JAKARTA — Dua sahabat itu duduk berdampingan di sebuah restoran. Rambut mereka telah memutih. Tawa mereka tak lagi meledak-ledak seperti puluhan tahun silam, melainkan mengalir pelan, hangat, dan penuh jeda. Mereka tidak sedang membicarakan bisnis. Mereka juga tidak sedang mengulang kisah kenakalan masa sekolah. Yang mereka tanyakan justru sederhana: “Cucumu sudah berapa?”
Di usia lebih dari delapan puluh tahun, waktu rupanya mengubah cara manusia memandang kenangan.
Bagi sebagian orang, reuni adalah panggung nostalgia. Tempat menghidupkan kembali cerita tentang guru yang galak, teman yang usil, atau cinta pertama yang tak pernah sempat diungkapkan. Tak sedikit pula yang menjadikannya ruang membangun jejaring bisnis atau memperluas relasi.
Namun bagi Alam Surjaputra dan Prof. Satyanegara, dua alumni sekolah Tionghoa di Semarang, reuni telah menemukan maknanya yang lain. Ia menjadi ruang untuk memastikan bahwa sahabat-sahabat lama masih ada, masih sehat, masih mampu tertawa bersama.
“Kami hanya temu kangen,” kata Prof. Satyanegara sembari tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi justru di sanalah letak seluruh maknanya.
Siang itu, hanya dua meja restoran yang mereka tempati. Tak sampai dua puluh orang. Sebagian besar adalah alumni sekolah Tionghoa di Semarang yang kini menetap di Jakarta. Mereka berkumpul tanpa seremoni besar, tanpa panitia resmi, bahkan tanpa agenda yang rumit. Seseorang cukup menghubungi teman-temannya, menentukan hari, memilih restoran, lalu semuanya datang jika kondisi kesehatan memungkinkan.
Begitulah reuni kecil mereka berlangsung setiap dua atau tiga bulan sekali.
Tidak ada presentasi. Tidak ada pidato. Tidak ada sesi memperkenalkan perusahaan atau kartu nama. Yang ada hanyalah percakapan ringan yang mengalir seperti teh hangat.
“Sudah punya cicit?”
“Cucumu sekolah di mana?”
“Masih kuat jalan jauh?”
Sesekali terdengar tawa. Sesekali mereka bernyanyi karaoke. Lagu-lagu lama menjadi jembatan yang menghubungkan puluhan tahun perjalanan hidup. Mereka tak sedang berusaha menghidupkan masa lalu. Mereka hanya menikmati bahwa masa lalu itu pernah ada.
Alam Surjaputra mengenang, dulu reuni sering diwarnai cerita-cerita tentang kenakalan di sekolah. Siapa yang pernah dihukum guru, siapa yang sering terlambat, siapa yang diam-diam kabur dari kelas. Kini semua itu nyaris tak lagi menjadi topik utama. Usia rupanya mengajarkan manusia memilih cerita mana yang layak dibawa terus, dan mana yang cukup disimpan sebagai kenangan.
“Setiap kali reuni, tidak lagi cerita-cerita masa lalu. Kami hanya ngobrol yang ringan,” ujar pendiri PT Star Cosmos itu.
Alam adalah seorang insinyur elektro sekaligus pengusaha yang telah puluhan tahun membangun industri elektronik rumah tangga di Indonesia. Di hadapannya duduk Prof. Satyanegara, ahli bedah saraf yang telah menangani ribuan pasien dan kini menjadi Direktur Senior Tzu Chi Hospital PIK. Dua profesi yang berbeda. Dua dunia yang nyaris tak pernah bersinggungan.
Namun ketika reuni berlangsung, gelar akademik dan capaian karier seakan ditinggalkan di luar pintu restoran.
“Kami tidak bicara bisnis,” kata Alam. Kalaupun sesekali pembicaraan menyentuh pekerjaan, itu sebatas percakapan ringan. Ia bahkan lebih sering meminta nasihat kesehatan kepada sahabatnya daripada membicarakan peluang usaha. “Produk elektronik saya tidak nyambung dengan keahlian Profesor Satyanegara. Kecuali kalau saya sakit,” katanya sambil tertawa.
Psikologi mengenal istilah flashback—cara otak menghadirkan kembali pengalaman masa lalu. Kenangan bisa datang sebagai sumber kebahagiaan, tetapi juga dapat memunculkan kesedihan, tergantung bagaimana seseorang memaknai pengalaman hidupnya. Namun pada usia senja, ingatan tampaknya mengalami seleksi yang halus. Yang tersisa bukan lagi kemarahan kepada guru, bukan pula persaingan antarteman. Yang bertahan justru rasa syukur karena masih diberi kesempatan bertemu.
Setiap kursi yang terisi dalam reuni menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Ada teman yang sudah berpulang. Ada yang tak lagi mampu bepergian. Ada pula yang hanya bisa mengirim salam. Karena itu, setiap pertemuan menjadi semakin berharga. Tak ada yang tahu kapan reuni berikutnya masih bisa dihadiri oleh orang-orang yang sama.
Semarang tetap menjadi simpul kenangan mereka. Di kota itu masih berdiri bekas bangunan sekolah yang dahulu menjadi tempat mereka belajar. Bangunan tua itu mungkin telah berganti fungsi. Sebagian sudutnya mungkin sudah berubah. Namun bagi para alumninya, tempat itu tetap menyimpan jejak masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang.
Setiap kali reuni besar digelar di Semarang, kakak kelas, adik kelas, hingga teman seangkatan kembali berkumpul. Tidak ada sekat angkatan. Tidak ada jarak usia. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa mereka pernah menjadi bagian dari ruang yang sama, pada masa ketika hidup masih terasa sangat panjang.
Kini, justru karena hidup semakin pendek, setiap pertemuan terasa jauh lebih berarti.
Di usia ketika ambisi perlahan berganti dengan rasa syukur, reuni bukan lagi tentang membangkitkan nostalgia atau membangun jaringan. Ia berubah menjadi perayaan kecil atas persahabatan yang mampu bertahan melampaui puluhan tahun, melintasi perubahan zaman, karier, keluarga, bahkan kesehatan.
Barangkali itulah makna terdalam sebuah reuni di usia senja. Bukan untuk kembali menjadi muda. Melainkan untuk mengingat bahwa ada perjalanan panjang yang telah dilalui bersama—dan bahwa selama masih bisa saling menyapa, kenangan akan selalu menemukan rumahnya. (Christian Saputro)




