Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Redaktur Budaya SKH Sumatera Post tinggal di Semarang.
Di atas meja kayu yang sederhana, sebuah pot kecil berisi tanaman hijau muda berdiri di samping buku bersampul putih bertuliskan tegas: Janda. “Saya meletakkan buku ini di sana sebagai simbol kehidupan dan keberlanjutan,” ujar Dr. Tedi Kholiludin dalam sesi bedah buku yang diadakan oleh Rumah Mataram 360, Elfa Meditama, EIN Institute, Semarang, sore itu.
“Banyak yang menilai janda seperti daun yang gugur dari pohon keluarga, padahal mereka justru adalah akar yang kembali menumbuhkan kehidupan.”
Kalimat itu menggema di ruangan dan menancap dalam benak setiap hadirin. Tak ada isak tangis berlebihan, tak juga drama. Yang ada adalah keheningan penuh hormat—keheningan yang mengandung kekuatan.
Sebuah Ruang untuk Didengar
Buku “Janda: Kisah-Kisah Perempuan Pemimpin Keluarga” terbitan Elfa Mediatama adalah antologi kisah nyata tentang perempuan yang harus menegakkan rumah tangga seorang diri setelah kehilangan pasangan.
Disunting oleh Jane Ardaneshwari, buku ini menjadi wadah bagi suara-suara yang kerap diabaikan: suara ibu yang tak lagi punya waktu berduka, perempuan yang menolak dikasihani, dan manusia yang bangkit dengan martabatnya sendiri.
“Proyek ini bukan sekadar dokumentasi,” tutur Jane dengan nada mantap. “Ini bentuk keberpihakan. Karena terlalu lama, narasi tentang janda dibentuk oleh orang lain—bukan oleh mereka sendiri.”
Dalam buku ini, setiap cerita seperti percikan cahaya yang berbeda warna. Ada yang lembut dan melankolis, ada yang getir tapi tegas, ada pula yang hangat seperti pelukan seorang ibu yang tak sempat menangis. Semua kisah menyatu menjadi mozaik keteguhan perempuan Indonesia.
Dari Stigma ke Simbol Kekuatan
Kata janda sering kali diucapkan dengan bisik-bisik. Di masyarakat kita, status itu masih dibebani stigma sosial dan prasangka moral. Jane ingin mengubah itu. “Setiap kali orang mendengar kata janda, saya ingin mereka berpikir tentang perempuan yang mandiri dan bermartabat,” katanya.
Pandangan itu disambut dengan beragam perspektif dari para pembicara. Ellen Nugroho, seorang konselor keluarga, berbicara tentang luka yang tak selalu tampak di mata. “Banyak perempuan memaksa diri untuk kuat, tapi belum selesai berduka. Proses penyembuhan tidak bisa digesa, karena kekuatan sejati justru tumbuh dari penerimaan,” jelasnya.
Dari sisi hukum, Michael Deo menyoroti ketimpangan yang masih nyata. “Banyak perempuan tidak tahu haknya. Bahkan dalam perjuangan hukum pun mereka masih dianggap ‘setengah warga’,” ujarnya. Pernyataannya menggambarkan betapa perjuangan janda bukan hanya soal ekonomi dan perasaan, tetapi juga soal struktur sosial yang belum sepenuhnya adil.
Sementara itu, Dr. Tedi Kholiludin mengajak audiens melihat lebih dalam. Ia memaparkan bagaimana perempuan janda harus bernegosiasi dengan citra sosial yang sering kali dibentuk oleh masyarakat. “Mereka belajar seni mengelola kesan—bagaimana tampil kuat tanpa kehilangan kelembutan, bagaimana menjaga martabat di tengah tatapan yang kadang penuh prasangka.”
Menulis untuk Bertahan, Berbagi untuk Pulih
Dalam paparannya yang sarat refleksi, Jane menyinggung hal paling mendasar: menulis sebagai penyembuhan. “Menulis adalah cara perempuan membersihkan luka dan menemukan makna. Ini bukan sekadar kisah, tapi testimoni—konfirmasi bahwa mereka ada, mereka berjuang, dan mereka berhasil bertahan,” ujarnya.
Setiap cerita dalam Janda lahir dari tangan perempuan yang telah berani memeluk kisahnya sendiri, apa adanya. Mereka bukan pahlawan tanpa cela, tapi manusia yang memilih untuk bangkit. Dari kehilangan, mereka menumbuhkan kasih. Dari kesunyian, mereka menemukan suara.
Empati yang Menyatu
Acara bedah buku itu tak berhenti di panggung. Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta berbagi kisah pribadi. Seorang ibu muda bercerita bagaimana ia membesarkan anaknya seorang diri setelah suaminya meninggal karena pandemi. Seorang lainnya, mantan tenaga kerja migran, mengaku menemukan kekuatan kembali setelah membaca kisah serupa dalam buku itu.
Ruang diskusi berubah menjadi ruang empati—tempat perempuan saling memeluk tanpa perlu kata-kata. Di sinilah kekuatan Janda terasa nyata: ia bukan hanya buku, melainkan gerakan kecil yang menumbuhkan solidaritas antarperempuan.
Dari Daun yang Gugur Menjadi Tunas Baru
Seperti yang dikatakan Dr. Tedi di penutup sesi, “Perempuan-perempuan ini bukan daun yang gugur. Mereka adalah tunas yang tumbuh dari tanah luka, memberi oksigen bagi keluarga dan masyarakat.”
Dalam masyarakat yang masih sering menilai dari status, buku “Janda” hadir sebagai pengingat: perempuan tak didefinisikan oleh kehilangan, melainkan oleh keberanian untuk terus hidup.
Dan mungkin, di antara halaman-halamannya, setiap perempuan—entah ibu, anak, atau sahabat—bisa menemukan sebagian dirinya sendiri.(*)




