan seni rupa di sela-sela pameran.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan sebuah eksperimen kecil: mengukur denyut kehidupan seni di kota ini.
Apakah masih ada orang yang ingin datang bukan hanya untuk melihat karya, tetapi juga untuk mendiskusikannya?
Malam pembukaan pameran biasanya penuh dengan percakapan ringan. Orang datang, bersalaman, berfoto, lalu berjalan mengitari karya. Kadang ada musik, kadang ada minuman kecil. Suasana terasa seperti perayaan.
Tetapi seni sebenarnya lahir dari sesuatu yang lebih dalam: kegelisahan, pertanyaan, bahkan pertentangan.
Kritik seni pernah menjadi ruang untuk semua itu.
Tanpa kritik, seni berisiko menjadi sekadar dekorasi. Ia hadir, tetapi tidak benar-benar dibicarakan. Ia dilihat, tetapi tidak benar-benar dipikirkan.
Mungkin itulah yang membuat Chris masih berharap pada ruang-ruang kecil seperti bincang seni.
Karena di sanalah percakapan bisa dimulai kembali.
Seni rupa tidak pernah hidup hanya dari karya. Ia juga hidup dari dialog.
Di kota seperti Semarang, dialog itu mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk tulisan kritik panjang di media nasional. Kadang ia muncul dari diskusi kecil di ruang galeri, dari perdebatan hangat di sudut kafe, atau dari obrolan panjang setelah sebuah pameran selesai.
Barangkali masa kritik seni yang besar memang telah lewat. Tetapi percakapan tentang seni tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya menunggu ruang untuk lahir kembali.
Dan mungkin, seperti yang sedang dicoba oleh Chris Dharmavan di Semarang Galeri miliknya di Semarang, percakapan itu bisa dimulai dari hal yang sederhana: duduk bersama, melihat karya, lalu bertanya—
Apakah seni masih bisa kita bicarakan? What, Next? (*)




