Di sebuah sudut kota pelabuhan yang sejak lama akrab dengan suara kapal, teriakan buruh, dan aroma rempah yang datang dari jauh, sejarah sering kali tidak berdiri dalam monumen besar. Ia bersembunyi di gang-gang sempit, di antara tembok-tembok tua yang menua bersama waktu. Di sanalah, di jantung Semarang, sebuah balai pernah didirikan—bukan sekadar bangunan, melainkan ruang di mana manusia belajar untuk tidak sendiri.
Namanya: Boen Hian Tong.
Malam itu, langit Pecinan dipenuhi cahaya. Lampion-lampion merah bergoyang pelan, seperti napas yang tak tergesa. Hari itu adalah Cap Go Meh—puncak dari perayaan panjang Tahun Baru Imlek. Tahun 1876. Orang-orang keluar rumah, mengenakan pakaian terbaik mereka. Ada tawa, ada doa, ada harapan yang diam-diam diselipkan dalam setiap langkah. Namun, di sebuah ruang yang lebih sunyi di Gang Gambiran—yang kini dikenal sebagai Gang Pinggir—beberapa lelaki berkumpul. Mereka bukan orang biasa.
Mereka adalah mereka yang memahami bahwa sebuah komunitas tidak cukup hanya hidup dari perdagangan dan relasi ekonomi. Ia butuh ruang bersama. Ia butuh makna.
Di antara mereka ada Tan Ing Tjong, seorang Luitenant der Chinezen—jabatan yang tidak sekadar administratif, tetapi juga simbol perantara antara dunia kolonial dan dunia komunitas. Bersamanya, ada nama-nama lain: Be Bie Siang, Liem Kiem Ling, Tan Tjong Tien, Auw Yang Djie Kiauw, dan Oen Tiauw Kie. Mereka datang bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai penjaga masa depan yang belum terucapkan. Malam itu, mereka mendirikan sebuah perkumpulan. Tidak ada gemuruh sejarah. Tidak ada pidato panjang yang tercatat lengkap. Namun, sebuah keputusan diambil: membangun sebuah “rumah bersama”.
Boen. Hian. Tong.
Sebuah nama yang sederhana, tetapi mengandung dunia di dalamnya. Dalam bahasa yang diwariskan dari tanah leluhur: “Boen” berarti kebudayaan; “Hian” berarti kebajikan; dan “Tong” adalah rumah. Boen Hian Tong adalah rumah bagi kebudayaan dan kebajikan.
Pada masa itu, Semarang adalah simpul dunia di bawah kekuasaan Hindia Belanda, diatur dalam stratifikasi sosial yang tegas. Komunitas Tionghoa berada di tengah, dalam ruang yang ambigu. Di sanalah Boen Hian Tong lahir, mencatatkan diri secara resmi melalui publikasi pemerintah kolonial pada Februari 1876 di surat kabar De Locomotief. Dengan iuran masuk lima puluh gulden dan kontribusi bulanan dua gulden, mereka membangun struktur organisasi yang modern namun berakar pada nilai tradisional Konfusianisme: Ren (belas kasih), Yi (keadilan), dan Li (tata cara).
Awalnya, fungsi utama perkumpulan ini adalah sebagai jaring pengaman sosial. Ketika seorang anggota meninggal, perkumpulan turun tangan membiayai pemakaman. Ketika ada pernikahan atau kesulitan ekonomi, bantuan mengalir deras. Namun, jiwa dari Boen Hian Tong tidak hanya terletak pada administrasi kematian atau bantuan dana. Jiwa sejatinya berdenyut dalam seni, dalam musik, dan dalam sebuah ruang sakral yang didedikasikan untuk keindahan.
Dewa Kesenian: Penjaga Irama Lam Kwan
Di jantung aktivitas Boen Hian Tong, terdapat sebuah dimensi spiritual dan artistik yang sering kali luput dari catatan sejarah kering, namun menjadi napas yang menghidupkan perkumpulan ini selama hampir satu setengah abad. Dimensi itu berpusat pada apa yang bisa disebut sebagai “Dewa Kesenian”—sebuah personifikasi dari semangat seni yang dijaga, dihormati, dan dipuja dalam setiap helai napas musik Lam Kwan.
Bagi para pendiri Boen Hian Tong, seni bukanlah sekadar hiburan pelepas lelah setelah berdagang seharian. Seni adalah ritual. Seni adalah doa. Dan dalam tradisi Tionghoa peranakan di Semarang, musik Lam Kwan memegang peranan sentral yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia leluhur, bahkan dengan yang Ilahi.
