Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pengamat Seni Rupa tinggal di Semarang
Di sebuah ruang pamer di Kota Lama, orang-orang berdiri agak lama di depan gambar yang sebenarnya sederhana. Tidak ada warna mencolok. Tidak ada efek dramatis. Hanya garis, kadang tipis, kadang tegas—dan sebuah ide yang diam-diam menggoda untuk dipikirkan.
Lalu terdengar tawa kecil.
Bukan tawa keras, melainkan senyum yang pecah pelan—seperti seseorang baru saja “ditampar halus” oleh kenyataan.
Kartun memang bekerja seperti itu.
Dan entah sejak kapan, bahasa sunyi itu menemukan rumahnya di Semarang.
Sejarah kartun di Semarang tidak lahir dari satu peristiwa besar. Ia tumbuh seperti kota ini sendiri: pelan, berlapis, dan sering kali tak disadari.

Dari sinilah embrio itu tumbuh.
Semarang bukan pusat media nasional seperti Jakarta. Namun justru karena itu, ia memberi ruang yang lebih “longgar”—tempat kartunis berkembang tanpa tekanan industri besar. Mereka menggambar lebih jujur, lebih lokal, lebih dekat dengan denyut kehidupan sehari-hari.
Memasuki akhir 1980-an hingga 1990-an, kota ini mulai dikenal sebagai tuan rumah pameran dan festival kartun. Kegiatan ini tidak selalu besar, tetapi konsisten. Dari ruang galeri kecil hingga gedung-gedung komunitas, kartun dipamerkan, diperdebatkan, dan dirayakan.
Dari sinilah reputasi itu perlahan terbentuk.
Memasuki era 2000-an, ekosistem kartun Semarang menemukan bentuknya yang lebih jelas.
Komunitas menjadi kunci.
Kelompok seperti Gold Pencil Indonesia, berbagai forum independen, hingga jaringan kartunis kampus menciptakan ruang belajar yang cair. Tidak ada kurikulum resmi. Tidak ada struktur kaku. Yang ada adalah pertemuan, diskusi, kritik, dan latihan tanpa henti.
Di ruang-ruang seperti inilah lahir generasi baru.
Sebut salah satu nama yang menonjol adalah Jitet Koestana. Ia dikenal melalui karya-karya yang kuat secara gagasan, sering bermain pada ironi sosial dengan pendekatan visual yang bersih dan langsung. Kemenangannya dalam lomba kartun internasional di Turki bukan sekadar prestasi personal, melainkan penanda bahwa kartunis dari Semarang mampu bersaing di panggung global.
Selain itu, muncul pula nama-nama lain—baik yang menetap di Semarang maupun yang pernah ditempa oleh ekosistemnya. Mereka membawa gaya yang beragam:
Kartun editorial dengan garis tegas dan kritik sosial yang tajam, sering muncul di media cetak.
Kartun humor ringan, yang bermain pada absurditas keseharian masyarakat urban.
Kartun konseptual, yang lebih dekat dengan seni rupa kontemporer—minim teks, kuat dalam simbol.
Sebagian dari mereka memilih tetap bekerja di balik layar—mengirim karya ke kompetisi internasional di Iran, Turki, Italia, hingga Jepang. Sebagian lain aktif dalam pameran dan pendidikan komunitas.
Tidak semua nama dikenal publik luas. Namun justru di situlah kekuatannya: ekosistem ini tidak bergantung pada satu figur besar.
Ia hidup sebagai jaringan.
Puncak visibilitas itu tampak dalam berbagai perhelatan internasional di Semarang, termasuk Semarang Cartoonfest. Dalam satu edisi, ratusan kartunis dari puluhan negara berkumpul, membawa perspektif yang berbeda-beda—tentang politik, lingkungan, hingga kemanusiaan.
Semarang berubah menjadi titik temu global.
Di ruang itu, kartun tidak lagi sekadar hiburan. Ia menjadi bahasa lintas budaya.
Namun di balik gemerlap perhelatan, ada kerja panjang yang sering luput dilihat: kurasi, komunikasi internasional, pengarsipan, hingga upaya menjaga kesinambungan acara.
Dan semua itu dikerjakan oleh komunitas—bukan industri besar.
Jika ditarik lebih jauh, kekuatan kartun Semarang sebenarnya terletak pada kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari.
Kartunis di kota ini cenderung tidak berjarak dengan realitas. Mereka menggambar kemacetan, birokrasi, harga kebutuhan pokok, hingga ironi kehidupan urban—dengan cara yang sederhana, tetapi mengena.
Gaya visualnya pun cenderung “hemat”: tidak berlebihan, tidak dekoratif. Garis digunakan seperlunya, warna sering kali minimal, tetapi pesan tetap sampai.
Seperti kota yang melahirkannya.
Namun ekosistem ini tidak tanpa tantangan.
Regenerasi menjadi persoalan yang nyata.
Generasi lama yang dibesarkan oleh media cetak perlahan bergeser, sementara generasi digital menghadapi distraksi yang lebih luas—dari ilustrasi komersial hingga konten media sosial.
Di sisi lain, teknologi—termasuk kecerdasan buatan—mengubah lanskap kreatif. Gambar bisa dibuat lebih cepat, lebih instan. Tetapi pertanyaannya: apakah ia masih menyimpan “rasa”?
Kartun, pada dasarnya, bukan sekadar gambar. Ia adalah cara berpikir.
Dan cara berpikir tidak bisa diotomatisasi sepenuhnya.
Di titik inilah Semarang diuji: apakah ia mampu mempertahankan kedalaman di tengah percepatan zaman.
Lalu, benarkah Semarang adalah ibu kota kartun?
Mungkin jawabannya tidak perlu terlalu tegas. Ia bukan ibu kota dalam arti administratif. Tidak juga dalam arti industri besar seperti animasi atau komik populer.
Namun ia adalah ibu kota dalam arti yang lebih sunyi: ruang perjumpaan,ruang belajar, ruang yang menjaga api kecil agar tetap menyala.
Di kota ini, kartun tidak selalu menjadi headline. Ia tidak selalu tampil di depan.
Tetapi ia ada. Di meja gambar. Di pojok ruang komunitas.
Di lembar koran yang mungkin hanya dilihat sekilas.
Dan selama masih ada yang menggambar—
masih ada yang berani menyentil dengan halus,
masih ada yang percaya bahwa satu garis bisa memuat satu gagasan—
maka Semarang tidak sekadar dikenang sebagai “ibu kota kartun.”
Ia sedang menjalani peran itu, diam-diam.
Sebagai kota yang tidak banyak bicara,
tetapi terus menggambar dunia—
dengan caranya sendiri. (*)




