Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Kabut turun perlahan di lereng Gunung Rajabasa, menyelimuti puncak-puncak hijau dengan selimut putih yang dingin. Dari ketinggian itu, mata dapat menyapu Teluk Lampung yang tenang hingga Selat Sunda yang membentang luas, seperti halaman depan sebuah rumah besar bernama Nusantara. Di balik rimbun hutan tropis itulah, dua generasi pejuang Lampung pernah mengubah gunung menjadi benteng, hutan menjadi sekutu, dan rakyat menjadi tembok pertahanan yang tak mudah ditembus.
Sejarah sering kali mengingat perang hanya melalui deru meriam, asap mesiu, dan nama-nama jenderal Eropa. Namun di Lampung, perang ditulis oleh desir bambu, oleh jejak kaki di jalan setapak yang hanya dikenal penduduk asli, serta oleh kesetiaan para kepala adat yang menolak menyerahkan tanah leluhurnya kepada kekuasaan kolonial Belanda.
Nama itu adalah Radin Intan I dan Radin Intan II. Dua tokoh yang dipisahkan oleh waktu, tetapi disatukan oleh satu keyakinan mutlak: kemerdekaan tidak boleh ditukar dengan kenyamanan, apalagi dijual demi keamanan semu dari penjajah. Mereka bukan sekadar pemimpin politik; mereka adalah penjaga martabat Lampung.
Awal abad ke-19 menjadi masa kelam ketika Belanda mulai memperluas cengkeramannya ke wilayah Lampung. Yang diburu bukan hanya tanah, melainkan lada—”emas hitam” yang saat itu menjadi komoditas paling berharga di pasar dunia. Monopoli perdagangan, pungutan pajak yang mencekik, dan campur tangan kasar terhadap pemerintahan adat perlahan menggerus kedaulatan masyarakat Lampung.
Di tengah tekanan yang kian menghimpit, muncul seorang pemimpin dari Kalianda. Namanya Radin Intan I. Ia menolak tunduk. Bagi Radin Intan I, Belanda bukan sekadar kekuatan asing yang jauh, melainkan ancaman eksistensial terhadap tatanan adat yang telah menjaga keseimbangan masyarakat selama berabad-abad. Karena itu, perlawanan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban suci.
Alih-alih membangun istana yang megah, ia membangun benteng. Alih-alih menyiapkan pesta kemewahan, ia menyiapkan strategi perang.
Gunung Rajabasa pun menjelma menjadi benteng alam yang nyaris sempurna. Lereng-lereng curam berfungsi sebagai tembok pertahanan alami. Hutan lebat menjadi labirin hidup yang membingungkan musuh. Parit-parit dalam digali mengelilingi posisi strategis. Ranjau bambu runcing dipasang di jalur-jalur sempit yang hanya diketahui penduduk lokal. Pos-pos pengintai ditempatkan di punggung bukit tertinggi untuk memantau setiap kapal asing yang berani memasuki Teluk Lampung.
Benteng Ketimbang menjadi jantung pertahanan ini. Di sana, rakyat tidak hanya berlindung dari peluru. Mereka belajar bertahan. Mereka belajar bahwa tanah mereka adalah nyawa mereka.
Belanda berkali-kali mencoba menyerbu. Namun, meriam-meriam berat yang ampuh di medan terbuka Eropa kehilangan daya tempurnya ketika harus didorong melewati lereng licin dan hutan rapat Sumatera. Pasukan kolonial justru menjadi sasaran empuk penyergapan. Muncul sebentar dari balik pepohonan, menyerang dengan cepat, lalu lenyap kembali ke dalam rimbun hijau sebelum musuh sempat membalas.
Hari ini, strategi itu dikenal sebagai perang gerilya. Tetapi jauh sebelum istilah itu populer dalam buku-buku militer modern, rakyat Lampung telah mempraktikkannya dengan kecermatan yang lahir dari pengenalan mendalam terhadap alam. Bagi mereka, gunung bukan sekadar lanskap pemandangan. Gunung adalah panglima.
Radin Intan I wafat pada 1828. Belanda mengira perang telah selesai. Mereka keliru besar. Api perlawanan yang telah dinyalakan ternyata tidak ikut padam bersama pemimpinnya. Tongkat perjuangan berpindah kepada putranya, Radin Imba Kusuma. Perlawanan berlanjut sepanjang dekade 1830-an. Meskipun akhirnya ia berhasil ditangkap dan dibuang ke Timor, semangat yang diwariskan ayahnya tetap hidup, berdenyut di dada masyarakat.
Belanda kembali merasa menang. Namun sejarah kembali mempermainkan keyakinan mereka. Sebab, seorang cucu tengah tumbuh dewasa. Namanya Radin Inten II.
Usianya baru sekitar enam belas tahun ketika ia dipercaya memimpin rakyat Lampung. “Terlalu muda,” mungkin kata sebagian orang. Namun sejarah sering kali memilih pemimpin bukan berdasarkan usia kronologis, melainkan berdasarkan besarnya keberanian.
