Bandar Lampung – Deru kendaraan yang melintas di Jalan Imam Bonjol, Kemiling, menjadi latar suara saat ratusan kaum hawa berkumpul di sebuah halaman samping rumah untuk menyimak orasi kebangsaan. Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, Sulistiani, menggelar “rembuk” ideologi untuk memperkuat benteng pertahanan generasi muda dalam agenda Sosialisasi Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Kelurahan Sumberrejo, Minggu, (8/3/2026).
Politikus perempuan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini sengaja memilih suasana yang akrab dan merakyat untuk meracik strategi membentengi milenial dan Gen Z dari paparan radikalisme.
Di hadapan mayoritas ibu-ibu dan remaja putri, legislator yang akrab disapa Bunda Sulis ini menekankan bahwa perempuan memiliki peran sentral sebagai pendidik utama di tingkat keluarga.
“Saya mensuport, agar generasi muda, Gen-Milenial, Gen-Z, untuk senantiasa mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi agen perubahan positif di masyarakat,” ujar Sulistiani di tengah paparan yang antusias disimak peserta.
Bagi Sulistiani, menagih taji milenial bukan sekadar soal retorika di ruang formal, melainkan aksi nyata yang bermula dari lingkungan terkecil.
Ia meyakini bahwa kontribusi pemuda dalam mengamalkan Pancasila adalah fondasi krusial demi kemajuan dan kebaikan bangsa Indonesia ke depan.
Baca Juga: Komisi IV DPRD Bandar Lampung Evaluasi Pelaksanaan APBD 2025 Bersama OPD
Ia juga membedah cara praktis bagi pemuda untuk membumikan ideologi tanpa harus terasa kaku, yakni melalui keteladanan yang konsisten dalam pergaulan.
Dengan semangat gotong royong, ia yakin polarisasi yang kerap memecah belah dapat diredam sejak dari meja makan di rumah.
“Caranya, mengajak pemuda lain untuk ikut serta dalam mengamalkan Pancasila, menjadi contoh yang baik dan inspiratif bagi generasi muda. Dan berkontribusi untuk kemajuan Indonesia dengan semangat gotong royong dan kebersamaan,” tandas Sulistiani.
Melalui forum lesehan di halaman rumah ini, DPRD Kota Bandar Lampung berupaya memastikan bahwa wawasan kebangsaan tetap menjadi kompas bagi masyarakat.
Harapannya, “penawar” radikalisme yang diracik di pinggir Jalan Imam Bonjol ini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh secara ideologis di tengah arus disrupsi.
(*)




