“Sirah Tembikar” Kumpulan Puisi Penyair Ahmad Yulden Erwin Siap Terbit

Buku kumpulan puisi bertajuk : “Sirah Tembikar” karya penyair Lampung almarhum Ahmad Yulden Erwin

Bandarlampung – Buku kumpulan puisi bertajuk : “Sirah Tembikar” karya penyair Lampung almarhum Ahmad Yulden Erwin bakal segera bisa dinikmati para pembaca.

Menurut Udo Z Karsi dari Penerbit Pustaka LaBRAK buku Ahmad Yulden Erwin bertajuk : “ Sirah Tembikar” siap naik cetak. Buku sekira 230 halaman tebalnya ini dieditori Iwan Nurdaya-Djafar. Buku ini diterbitkan atas kerjabareng dengan Akademi Lampung.

“Menjadi harapan kita bersama, semoga kehadiran buku puisi ini dapat semakin memperkaya khazanah sastra Indonesia,” imbuh Udo Z Karzi.

Buku “Sirah Tembikar” ini merupakan kumpulan puisi yang ditulis oleh Ahmad Yulden Erwin dalam titi mangsa delapan tahun (2013-2021). Kumpulan puisi ini memuat seratus puisi yang terinspirasi dari karya-karya para seniman keramik dunia dari berbagai negara.

Lebih lanjut, Udo Z Karzi, membabarkan sekira sembilan tahunan AYE sapaan akrab penyair yang juga pernah menjadi penggiat Komite Anti Korupsi ini telah melakukan riset pustaka secara intensif tentang seni keramik dunia, mulai dari gaya mingei (seni orang biasa) di Jepang, gaya devon di Inggris, gaya dieombongi dan moon jar di Korea, gaya porselen jangdizen di Cina, hingga gaya ekspresionisme abstrak dari Peter Voulkos di Amerika Serikat.

Baca Juga :  DAAL Siap Gelar Workshop Penciptaan Tari & Musik Bertajuk LAPAH

“Semua itu dilakukannya agar ia dapat mengetahui dan merasakan secara langsung hakikat seni keramik kontemporer dunia. Setelah itu, pada tahun 2013, barulah ia menuliskan puisi-puisinya tentang seni keramik kontemporer. AYE mencoba menafsirkan bentuk dan lanskap pada dinding cawan, bejana, pasu bunga, atau patung keramik yang dilihatnya dengan menggunakan prinsip fudoshin, pikiran yang mengalir bebas, di dalam spiritualitas Zen. Seperti Matsuo Basho, penyair haiku abad pertengahan dari Jepang, AYE mencoba “merasakan” objek-objek seni keramik kontemporer yang dilihatnya, “masuk” ke dalamnya, dan membiarkan energi di dalam setiap objek seni keramik itu berkata-kata,” terang founder Pustaka LaBRAK Bandarlampung.

Baca Juga :  Mozaik Perang Kembang, Kecamuk Perang Batin di Panggung Kehidupan

Sementara itu, Ketua Akademi Lampung, Anshori Djausal utan Akademi Lampung sangat mengapresiasi diterbitkannya buku kumpulan puisi ini. Ahmad Yulden Erwin dikenal sebagai penyair berbakat yang kuat. Tak kurang daripada majalah Tempo merekomendasikan kumpulan puisinya “Perawi Rempah” sebagai buku puisi terbaik tahun 2013.

Selama masa sakitnya yang panjang, lanjut Anshori, dengan intens AYE terus menulis puisi di samping berbagi pengetahuannya melalui Facebook dan membuka kelas puisi secara daring bagi para penyair muda hingga ajal menjemputnya dalam usia belum genap 50 tahun pada 13 Februari 2022.

“Berpulangnya mendiang AYE bukan semata meninggalkan istri tercintanya Listawati Intan dan kedua putri tersayangnya Adenita dan Ananda, tapi juga sejumlah manuskrip puisi di antaranya Sirah Tembikar yang terbit secara anumerta ini,” terang Anshori.

Akademi Lampung yang di dalamnya AYE adalah satu di antara tujuh anggotanya terpanggil untuk menerbitkan kumpulan seratus puisinya perihal tembikar yang dilengkapi dengan ars poetica (konsepsi tentang puisi) di bawah judul “Presensionisme dalam Seni Keramik dan Puisi” serta glosaria yang menjelaskan tentang para seniman keramik yang muncul dalam puisi-puisinya dan istilah-istilah, diksi, serta frasa yang terpakai.

Baca Juga :  Mozaik Perang Kembang, Kecamuk Perang Batin di Panggung Kehidupan

Terimakasih dihaturkan kepada ibu Listawati Intan serta putrinya Adenita dan Ananda yang sudah mengizinkan Akademi Lampung untuk menerbitkan kumpulan puisi almarhum suami dan ayah mereka, yang justru dibuka dengan puisi bertajuk “Masih Hidup”–diawali dua larik berikut: Kematian kecil ini/Lengkung langit petang. Kini, Ahmad Yulden Erwin sudah tiba pada situasi batas (chiffer) mutlak–dalam konsep filsafat eksistensi Karl Jaspers yang juga disinggung dalam ars poetica-nya—yang membawanya “ke balik malam” memasuki alam keabadian.

“Bagaimanapun juga, bak pepatah Yunani: ars longa vita brevis–hidup itu singkat, namun seni itu abadi. Selamat mengapresiasi,” pungkas bang Ans. (Christian Saputro)