JAKARTA — Perayaan Hari Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) Tahun 2026 tidak hanya berlangsung meriah di Candi Borobudur, tetapi juga menghadirkan suasana khidmat di lingkungan permukiman ibu kota. Umat Buddha di Caitya Maha Gridjakuta (CMGK), Komplek City Resort, Cengkareng, Jakarta Barat, menggelar kirab keliling lingkungan yang menarik perhatian masyarakat sekitar.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Waisak yang tahun ini semakin semarak dengan hadirnya Thudong Walk for Peace 2026, perjalanan spiritual para bhikkhu sejauh 666 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur pada 9–28 Mei 2026. Bagi warga Jakarta yang tidak sempat menyaksikan langsung tradisi Thudong, kirab Waisak di CMGK menjadi pemandangan yang mengingatkan pada semangat perjalanan spiritual tersebut.
Kirab berlangsung mengelilingi kawasan perumahan City Resort dengan suasana tertib dan khidmat. Cuaca yang tidak terlalu terik mendukung jalannya prosesi. Meski berada di lingkungan yang berdekatan dengan jalan raya yang padat lalu lintas, kegiatan berjalan lancar tanpa gangguan berarti.
Sejumlah pengguna jalan tampak memperlambat laju kendaraan untuk menyaksikan sekilas prosesi dari kejauhan. Lokasi kompleks yang berbatasan dengan kali dan tanggul membuat kirab dapat terlihat dari ruas jalan di seberangnya yang setiap hari ramai dilalui kendaraan bermotor.
Usai kirab, umat mengikuti rangkaian kebaktian Waisak yang meliputi pemandian rupang Bodhisattva, persembahan bunga kepada Kung Fo, serta berbagai ritual dan doa bersama.
Dalam ceramah Dharma, Bhiksu Sapta Virya Sthavira mengajak umat menjadikan Waisak sebagai momentum untuk mengembangkan kualitas batin dan meneladani sifat-sifat luhur Buddha.
“Momentum Waisak adalah kesempatan bagi kita untuk terus mereduksi diri. Maksudnya, menjadikan Waisak sebagai saat yang baik untuk meneladani sifat-sifat luhur Buddha,” ujar Sapta Virya Sthavira, yang juga merupakan anggota Komite Dharmaduta World Buddhist Sangha Council.
Ia mengisahkan pengalaman masa kecilnya yang hanya mengikuti kebaktian pada saat perayaan Waisak. Namun seiring pendalaman terhadap Dharma, ia semakin memahami bahwa setiap manusia memiliki benih-benih pencerahan yang dapat dikembangkan melalui latihan spiritual.
“Setiap orang memiliki benih-benih kesadaran. Melalui Dharma, ajaran Guru kita, kita berupaya membersihkan kekotoran batin. Saya semakin yakin bahwa inilah cara untuk mengurangi hal-hal buruk dalam diri kita. Selain menjadi kesempatan mempraktikkan keyakinan, Waisak juga menjadi momentum untuk memperdalam keyakinan itu sendiri,” kata bhiksu yang juga dikenal dengan nama Dharma Qi Zhen Fa Shi.
Perayaan Waisak di CMGK menunjukkan bahwa nilai-nilai kedamaian, refleksi diri, dan pengembangan kebajikan dapat dihadirkan tidak hanya dalam skala besar, tetapi juga di tengah lingkungan permukiman. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, kirab sederhana tersebut menjadi pengingat akan pesan utama Waisak: menumbuhkan kebijaksanaan, welas asih, dan kedamaian bagi semua makhluk. (Christian Saputro/SL)