Lampung ketika itu sedang mengalami luka yang lebih dalam daripada sekadar perang fisik. Politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) telah berhasil memecah hubungan antarkelompok adat. Belanda sadar, benteng yang paling mudah dihancurkan bukanlah benteng batu, melainkan persatuan rakyat.
Maka, hal pertama yang dilakukan Radin Inten II bukan mengangkat senjata. Ia menyatukan hati. Ia mendatangi para kepala adat yang saling curiga. Ia menghidupkan kembali ikatan persaudaraan yang retak. Ia mengajak mereka berdiri dalam satu barisan. Perlawanan bukan lagi milik satu keluarga bangsawan. Perlawanan menjadi milik seluruh Lampung.
Belanda tidak tinggal diam. Pada 1851, mereka mengirim ekspedisi besar di bawah komando Kapten W.H. Millar. Mereka datang dengan keyakinan penuh bahwa pemberontakan ini akan segera berakhir. Yang terjadi justru sebaliknya. Pasukan Lampung menyerang patroli Belanda secara tiba-tiba. Jalur logistik diputus. Persediaan makanan terganggu. Amunisi terlambat tiba. Ketika tentara Belanda mengejar, para pejuang telah menghilang ke dalam hutan Rajabasa yang tak berujung.
Musuh yang tak terlihat selalu lebih menakutkan daripada musuh yang bertempur di lapangan terbuka. Ekspedisi itu gagal total. Belanda kembali dipermalukan oleh pasukan yang jauh lebih kecil, tetapi mengenal setiap jengkal tanahnya sendiri.
Puncak konflik terjadi pada 1856. Belanda mengerahkan kekuatan yang lebih besar dan lebih brutal di bawah Kolonel Welson. Benteng Ketimbang dikepung dari berbagai arah. Hari-hari panjang dilalui dengan persediaan makanan yang menipis. Air harus dibagi seadanya. Amunisi makin sedikit. Namun, benteng tetap bertahan. Belanda mulai memahami satu kenyataan pahit: Benteng itu mungkin bisa dikepung, tetapi Radin Inten II sulit dikalahkan selama ia memiliki dukungan rakyat.
Ketika perang tidak berhasil dimenangkan dengan senjata, kolonialisme selalu mencari jalan lain yang lebih kotor: pengkhianatan.
Belanda mendekati seorang sekutu lokal, Raden Ngerajah. Imbalannya sederhana namun menggiurkan bagi jiwa yang lemah: jabatan tinggi dan uang. Pertemuan persahabatan pun diatur di Merambung pada Oktober 1856. Radin Inten II datang dengan keyakinan tulus bahwa ia akan membicarakan strategi bersama sekutu lamanya.
Yang menunggunya ternyata bukan musyawarah. Melainkan penyergapan berdarah.
Di usia sekitar dua puluh dua tahun, pemimpin muda itu gugur. Bukan karena kalah dalam pertempuran heroik di medan perang. Melainkan karena dikhianati oleh manusia yang pernah dipercayainya. Sejarah Nusantara menyimpan terlalu banyak kisah tragis seperti ini. Dari Banten hingga Makassar, dari Jawa hingga Lampung. Sering kali benteng tidak runtuh oleh hantaman meriam. Ia roboh oleh tusukan pisau dari belakang.
Meski demikian, kematian Radin Inten II tidak pernah benar-benar mengakhiri perjuangan. Namanya justru hidup lebih lama daripada para penakluknya. Pada 1986, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Radin Inten II sebagai penghormatan atas perjuangannya mempertahankan kedaulatan Lampung.
Namanya kini diabadikan menjadi Bandar Udara Internasional Radin Inten II, menghiasi jalan-jalan utama, sekolah, monumen, hingga berbagai institusi di Provinsi Lampung. Namun, penghormatan terbesar sesungguhnya bukan terletak pada nama yang dipahat di batu atau papan penunjuk jalan. Melainkan pada ingatan kolektif bahwa pernah ada sebuah masyarakat yang memilih bertempur di lereng gunung daripada menyerahkan martabatnya kepada penjajah.
Kini, Gunung Rajabasa tampak tenang. Burung-burung kembali bersarang di pepohonan. Kabut pagi turun seperti selimut lembut yang menutupi bekas-bekas pertempuran. Tak banyak yang menyangka bahwa di balik kesunyian itu, pernah berdiri sistem pertahanan yang begitu cerdas. Sebuah benteng yang memanfaatkan alam sebagai sekutu, rakyat sebagai kekuatan utama, dan persatuan sebagai senjata paling ampuh.
Warisan terbesar Radin Intan I dan Radin Inten II sesungguhnya bukan hanya kemenangan-kemenangan kecil atas pasukan kolonial. Warisan itu adalah keyakinan bahwa sebuah bangsa tidak dibangun semata oleh luas wilayah atau kekuatan senjata, melainkan oleh kesediaan rakyatnya menjaga harga diri.
Di lereng Rajabasa, sejarah Lampung mengajarkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah yang diberikan dengan sukarela. Ia adalah hutan yang harus dijaga. Benteng yang harus dipertahankan. Dan darah yang rela ditumpahkan agar tanah tetap menjadi milik anak cucunya. (*)




