SEMARANG — Di sebuah sudut ruang pamer Front One HK Hotel Resort Semarang, sepasang mata wayang tampak menatap pengunjung dengan tatapan yang sulit diartikan. Pipinya ditarik lembut ke samping. Seolah sedang dijewer oleh tangan yang penuh kasih, atau mungkin oleh waktu itu sendiri.
Itulah dunia yang selama puluhan tahun dibangun Agus Nuryanto.
Bagi Agus, wayang-wayang dengan pipi terjewer itu bukan sekadar objek visual. Ia adalah bahasa. Ia adalah tanda tangan. Ia adalah jejak panjang seorang perupa yang sejak muda memilih hidup bersama cat, kanvas, dan keyakinan teguh bahwa seni harus terus bernapas, apa pun halangan yang menghadang.
Sabtu sore itu, dalam pameran bertajuk “Nyawiji”, Agus datang dari Yogyakarta membawa lima karya kecil berukuran 35 x 35 sentimeter. Di antara puluhan karya para perupa dari Semarang, Jombang, dan Yogyakarta, lukisan-lukisannya hadir seperti sahabat lama yang tidak pernah kehilangan cerita, meski jarak dan waktu sempat memisahkan.
Tema pameran itu sederhana: menyatu. Atau dalam bahasa Jawa, nyawiji.
Namun bagi Agus, kata itu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar berkumpulnya sejumlah pelukis dalam satu ruang fisik.
“Nyawiji adalah pertemuan rasa,” katanya pelan, matanya masih tertuju pada kanvas.
Perjalanan Separuh Abad di Depan Kanvas
Perjalanan menuju ruang pamer itu tidak singkat. Lahir dari dunia seni rupa yang ditempanya sejak kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo pada awal 1990-an, Agus tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan wayang bukan hanya sebagai sumber inspirasi estetika, tetapi juga sumber perenungan filosofis. Tahun 1997 menjadi titik tolak serius perjalanan panjangnya di jagat seni rupa Indonesia.
Sejak saat itu, pameran demi pameran dijalani. Kota demi kota disinggahi. Hingga hari ini, lebih dari seperempat abad kemudian, Agus masih berdiri di depan kanvas dengan semangat yang sama.
Lima kali pameran tunggal telah digelarnya. Puluhan pameran bersama diikuti tanpa jeda berarti. Di tengah kesibukan ganda—sebagai desainer mebel selama dua dekade, lalu kemudian membangun usaha keluarga—melukis tidak pernah ditinggalkan. Bagi Agus, seni bukan pekerjaan sambilan. Seni adalah cara hidup (way of life).
Ada masa ketika keinginan berpameran membuatnya harus meminjam modal ke bank. Ada saat ketika banyak orang menganggap langkah itu terlalu nekat. Tetapi Agus memiliki keyakinan sendiri yang tak tergoyahkan: seorang seniman tidak boleh berhenti berkarya. Karena berhenti berkarya berarti membiarkan gagasan mati sebelum sempat lahir.
Filosofi “Wayang Jewer”: Kasih Sayang dalam Cubitan
Keyakinan itulah yang membuat nama Agus Nuryanto dikenal melalui satu identitas artistik yang unik: Wayang Jewer.
Dalam hampir setiap lukisannya, tokoh wayang hadir. Namun, wayang-wayang itu tidak tampil sebagaimana lazimnya dalam pakem tradisi yang kaku. Pipi mereka ditarik. Dijewer.
Bagi sebagian orang, jeweran identik dengan teguran atau hukuman. Namun bagi Agus, jeweran adalah bentuk kasih sayang yang paling intim. Seperti orang tua yang mencubit pipi anaknya karena cinta. Seperti kebudayaan yang sesekali harus “mencubit” generasinya agar tidak lupa pada akar, agar tidak terbuai oleh kemodernan yang seringkali melupakan substansi.
Maka, wayang-wayang dalam karya Agus tidak pernah terasa marah. Mereka justru tampak akrab, jenaka, kadang kontemplatif, dan sering kali menyimpan sindiran halus tentang ironi kehidupan manusia modern.
Di situlah kekuatan visual Agus berada. Ia tidak sedang melukis masa lalu yang sudah mati. Ia sedang mengajak masa lalu berbicara dengan masa kini.
