SEMARANG — Suasana sore di Rumah PoHan, kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (2/6/2026), terasa berbeda. Di bangunan bersejarah yang kini menjadi ruang budaya itu, puluhan peserta berkumpul untuk membicarakan sebuah babak sejarah yang lama tenggelam dalam sunyi: kisah para perempuan korban perbudakan seksual pada masa pendudukan Jepang atau yang dikenal dengan istilah Jugun Ianfu.
Diskusi publik bertajuk “Jugun Ianfu”yang dimoderatori Yvonne Sibuea menghadirkan peneliti dan penulis sejarah perempuan, Eka Hindra, serta pegiat sejarah Kota Semarang, Rukardi Achmadi.
Keduanya mengajak peserta menelusuri kembali jejak para perempuan yang selama puluhan tahun memikul trauma, stigma, dan keterasingan akibat kekerasan yang mereka alami pada masa perang.
Bagi sebagian generasi muda, istilah Jugun Ianfu mungkin terdengar asing. Namun di balik istilah yang secara harfiah berarti “wanita penghibur” itu, tersimpan kisah kelam ribuan perempuan Asia yang dipaksa melayani tentara Jepang selama Perang Dunia II.
“Sejarah sering kali ditulis dari sudut pandang penguasa, tentara, atau peristiwa politik. Padahal ada kisah-kisah kemanusiaan yang juga penting untuk diingat, termasuk penderitaan para perempuan korban Jugun Ianfu,” kata Rukardi Achmadi.
Menurutnya, pembahasan mengenai Jugun Ianfu bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk memahami sejarah secara utuh. Sebab, sejarah tidak hanya terdiri atas catatan perang dan pergantian kekuasaan, tetapi juga pengalaman manusia yang kerap terpinggirkan dari narasi resmi.
Rukardi menilai Semarang memiliki posisi penting dalam sejarah pendudukan Jepang. Sebagai kota pelabuhan dan pusat administrasi, banyak jejak sejarah yang masih tersembunyi dan belum terdokumentasikan secara memadai, termasuk pengalaman perempuan pada masa perang.
“Ketika para penyintas sudah tidak ada, yang tersisa hanyalah arsip, catatan, dan ingatan yang berhasil kita selamatkan hari ini. Karena itu dokumentasi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Sementara itu, Eka Hindra membagikan pengalamannya selama lebih dari dua dekade menelusuri jejak para penyintas. Sejak 1999, ia melakukan penelitian lapangan, mewawancarai korban, mengumpulkan arsip, dan mendokumentasikan berbagai kesaksian yang nyaris hilang bersama waktu.
Menurut Eka, menemukan para penyintas bukan perkara mudah. Banyak korban memilih diam selama puluhan tahun karena trauma dan tekanan sosial yang mereka alami setelah perang berakhir. Namun justru dari kesaksian-kesaksian itulah sejarah kemanusiaan dapat disusun kembali.
“Banyak kisah yang tidak tercatat dalam dokumen resmi. Saya menemui para penyintas, mendengar cerita mereka, dan menyadari bahwa sejarah bukan hanya soal peristiwa besar, tetapi juga pengalaman manusia yang sering terabaikan,” katanya.
Eka menyebut para penyintas sebagai “kanal terakhir” yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan tragedi masa lalu. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh dari mereka harus dibagikan kepada publik agar tidak hilang bersama wafatnya para saksi sejarah.
Selain mengumpulkan kesaksian, Eka juga mengoleksi berbagai artefak yang merekam kehidupan masyarakat pada zamannya, seperti kebaya, caping, keramik, hingga alat pertanian tradisional. Benda-benda itu baginya bukan sekadar koleksi, melainkan medium untuk memahami kehidupan sehari-hari masyarakat yang hidup di tengah pergolakan sejarah.
“Pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai koleksi pribadi. Ia harus menjadi pengetahuan bersama,” tegasnya.
Eka Hindra dikenal sebagai jurnalis, penulis, dan peneliti independen yang fokus pada kajian sejarah perempuan dan isu Jugun Ianfu di Indonesia. Bersama peneliti Jepang Koichi Kimura, ia menulis buku Momoye: Mereka Memanggilku yang terbit pada 2007 dan menjadi salah satu referensi penting mengenai kesaksian penyintas di Indonesia.
Diskusi yang berlangsung hampir tiga jam itu tidak hanya menghadirkan fakta sejarah, tetapi juga ruang refleksi mengenai hak asasi manusia, martabat perempuan, dan pentingnya merawat memori kolektif bangsa. Peserta yang terdiri atas mahasiswa, pegiat sejarah, komunitas budaya, dan masyarakat umum tampak antusias mengikuti jalannya diskusi hingga selesai.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, kisah para Jugun Ianfu menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar deretan angka dan peristiwa. Ia adalah suara-suara yang pernah dibungkam, namun terus bergema dalam ingatan mereka yang memilih untuk mendengar.
“Tidak semua jejak sejarah terlihat jelas, namun semuanya meninggalkan makna. Mari bersama menelusuri dan memaknainya,” demikian pesan yang mengemuka sepanjang diskusi di Rumah PoHan.
Berita ini disusun dengan gaya koran nasional yang lebih kuat secara naratif, memadukan unsur hard news, human interest, dan refleksi sejarah sehingga lebih hidup dan menarik untuk halaman budaya, humaniora, atau sejarah. (Christian Saputro)




