SEMARANG — Suasana Kampung Roworejo, Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, berubah menjadi ruang perjumpaan lintas generasi saat Festival Sobo Roworejo V resmi dibuka, Sabtu (27/6/2026). Mengusung tema “Naliko Semono” atau Pada Waktu Itu, festival tahunan ini mengajak masyarakat menengok kembali sejarah, tradisi, dan kenangan kampung melalui rangkaian kegiatan budaya yang berpuncak pada panggung musik folk.
Pembukaan festival diawali dengan penabuhan gong oleh Ketua RW 07 Roworejo bersama perwakilan Kolektif Hysteria sebagai penanda dimulainya perhelatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial warga terhadap masyarakat sekitar.
Festival Sobo Roworejo merupakan inisiatif masyarakat Desa Wisata Wonolopo yang bertujuan merevitalisasi sejarah lokal melalui berbagai aktivitas kreatif berbasis partisipasi warga. Selama lima kali penyelenggaraan, festival ini terus berkembang menjadi ruang kolaborasi yang memadukan pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan ekspresi seni.
Ketua panitia Festival Sobo Roworejo V, Vinzah, mengatakan tema “Naliko Semono” dipilih sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat tentang kehidupan kampung pada masa lalu.
“Kalau tema Sobo Roworejo kelima ini kita ambil Naliko Semono, karena ingin mengingat zaman dulu atau flashback. Fokusnya mengingat cerita-cerita masa lalu dan masa kecil kita,” ujarnya.
Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan warga secara gotong royong. Berbeda dengan pendekatan individual, masyarakat Kampung Ranting Pelangi memilih membangun festival sebagai kerja bersama yang melibatkan tetangga, komunitas, hingga generasi muda.
Menurut penyelenggara, seluruh rangkaian kegiatan festival merepresentasikan upaya masyarakat memanfaatkan potensi lokal sekaligus memperkuat hubungan harmonis dengan alam. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diwariskan kepada generasi muda Wonolopo agar tetap mengenal akar sejarah dan identitas kampungnya.
Panggung pembukaan semakin semarak ketika Remaja Kampung Ranting Pelangi menampilkan video podcast yang mengangkat tema festival dari sudut pandang anak muda. Penampilan tersebut menjadi pengantar sebelum memasuki agenda utama berupa konser musik folk bertajuk Folk Me Up.
Program musik yang digagas Hysteria Artlab itu menghadirkan tiga kelompok musik asal Semarang, yakni The Fretman, Tre(A)k, dan Beruga. Ketiganya menampilkan karakter musik folk yang berbeda dalam suasana panggung terbuka yang menyatu dengan lingkungan kampung.
Pemilihan musik folk bukan tanpa alasan. Program Manager Hysteria, Purna, menilai karakter musik tersebut selaras dengan atmosfer kehidupan kampung yang hangat dan akrab.
“Kami merasa pola musik folk cukup cocok dengan nuansa kampung. Tidak terlalu ramai, tetapi tetap menyenangkan bagi banyak orang. Di sisi lain, program ini memang ingin mendorong lahirnya panggung-panggung baru bagi musisi folk di Semarang,” katanya.
Hysteria juga melihat perkembangan musik folk dalam beberapa tahun terakhir semakin mendapat tempat di kalangan masyarakat, seiring munculnya berbagai kelompok musik dari Semarang maupun tingkat nasional. Kondisi itu menjadi peluang untuk memperluas ruang apresiasi sekaligus menghadirkan alternatif pertunjukan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Melalui kolaborasi antara warga Kampung Ranting Pelangi dan Kolektif Hysteria, Festival Sobo Roworejo tidak sekadar menjadi agenda hiburan, melainkan ruang belajar bersama yang mempertemukan sejarah lokal, solidaritas sosial, seni, dan partisipasi masyarakat. Di tengah arus modernisasi, festival ini menjadi bukti bahwa kampung tetap dapat menjadi pusat lahirnya kreativitas sekaligus penjaga ingatan kolektif warganya. (Christian Saputro)




