SEMARANG — Seratus lima puluh tahun lalu, seorang pemuda Prancis bernama Arthur Rimbaud melangkah keluar dari kapal uap dan menapakkan kaki di pelabuhan Semarang. Ia bukan datang sebagai penyair yang telah mapan, melainkan sebagai buruh kasar yang mencari peruntungan di tanah koloni. Jejaknya sempat hilang ditelan debu waktu, tersisa hanya dalam catatan-catatan sejarah yang kering. Namun, pada pertengahan 2026 ini, jejak itu tidak lagi sekadar arsip. Ia hidup kembali, bukan dalam bentuk monumen batu, melainkan dalam ruang kreatif yang bernapas.
Memperingati satu setengah abad kehadiran Rimbaud di kota ini, Kedutaan Besar Prancis dan Institut Français d’Indonésie (IFI) meluncurkan Rimbaud Residence 2026. Sebuah program residensi sastra yang akan membawa seorang penulis Prancis untuk tinggal dan berkarya di Semarang selama tiga bulan, mulai September hingga November mendatang. Ini bukan sekadar proyek diplomasi budaya; ini adalah upaya memulangkan puisi ke tempat asalnya bermula.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, menegaskan bahwa pemilihan Semarang bukanlah nostalgia buta. Kota ini dipilih karena ia masih menyimpan kekayaan lanskap, arsitektur, dan keberagaman budaya yang mampu memicu imajinasi. “Semarang bukan hanya titik awal perjalanan Rimbaud, tetapi juga laboratorium hidup bagi sastra kontemporer,” ujarnya. Di sini, penulis asing tidak akan menemukan eksotisme yang dipentaskan, melainkan realitas yang jujur dan kompleks.
Penulis yang terpilih nanti tidak akan diminta menulis tentang masa lalu Rimbaud. Tugasnya justru lebih berat: menciptakan karya baru—novel, cerpen, atau esai—yang berdialog dengan Semarang hari ini. Tema perjalanan, arsitektur, dan lanskap menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sebuah kota membentuk manusia, dan bagaimana manusia merekam kota tersebut dalam kata-kata. Melalui karyanya, Semarang akan diperkenalkan kepada dunia bukan sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai subjek sastra yang utuh.
Program ini terbuka bagi penulis berkewarganegaraan Prancis yang memiliki proyek relevan. Pendaftaran ditutup pada 15 Juli 2026, dengan informasi lengkap tersedia di laman resmi IFI atau melalui surel coopfrancais@ifi-id.com. Namun, esensi program ini melampaui mekanisme administratif. Ia adalah undangan untuk melihat kembali hubungan antara dua bangsa melalui lensa yang paling intim: bahasa.
Peluncuran Rimbaud Residence 2026 menandai pergeseran paradigma. Jejak Arthur Rimbaud di Semarang tidak lagi dibekukan dalam kaca etalase museum. Ia dibiarkan mengalir, berevolusi, dan menemukan wujud barunya melalui kolaborasi internasional. Di bawah langit Semarang yang sama, seratus lima puluh tahun kemudian, puisi Prancis dan prosa Indonesia akan kembali bertemu. Bukan untuk mengenang apa yang telah pergi, tetapi untuk merajut apa yang mungkin lahir.
(Christian Saputro)




