Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Pengamat Seni Rupa tinggal di Semarang
Semarang – Sejarah sering kali mencari bentuk yang kasatmata: gedung, institusi, arsip, atau nama besar yang tertera rapi dalam buku. Tetapi tidak semua sejarah lahir dari sana. Ada yang tumbuh dari sesuatu yang jauh lebih sederhana—seorang manusia, sebuah ruang kecil, dan kebiasaan yang diulang tanpa banyak suara.
Ko Pho adalah salah satunya.
Ia tidak membangun sekolah. Tidak mendirikan akademi. Tidak pula meninggalkan manifesto yang bisa dikutip panjang dalam diskursus seni rupa. Yang ia lakukan tampak sederhana: melukis, bekerja, dan membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar.
Namun justru dari kesederhanaan itulah, sesuatu yang lebih besar mulai terbentuk.
Pada mulanya, semuanya berawal dari individu.
Seorang pelukis yang memilih realisme sebagai jalan. Yang melihat dunia tidak sebagai sesuatu yang harus diperindah, tetapi dipahami. Yang percaya bahwa kejujuran pada objek adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap kehidupan.
Di rumahnya di kawasan Indraprasta, ia tidak mengajar dalam pengertian formal. Tidak ada kurikulum. Tidak ada jenjang. Tidak ada kelulusan.
Yang ada hanyalah proses.
Orang-orang datang. Duduk. Mengamati. Mencoba. Salah. Mengulang.
Di situlah pelan-pelan terbentuk sesuatu yang tidak disadari sebagai “sistem”—sebuah cara belajar yang berbasis kedekatan, ketekunan, dan keteladanan.
Ko Pho tidak pernah menyebutnya sebagai metode. Tetapi murid-muridnya merasakannya sebagai pengalaman yang membentuk.
Waktu berjalan, dan individu itu mulai berlipat.
Murid-murid datang dan kemudian menjadi pelukis dengan jalannya masing-masing. Nama-nama seperti Ping Tjiang, Yoyok Barokalloh, S. Hartono, Tomy Adjik Susanto, Giman Mastuwo, Imron, Sri Parminto, hingga Suyanto E.A. bukan sekadar daftar—mereka adalah simpul-simpul awal dari jaringan yang lebih luas.
Di titik ini, sesuatu mulai berubah.
Apa yang semula hanya hubungan guru dan murid, perlahan menjadi hubungan antar-sesama. Percakapan tidak lagi satu arah. Ia menyebar. Berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
Ko Pho mungkin tidak pernah merancangnya, tetapi sebuah ekosistem mulai tumbuh.
Ekosistem itu tidak lahir dengan nama. Ia tidak langsung memiliki bentuk yang jelas. Ia tumbuh dari kebiasaan bertemu, berdiskusi, saling mengkritik, dan saling menjaga semangat.
Setelah sang guru tiada, barulah kebutuhan untuk “menamai” muncul.
Dan lahirlah Arimbi.
Sebuah komunitas yang bukan sekadar wadah, tetapi perpanjangan ingatan. Nama yang diambil dari alamat rumah sang guru itu menjadi penanda bahwa yang dijaga bukan hanya karya, tetapi juga asal-usul.
Di dalam Arimbi, relasi lama tidak putus. Ia justru diperluas.
Dari guru ke murid,
menjadi murid ke murid,
lalu menjadi generasi ke generasi.
Di sinilah transformasi itu menjadi utuh: dari individu ke ekosistem.
Ekosistem yang tidak bergantung pada satu orang. Tidak runtuh ketika satu nama hilang. Karena yang diwariskan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga nilai.
Nilai tentang kerja keras.
Tentang disiplin.
Tentang ketulusan dalam berbagi.
Nilai-nilai itu bergerak seperti arus bawah—tidak selalu terlihat, tetapi menentukan arah.
Dalam banyak kasus, seni rupa berkembang melalui institusi: sekolah, galeri, atau pasar seni. Namun yang terjadi di Semarang melalui Ko Pho menunjukkan kemungkinan lain.
Bahwa seni juga bisa tumbuh melalui hubungan manusia.
Bahwa pewarisan tidak selalu membutuhkan struktur formal.
Bahwa yang paling bertahan justru sering kali yang tidak direncanakan.
Ekosistem yang lahir dari Ko Pho adalah ekosistem yang organik. Ia tidak rapi, tetapi hidup. Ia tidak selalu tercatat, tetapi terasa.
Hari ini, ketika generasi baru pelukis Semarang mulai mencari jalannya—baik dalam realisme, abstraksi, maupun bentuk-bentuk kontemporer—jejak itu masih bisa dilacak.
Bukan pada gaya yang seragam,
tetapi pada sikap.
Pada cara bekerja yang tekun.
Pada cara melihat yang jujur.
Pada kesediaan untuk terus belajar.
Di situlah Ko Pho masih hadir—bukan sebagai figur masa lalu, tetapi sebagai bagian dari cara berpikir yang terus bergerak.
“Dari individu ke ekosistem” bukan sekadar perubahan skala. Ia adalah perubahan cara keberlanjutan bekerja.
Individu bisa hilang.
Ekosistem bertahan.
Dan mungkin, tanpa pernah ia rencanakan, itulah warisan terbesar Ko Pho:
bukan lukisan yang tergantung di dinding, melainkan jaringan manusia yang terus hidup, saling terhubung, dan terus melanjutkan apa yang pernah dimulai—
dengan cara yang sederhana, tetapi tak pernah selesai. (*)




