Oleh: Christian Saputro
Semarang – Sebanyak 22 perupa yang tergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia (SDI) Yogyakarta menghadirkan pameran seni rupa bertajuk “Tirta: Ambang Alir” di Semarang Contemporary Art Gallery. Pameran ini dibuka pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 19.00 WIB dan akan berlangsung hingga 10 Mei 2026.
Pameran kelompok ini menghadirkan beragam karya seni rupa yang berangkat dari satu gagasan utama: tirta, atau air suci dalam tradisi Bali. Melalui tema tersebut, para seniman menghadirkan tafsir visual tentang air sebagai unsur yang tidak hanya hadir dalam alam, tetapi juga menyimpan makna spiritual, kultural, dan ekologis.
Kurator pameran, Asmudjo J. Irianto, menjelaskan bahwa bagi para perupa yang tumbuh dalam kebudayaan Bali, air memiliki kedudukan yang jauh melampaui fungsi biologisnya.
“Dalam ritual maupun kehidupan harian masyarakat Bali, tirta merupakan perantara yang menghubungkan tubuh, doa, dan kosmos. Ia adalah ingatan yang terus mengalir dalam kehidupan,” tulis Asmudjo dalam pengantar pameran.
Menurutnya, pameran ini lahir dari inisiatif para anggota komunitas seni itu sendiri yang secara kolektif memilih tema sekaligus membangun arah dialog artistik yang ingin mereka hadirkan kepada publik. Pendekatan kolektif tersebut menjadi kekuatan utama pameran, karena setiap seniman memiliki kebebasan untuk menafsirkan konsep tirta melalui bahasa visual masing-masing.
Melalui berbagai medium—mulai dari lukisan, instalasi, hingga pendekatan visual kontemporer—para perupa menghadirkan ragam perspektif tentang air sebagai simbol kehidupan.
Sejumlah seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain Adi Gunawan, Agus Putu Suyadnya, Aqil Reza, Dapott Kesuma, Dewa Made Mustika, Didin Jirot, Gus Anggai, serta I Gusti Ngurah Udiantara yang dikenal dengan nama Tantin.
Selain itu, karya juga dipamerkan oleh I Made Lingkar, I Nyoman Ateng Adiana, I Nyoman Daryai, I Wayan Piki Suyersa, I Wayan Sarcita Yasa, I Wayan Sudarsana, Made Gadis, Marta Dwipayana, Putu Sutawijaya, Sastra Wibawa, Suanjaya Kencut, Tifani Anggun, hingga Tjokorda Bagus Wiratmaja.
Keberagaman latar belakang para seniman menghadirkan spektrum pendekatan artistik yang luas. Dalam beberapa karya, air dimaknai sebagai simbol pemurnian spiritual yang erat dengan tradisi ritual Bali. Dalam karya lainnya, air tampil sebagai metafora perjalanan hidup, perubahan, hingga ingatan budaya yang terus bergerak mengikuti arus zaman.
Pameran ini tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga ruang dialog antara seniman dan publik. Rangkaian kegiatan pameran akan dibuka dengan sesi Artist Talk pada hari pembukaan, Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 15.30 WIB. Diskusi ini dimoderatori oleh Adhi Pandoyo dengan menghadirkan pembicara Asmudjo J. Irianto serta I Gusti Ngurah Udiantara.
Dalam diskusi tersebut, para pembicara akan mengulas proses kreatif para perupa Sanggar Dewata Indonesia sekaligus membahas bagaimana konsep tirta diterjemahkan ke dalam bahasa visual seni rupa kontemporer.
Sebagai salah satu ruang seni yang aktif di kawasan Kota Lama Semarang, Semarang Contemporary Art Gallery selama ini dikenal konsisten menghadirkan pameran yang mempertemukan seniman dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran pameran ini sekaligus memperkuat jejaring dialog seni antara komunitas perupa Bali dan publik seni di Kota Semarang.
Bagi para seniman yang terlibat, pameran ini bukan sekadar ruang presentasi karya, melainkan juga kesempatan untuk membuka refleksi yang lebih luas tentang hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas.
Dalam pandangan mereka, air bukan sekadar unsur alam yang mengalir di sungai atau jatuh sebagai hujan. Ia merupakan bagian dari kosmologi budaya yang mengandung nilai kehidupan, keseimbangan, serta kesadaran spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui “Tirta: Ambang Alir”, para perupa mengajak publik untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan air—unsur yang sering kali dianggap sederhana, namun sesungguhnya menyimpan makna mendalam dalam perjalanan peradaban manusia.
Pameran ini terbuka untuk umum selama periode 7 Maret hingga 10 Mei 2026 di Semarang Contemporary Art Gallery, Jalan Taman Srigunting No. 5, kawasan Kota Lama Semarang.
Dengan tema yang mengalir dari tradisi menuju tafsir kontemporer, “Tirta: Ambang Alir” diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara seni, spiritualitas, dan refleksi budaya di tengah dinamika kehidupan modern. (Christian Saputro)




