SEMARANG — Senja Ramadhan perlahan turun di halaman Roemah Difabel Untung Suropati, Jumat (13/3/2026). Di tempat sederhana itu, puluhan orang berkumpul: relawan, sahabat difabel, tokoh masyarakat, hingga perwakilan dunia usaha. Mereka datang bukan sekadar untuk berbuka puasa bersama, tetapi untuk merayakan sebuah gagasan yang lebih besar—tentang kebersamaan, empati, dan masyarakat yang inklusif.
Kegiatan bertajuk Ramadhan Inklusi 1447 H yang digelar Yayasan Roemah Difabel Indonesia (YRDI) bersama Komunitas Sahabat Difabel itu mengusung tema “Harmoni Dalam Toleransi.” Sebuah tema yang terasa relevan di tengah upaya membangun masyarakat yang lebih terbuka bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas.
Rangkaian acara dimulai dengan sambutan Ketua Panitia Safira, yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap komunitas difabel.
“Acara ini bukan hanya tentang berbuka puasa bersama. Ini adalah ruang perjumpaan, ruang empati, dan ruang untuk saling menguatkan,” ujar Safira.
Suasana kemudian menjadi khidmat ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan oleh Rafi, disusul pembacaan terjemahan oleh Faradhela Happy Ramadhani. Para peserta tampak larut dalam suasana reflektif menjelang waktu berbuka.
Sepanjang kegiatan, acara dipandu dengan hangat oleh dua pembawa acara, Ariel Saptawulan dan Ardhi Prasidya, yang menjaga alur acara tetap tertib sekaligus penuh keakraban.
Founder Yayasan Roemah Difabel Indonesia, Noviana Dibyantari, dalam sambutannya menegaskan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial.
“Ramadhan mengajarkan kita empati dan kasih sayang. Melalui tema Harmoni Dalam Toleransi, kita belajar bahwa kebersamaan bukan hanya hidup berdampingan, tetapi juga saling membuka ruang dan saling menguatkan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa difabel bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi dan berkarya. Tantangan terbesar yang sering dihadapi justru berasal dari keterbatasan akses dan kesempatan di tengah masyarakat.
Karena itu, keberadaan Roemah Difabel Indonesia diharapkan menjadi ruang aman sekaligus ruang harapan bagi sahabat difabel untuk berkembang, berdaya, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
“Kami percaya masyarakat inklusif hanya bisa terwujud jika pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat sipil berjalan bersama,” kata Noviana.
Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan. Komunitas Sahabat Difabel dan YRDI menyampaikan terima kasih kepada para donatur dan mitra, antara lain INVI Jakarta, Pemerintah Kota Semarang, Yulius Aribowo, KELASI Keuskupan Agung Semarang, Ellies Aliman, serta Hendrar Prihadi.
Dukungan juga datang dari berbagai lembaga dan perusahaan seperti Yayasan Anne Avantie, PT Albasia Kayu Prima, Indofood, Marimas Putera Kencana, serta Teh 2 Tang.
Sejumlah tokoh dan individu juga ikut berpartisipasi, di antaranya Mia Dewanti, Catharina Hadiningtyas, Adi Herlaksana, Dini Rakhmawati, Didik Sugiyanto, hingga Veronica Laiyan.
Partisipasi juga datang dari pelaku usaha dan komunitas seperti Ida Modiste, Pawonedhedul, serta Hotel Tentrem.
Menjelang waktu berbuka, kegiatan ditutup dengan tausiyah yang mengajak para peserta memaknai Ramadhan sebagai waktu untuk memperkuat kepedulian sosial dan membangun masyarakat yang lebih ramah bagi semua.
Menurut Safira, dukungan dari berbagai pihak menjadi bukti bahwa solidaritas terhadap kelompok difabel masih tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Bagi komunitas difabel, kegiatan sederhana seperti buka puasa bersama ini bukan sekadar perayaan Ramadhan. Ia adalah peneguhan bahwa keberagaman bukanlah sekat, melainkan kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama.
(Christian Saputro)