Lima Wayang yang Menjewer Hati
Dalam pameran Nyawiji, lima karya Agus—meski berukuran kecil—berdiri seperti lima bab dalam perjalanan batin seorang perupa. Setiap kanvas menjadi ruang cerita, setiap figur menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Pertama, ada Introspeksi. Karya ini menjadi semacam ruang sunyi di tengah riuh kehidupan modern. Wayang tidak lagi tampil sebagai tokoh heroik, melainkan sebagai cermin manusia yang sedang bercakap dengan dirinya sendiri. Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak diucapkan, ada kegelisahan yang tidak diteriakkan. Dalam dunia yang bergerak cepat, Introspeksi menjadi pengingat bahwa perjalanan terjauh sering kali adalah perjalanan ke dalam diri.
Kedua, Berkahmu. Jika Introspeksi berbicara tentang pencarian ke dalam, maka Berkahmu berbicara tentang rasa syukur. Agus menghadirkan keberkahan bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan kesadaran sederhana bahwa hidup selalu menyisakan alasan untuk berterima kasih. Barangkali berupa kesehatan, keluarga, atau kesempatan untuk tetap berkarya. Lukisan ini terasa hangat, seperti doa yang disampaikan melalui warna dan bentuk.
Ketiga, Bulan di Atas Borobudur. Karya ini menghadirkan nuansa paling puitik. Agus mempertemukan dua simbol besar kebudayaan Jawa: bulan sebagai lambang keabadian waktu, dan Borobudur sebagai penanda peradaban yang bertahan melintasi abad. Keduanya bukan sekadar lanskap, tetapi ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan sejarah. Seperti cahaya bulan yang selalu kembali, kebudayaan akan terus menemukan jalannya untuk hidup selama masih ada yang merawatnya. Dan Agus adalah salah satu perawat ingatan itu.
Keempat, Pesona Jogja. Sebagai perupa yang hidup di Yogyakarta, Agus tidak melukis kota secara dokumentatif. Tidak ada gambaran Jalan Malioboro yang rinci. Yang hadir justru ruh Yogyakarta itu sendiri: kota yang hidup dari pertemuan tradisi dan gagasan baru, kota yang membesarkan seniman dan penyair. Melalui wayang-wayangnya, Agus menangkap suasana Jogja sebagai ruang yang terus memberi inspirasi sekaligus kehangatan. Sebuah kota yang tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga kenangan.
Kelima, pameran ditutup dengan Sukaria. Di tengah berbagai persoalan sosial, Sukaria menghadirkan perayaan. Bukan perayaan yang mewah, melainkan kebahagiaan sederhana yang tumbuh dari kebersamaan, dari tawa, dan dari kemampuan manusia untuk tetap menemukan harapan. Dalam karya ini, figur-figur wayang Agus tampak lebih cair, lebih akrab, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Nyawiji: Ruang Tanpa Hierarki
Kelima lukisan itu menemukan rumah yang tepat dalam pameran Nyawiji. Ruang pamer hotel yang biasanya dipenuhi lalu-lalang tamu bisnis kini berubah menjadi arena dialog budaya. Di sana, karya-karya realis berdampingan dengan abstraksi. Perupa muda dan senior berbagi dinding yang sama.
Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah. Semua menyatu.
Agus melihat pameran semacam ini bukan sekadar agenda seni rutin. Ia memandangnya sebagai peristiwa kebudayaan. Ketika perupa dari Yogyakarta, Jombang, dan Semarang duduk dalam satu meja, sesungguhnya yang sedang dipertemukan bukan hanya karya, melainkan pengalaman hidup, cara pandang, dan harapan yang berbeda-beda.
“Melalui seni, kita belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjarak,” ujarnya.
Barangkali karena itulah karya Agus selalu terasa hangat, bahkan ketika mengkritik. Di balik figur wayang yang dijewer, tersimpan ajakan lembut untuk menengok diri sendiri. Untuk berintrospeksi. Atau untuk merayakan kehidupan dengan tawa.
Menjaga Nyala di Tengah Zaman yang Berubah
Ketika malam perlahan turun di Semarang, lampu-lampu galeri memantulkan cahaya ke permukaan kanvas. Wayang-wayang itu tetap diam di tempatnya. Namun, diam mereka bukan kesunyian. Mereka sedang berbicara.
Berkata tentang tradisi yang tak mau usang. Tentang seorang pelukis yang memilih bertahan ketika banyak orang menyerah pada himpitan ekonomi. Tentang keyakinan bahwa seni harus terus hidup, meski zaman berubah drastis.
Dan tentang sebuah kata sederhana yang menjadi judul pameran itu: Nyawiji.
Menyatu dalam karya. Menyatu dalam persaudaraan lintas kota. Dan yang paling penting, menyatu dalam semangat menjaga nyala seni rupa agar tetap menyala, diteruskan dari generasi ke generasi, lewat cubitan-cubitan kasih sayang pada warisan leluhur. (Christian Saputro)




