Tradisi Pesta Sekura di Bumi Sekala Brak Meninggalkan Catatan

Pesta Sekura ajang Silaturahmi di Bumi Sekala Brak ( Dok. Pri)

Oleh Mamak Lil Rajo Gamolan. *)

Pesta Sekura atau juga lazim disebut Sekuraan merupakan tradisi ajang silaturahmi masyarakat bumi Skela Brak Lampung Barat. Pesta Sekura biasanya dihelat uai melaksanakan ibadah wajib puasa bulan suci Ramadhan.

Pesta rakyat masyarakat Lampung Barat ini digelar saat momen merayakan hari raya Idul Fitri. Sekura atau topeng penutup wajah dipakai oleh orang orang untuk bersilaturahmi, berkunjung ke sanak saudara,saling bersalaman, saling memaaf kan antara seseorang dengan yang lainnya.

Mamak Lil Rajo Gamolan (Dok.Pri)

Konon tujuan awalnya dengan menutup wajah dengan topeng atau sekura akan hilang rasa canggung, minder dan malu sehingga silaturahmi bisa bebas dengan tetap menjunjung adab orang timur yang mengedepankan etika serta menghormati satu sama lainnya.

Tetapi seiring berjalannya, waktu kini yang terjadi adanya pergeseran nilai tradisi yang diusung. Sekuraan yang digelar terdegradasi makna dan kekhasan Sekura makin luntur.

Sekura Betik dan Sekura Kamak

Dalam helat pesta Sekura sendiri ada dua karakter topeng yaitu; Sekura Betik (Bagus) dan Sekura Kamak,( Jelek ).

Sekura Betik berperan sebagai seorang laki laki yang berkarakter sebagai orang kayan yang memamerkan kekayaan dan ketampanan. Sekura Betik ini memakai penutup wajah yang rupawan dengan menggunakan sarung atau selendang sekira 24 helai warna-warnai.

Baca Juga :  Gebyar Pameran “Ma[s]sa Bangkit” Siap Digelar di Museum Kebangkitan Nasional

Ini menunjukkan kalau yang memakai merupakan keturunan orang kaya yang memiliki banyak warisan yang bisa ditandai dengan simapanan kain orang tuanya yang banyak. Harapannya, sang gadis nantinya akan terpikat dengan ketampanan dan kekayaan pemakai topeng itu.. Sekura Betik juga bertugas mengawal saudara perempuan atay Nakbai-nya yang akan menyaksikan pesta Sekura itu.

Sekura Betik kedudukannya kalau dalam adat juga berperan sebagai pengawal Muli Batin dan Ratu yang akan menyaksikan helat pesta Sekura. Dalam Sekuraan itu Sekura Betik juga membawa pusaka pusaka sebagai simbul pengawalan dan keamanan pada saat berkeliling k kampung menyaksikan tradisi Sekuraan yang digelar setahun sekali.

Catatan Pesta Sekura 2022

Dalam gelaran Pesta Sekura 2022 yang baru dihelat dibeberapa pekon di Lampung Barat banyak pergeseran nilai-nilai tradisi. Degradasi yang tertjadi membuat makna tradisi Sekuraan menjadi tak elok lagi. Contohnya, peranan yang dilakukan para pelaku pesta Sekura sudah tidak lagi menjunjung tinggi dan menunjukan adab dan estetika masyarakat Sekala Brak.

Baca Juga :  Hartono Gelar Pameran Tunggal “Boeng, Ayo, Boeng” di Museum Jateng Ronggo Warsito

Beberapa pemeran Sekura Kamak, jelek atau kotor menunjukkan aksi yang seronok dengan memamerkan sebagian anggota tubuhnya yang tak pantas. Hal ini tentunya jelas keluar dari norma-norma dan kaidah sebagai seorang muslim. Apalagi masyarakat Sekala Brak dikenal sangat menjunjung tingi Fiil Pesenggikhi, semisal, khasa liom khasa ganggu dan lainnya.

Hal yang tak kalah penting , ketika pelaksanaan Pesta Sekura menimbulkan kenyamanan masyarakat, karena pelaksanaannya digelar di jalan raya lintas Lampung Barat sehingga menimbulkan kemacetan.

Ke depan tentunya stakeholder Polres Lambar< Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata dan yang lainnya harus bersama-sama memikirkan dampak kemacetan ini. Tentunya, Pesta Sekura bisa saja digelar di lapangan, atau di jalan desa, asalkan jalan di jalan lintas antar kota.

Mengusung Kearifan Lokal

Ke depan dalam helat Sekuraan ini ada juga yang perlu untuk mengusung hiburan yang berbasis kearifan local, baik music maupun permainan. Bukan justru menggelar hiburan musik organ tunggal dengan irama remix atau musik dangdut koplo.

Baca Juga :  Gebyar Pameran “Ma[s]sa Bangkit” Siap Digelar di Museum Kebangkitan Nasional

Harapannya, ke depan Sekuraan menjadi salah satu ikon budaya Bumi Sekala Brak, berlangsung elegan, tertib dan mengedukasi masyarakat. Pesta Sekura diharapkan juga menjadi sarana tranformasi dalam menyampaikan nilai-nilai Fiil Pesenggiri.

Para peserta yang menjadi pemeran Sekura Kamak, tak membuat gaduh dengan seenaknya menyabut tanaman yang ada disekitarnya untuk dijadikan properti. Kemudian pada akhir acara meninggalkan sampah yang berserakan.

Memang semestinya, warisan leluhur tradisi Sekuraan ini harus tetap bertumbuhkembang dan lestari. Tetapi tentunya tidak menimbulkan kemudoratan, tetapi manfaat bagi masyarakat bumi Sekala Brak. Pesta Sekura bisa dijadikan promosi pariwisata sekaligus mempunyai dampak ekonomi bagi masyarakat setempat, sekaligus menanamkan nilai-nilai keluhuran yang diwariskan nenek moyang.

Semua stake holder harus mengambil peran dalam menumbuhkembangkan dan melestarikan Sekuraan sesuai tugas, pokok dan fungsinya. Bergerak Bersama demi Bumi Sekala Brak . Mak kham sapa lagi. Mak tanno kapan lagi..

Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau tidak sekarang kapan lagi.

*) Praktisi Seni dan Ketua Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung