Semarang — Diskusi seni bertajuk Artist Talk: Tirta – Ambang Alir digelar di Semarang Gallery, Sabtu (7/3) sore. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pameran seni rupa “Tirta: Ambang Alir” yang menampilkan karya 22 perupa dari Sanggar Dewata Indonesia (SDI) Yogyakarta.
Diskusi dimoderatori kurator dan pengamat seni Adhi Pandoyo dengan menghadirkan dua pembicara utama, yakni kurator sekaligus akademisi seni rupa Asmudjo J. Irianto serta perupa I Gusti Ngurah Udiantara yang akrab disapa Tantin.
Dalam paparannya, Asmudjo menjelaskan bahwa pameran ini lahir dari gagasan kolektif para anggota SDI yang memilih tirta—air suci dalam tradisi Bali—sebagai titik berangkat refleksi artistik. Bagi masyarakat Bali, air tidak sekadar unsur alam, melainkan juga medium spiritual yang menghubungkan manusia dengan kosmos.
“Dalam kebudayaan Bali, tirta adalah perantara antara tubuh, doa, dan alam semesta. Ia hadir dalam berbagai praktik ritual sekaligus kehidupan sehari-hari,” ujar Asmudjo.
Namun dalam pameran ini, kata dia, air tidak ditafsirkan secara tunggal. Para seniman mengekspresikannya melalui berbagai pendekatan visual yang beragam, mulai dari simbol-simbol tradisi, lanskap ekologis, hingga eksplorasi konsep yang lebih spekulatif.
Sebagian karya merekam perubahan lanskap Bali yang dipengaruhi pembangunan dan pariwisata, sementara yang lain melihat air sebagai metafora perubahan zaman. Ada pula karya yang memanfaatkan sifat air—mengalir, memantul, dan mengendap—sebagai cara berpikir visual dalam praktik seni.
“Pameran ini berada pada situasi yang bisa disebut sebagai pos-tradisi. Akar budaya tetap ada, tetapi arah alirannya tidak lagi tunggal,” jelasnya.
Sementara itu, Tantin menekankan bahwa keberadaan SDI Yogyakarta memiliki peran penting dalam perjalanan seni rupa kontemporer Indonesia. Komunitas ini sejak lama menjadi ruang pertemuan para perupa Bali yang merantau ke Yogyakarta untuk belajar dan berkarya.
Menurutnya, SDI bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi juga ruang dialog yang memungkinkan para seniman mengembangkan identitas budaya sekaligus merespons perkembangan seni global.
“SDI bukan hanya soal identitas Bali. Yang penting adalah bagaimana identitas itu berdialog dengan perkembangan seni rupa yang terus berubah,” kata Tantin.
Ia menambahkan, para perupa yang tergabung dalam komunitas tersebut mengolah tradisi sebagai sumber inspirasi tanpa sekadar mengulang bentuk-bentuk lama. Tradisi justru menjadi titik berangkat untuk menemukan bahasa visual baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Perupa senior Putu Sutawijaya yang turut hadir dalam diskusi tersebut menambahkan bahwa komunitas memiliki peran penting dalam menjaga semangat berkesenian. Menurutnya, perjalanan seorang seniman tidak pernah berdiri sendiri, melainkan tumbuh melalui perjumpaan dan percakapan dalam komunitas.
“Komunitas penting untuk menjaga semangat. Di sana pengetahuan dibagikan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujarnya.
Ketika menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Putu menemukan ruang kebersamaan itu di Sanggar Dewata Indonesia. Komunitas tersebut awalnya menjadi tempat berkumpul para perupa Bali yang belajar seni di Yogyakarta, namun kemudian berkembang menjadi ruang belajar bersama yang melampaui batas identitas kedaerahan.
Menurut Putu, keberadaan komunitas seperti SDI penting untuk menjaga kesinambungan pengetahuan seni. Melalui jejaring, diskusi, dan kerja kolektif, komunitas dapat memastikan bahwa semangat berkarya tidak terputus oleh waktu.
Hal serupa disampaikan perupa Sastra Wibawa yang melihat SDI sebagai ruang belajar yang hidup. Ia menilai keragaman latar belakang para anggota justru menjadi kekuatan komunitas tersebut.
“Di Sanggar Dewata orang datang dari banyak tempat. Pengaruhnya menjadi luas, dan itu pengaruh yang baik karena kita belajar bagaimana sesuatu yang kita bawa bisa berguna bagi banyak orang,” ujarnya.
Bagi Sastra Wibawa, komunitas seni bukan sekadar tempat berkarya, melainkan juga ruang dialog untuk memahami identitas dan perubahan zaman. Ia menilai nilai-nilai kebudayaan Bali tetap penting dibawa dalam praktik seni, namun tidak untuk dipertahankan secara kaku.
“Apa yang kita bawa dari Bali—cara berpikir dan cara menghargai kehidupan—itu penting, tetapi harus terus dibagikan dan dihidupkan dalam konteks masyarakat hari ini,” katanya.
Melalui pameran dan diskusi ini, publik diajak melihat bagaimana seni rupa kontemporer dapat menjadi ruang dialog antara tradisi, perubahan sosial, dan kesadaran ekologis.
Pameran “Tirta: Ambang Alir” sendiri menghadirkan berbagai medium karya, mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi. Beragam pendekatan artistik tersebut menunjukkan bagaimana gagasan tentang air terus mengalir dalam imajinasi para seniman—di antara ingatan tradisi dan dinamika zaman.
Kegiatan Artist Talk ini sekaligus memperkuat posisi pameran sebagai ruang percakapan terbuka antara seniman, kurator, dan publik seni di Semarang. (Christian Saputro)




