SEMARANG, Sumatera Post — Suasana dini hari di Balai Kertasabha Pura Agung Giri Natha, Selasa (24/2/2026), tampak berbeda. Sejak pukul 02.00 WIB, ratusan warga dari beragam latar belakang agama dan komunitas mulai berdatangan untuk mengikuti Sahur Keliling bersama Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.
Kegiatan sahur lintas iman ini merupakan agenda rutin yang digagas istri Presiden ke-4 RI tersebut bersama Yayasan Puan Amal Hayati sejak tahun 2000. Memasuki tahun ke-26 pada 2026, tradisi sahur keliling kembali digelar di sejumlah daerah, termasuk Kota Semarang dan dua titik di Yogyakarta.
Di Semarang, sekitar 400 peserta hadir, terdiri atas warga sekitar pura, kaum dhuafa, penyandang disabilitas, serta perwakilan lintas iman. Turut hadir Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, bersama unsur Forkopimda dan tokoh masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan di Semarang dikoordinasikan oleh Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), yang telah menjadi mitra Sahur Keliling sejak 2007. Tahun ini, ANBTI menyelenggarakan kegiatan di tiga titik, yakni satu di Semarang dan dua di Yogyakarta.
Ketua panitia Semarang, Nengah Wirta Damayana, menyampaikan bahwa pemilihan pura sebagai lokasi sahur menjadi simbol kuat kerukunan dan kebersamaan. “Sahur keliling selalu mengedepankan perjumpaan lintas iman. Tempat ibadah menjadi ruang bersama untuk merawat persaudaraan,” ujarnya.
Kegiatan ini melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas di Semarang, antara lain Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Klub Merby, FORPELA (Forum Perempuan Lintas Agama), COMPAC (Komunitas Motor Penyandang Disabilitas), Komunitas Sahabat Difabel, Komunitas Kinasih, Perkumpulan Pemuda Pemudi Autistik Yogasmara, serta Klenteng Tay Kak Sie. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang dan aparat Kelurahan Bendungan yang aktif menghimpun warga dhuafa di sekitar lokasi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta sahur didominasi kelompok marginal, kaum dhuafa, dan penyandang disabilitas. Panitia menilai keterlibatan kelompok rentan menjadi wujud nyata keberpihakan sosial yang konsisten diperjuangkan Ibu Sinta.
Mengusung tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, sahur keliling tahun ini diharapkan menjadi momentum refleksi kebangsaan. Dalam situasi sosial-politik yang dinilai rawan polarisasi, kegiatan ini menyerukan pentingnya memperkuat nilai persaudaraan, toleransi, serta kewaspadaan terhadap ujaran kebencian dan provokasi yang bertentangan dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Acara ditutup menjelang waktu Subuh dengan doa bersama lintas iman. Di tengah suasana sederhana, sahur dini hari itu menjadi penanda bahwa ruang-ruang kebersamaan tetap terjaga, bahkan di tengah perbedaan. (Christian Saputro)




