Aroma nasi hangat bercampur rempah memenuhi ruang Gedung Rasa Dharma di kawasan Pecinan Semarang, Minggu siang, 8 Maret 2026. Di meja panjang yang dipenuhi pengurus BHT, sebuah hidangan dengan warna tak biasa menarik perhatian: nasi berwarna biru lembut, tersaji bersama beragam lauk. Itulah nasi ulam bunga telang, hidangan yang diolah oleh POSIN Bakery & Café untuk makan siang syukuran 150 tahun Boen Hian Tong.
Warnanya tenang—biru pucat seperti langit setelah hujan. Warna itu bukan dari pewarna buatan, melainkan dari bunga telang yang direbus bersama nasi. Dalam banyak tradisi Asia, bunga ini dikenal sebagai simbol kedamaian dan keseimbangan. Di meja perayaan ini, warna biru itu seolah membawa pesan sederhana: harmoni.
Di sekeliling nasi, lauk-lauk kecil tersusun rapi seperti lingkaran cerita. Ada sambal goreng ati yang merah mengilap, telur rebus yang sederhana namun akrab, gereh yang asin menggoda, ayam bumbu rujak yang harum rempah, sayuran segar, irisan wortel, sambal matah yang pedas wangi, serta serundeng kelapa yang renyah.
Setiap lauk memiliki karakter sendiri. Pedas, asin, manis, gurih, segar, dan kriuk—semuanya hadir berdampingan.
Namun nasi ulam tidak pernah dimaksudkan untuk dimakan satu per satu.
Tradisi menyantapnya justru sederhana: semua lauk dicampur bersama nasi. Semuabtabganbbergerak perlahan. Nasi biru itu bercampur dengan sambal, ayam, serundeng, dan sayuran. Warna-warna yang tadinya terpisah mulai menyatu—biru, merah, cokelat, dan kuning berpadu menjadi satu adonan baru.
Aromanya berubah: lebih hangat, lebih kaya.
Setiap suapan menghadirkan rasa berbeda. Kadang pedas sambal matah muncul lebih dulu, lalu disusul gurih ayam bumbu rujak. Kadang asin gereh yang terasa dominan, sebelum manis serundeng menyusul. Tidak ada suapan yang benar-benar sama.
Di tengah perayaan panjang sejarah Boen Hian Tong—organisasi sosial yang telah hidup lebih dari satu setengah abad—hidangan ini terasa seperti metafora kecil. Beragam rasa, beragam unsur, tetapi ketika disatukan justru menciptakan kekuatan baru.
Di meja makan siang itu, orang-orang berbincang santai. Ada yang datang dari komunitas Tionghoa Semarang, ada pula sahabat-sahabat komunitas. Tawa, cerita, dan kenangan tentang perjalanan panjang organisasi itu mengalir di antara piring-piring nasi.
Sebelum hidangan disantap, sebuah momen kecil terjadi di ujung meja panjang. Di atas tampah besar tersaji gunungan nasi biru yang dikelilingi aneka lauk-pauk. Setelah doa syukur dilangitkan, para pengurus Boen Hian Tong bersama-sama mengaduk nasi dan lauk itu hingga menyatu. Gerakan sederhana itu seperti ritual kebersamaan—menggabungkan berbagai rasa dalam satu wadah.
Setelah tercampur rata, nasi ulam itu kemudian disendok ke piring-piring dan dibagikan kepada para pengurus dan tamu yang telah menunggu.
Dalam budaya Nusantara, makanan memang lebih dari sekadar perkara kenyang. Ia adalah ruang perjumpaan—tempat orang-orang dari latar belakang berbeda duduk bersama dan berbagi rasa yang sama.
Maka sepiring nasi biru siang itu bukan sekadar hidangan. Ia menjadi simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar: kebersamaan.
Di akhir makan, yang tersisa bukan hanya rasa gurih di lidah. Ada pula kehangatan yang tinggal lebih lama—seperti pesan sunyi dari sepiring nasi bunga telang: bahwa harmoni sering lahir dari perbedaan yang bersedia duduk di meja yang sama. (Christian Saputro)