Lam Kwan (atau sering juga disebut Lam Guan) adalah orkes tradisional Tionghoa yang menggunakan alat-alat musik petik dan gesek khas, seperti erhu, pipa, yangqin, dan guzheng, yang dipadukan dengan instrumen perkusi. Iramanya khas: melankolis namun agung, lambat namun penuh tenaga, seolah menceritakan kisah-kisah panjang tentang perjalanan hidup, kerinduan akan tanah leluhur, dan harapan akan kedamaian.
Di dalam gedung Boen Hian Tong, terdapat sebuah ruang khusus atau altar yang didedikasikan bagi pelindung kesenian ini. Masyarakat setempat dan para anggota perkumpulan sering mengasosiasikan keberadaan “Dewa Kesenian” ini dengan Tian Hou (Dewa Laut) atau dewa-dewa pelindung seni lainnya yang diyakini menyukai alunan Lam Kwan. Dalam kepercayaan yang berkembang, dewa ini tidak meminta korban domba atau babi, melainkan meminta “persembahan” berupa nada yang dimainkan dengan hati yang bersih. Setiap kali alat musik dibunyikan, dianggap sebagai sebuah upacara pemujaan terhadap keindahan dan harmoni semesta.
Keberadaan “Dewa Kesenian” ini bukan sekadar mitos kosong. Ia berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial dan moral bagi para anggotanya. Untuk bisa memainkan musik di hadapan “Dewa”, seorang musisi harus memiliki hati yang baik, perilaku yang sopan, dan sikap yang rendah hati. Musik Lam Kwan di Boen Hian Tong menjadi sarana pendidikan karakter. Anak-anak muda yang belajar musik di sana tidak hanya diajarkan teknik memetik senar, tetapi juga diajarkan filosofi Ren (kasih sayang) dan Li (tata krama). Jika seseorang bermain musik dengan sombong atau berniat buruk, konon, nadanya akan terdengar sumbang dan tidak akan mendapat restu dari “Dewa”.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika gelombang modernisasi mulai masuk ke Semarang, banyak tradisi lokal yang tergerus. Namun, di bawah naungan “Dewa Kesenian” ini, Boen Hian Tong berhasil mempertahankan kemurnian Lam Kwan. Ruang balai berubah menjadi konservatorium informal. Di malam-malam tertentu, terutama menjelang hari raya besar atau ulang tahun perkumpulan, udara di Gang Gambiran akan dipenuhi oleh alunan musik yang menyayat hati. Suara erhu yang melengking mirip tangisan manusia bersahutan dengan denting pipa yang jernih seperti air mata.
Para tetua sering bercerita bahwa di saat-saat genting, ketika komunitas menghadapi ancaman diskriminasi atau tekanan politik, musik Lam Kwan menjadi benteng pertahanan mental. Dengan duduk melingkar, memejamkan mata, dan membiarkan jiwa terbawa oleh irama suci tersebut, para anggota menemukan ketenangan dan kekuatan baru. Seolah-olah, “Dewa Kesenian” hadir di tengah-tengah mereka, membisikkan bahwa selama mereka masih mampu menciptakan keindahan, mereka tidak akan pernah hancur.
Fenomena ini menunjukkan betapa dalamnya integrasi antara spiritualitas dan seni dalam budaya Boen Hian Tong. Mereka tidak memisahkan antara urusan duniawi (sosial-ekonomi) dan urusan langit (spiritual-seni). Keduanya menyatu dalam satu tarikan napas. Ketika mereka mengumpulkan dana untuk memakamkan anggota yang miskin, mereka melakukannya dengan semangat kebajikan yang sama ketika mereka berlatih musik untuk mempersembahkan lagu bagi “Dewa”.
Seiring berjalannya waktu, generasi berganti. Alat-alat musik tua mungkin telah diganti dengan yang baru, notasi musik mungkin telah ditranskripsi ke dalam sistem barat, namun esensi dari penyembahan terhadap “Dewa Kesenian” ini tetap hidup. Ia bertransformasi menjadi rasa hormat yang mendalam terhadap warisan budaya. Para musisi muda Rasa Dharma (nama baru Boen Hian Tong) hari ini mungkin tidak lagi secara harfiah membakar dupa untuk dewa sebelum tampil, tetapi mereka tetap membawa rasa sakral yang sama saat naik ke panggung. Mereka sadar bahwa mereka sedang melanjutkan estafet nada yang telah dimulai lebih dari 140 tahun lalu, sebuah rantai emas yang menghubungkan mereka dengan Tan Ing Tjong dan para pendiri lainnya.
Dalam konteks kekinian, konsep “Dewa Kesenian” ini juga dapat dimaknai secara metaforis sebagai roh kreativitas yang menjunjung tinggi toleransi. Boen Hian Tong, melalui musiknya, telah menjadi jembatan antar-etnis. Banyak pemain Lam Kwan di perkumpulan ini yang berasal dari latar belakang non-Tionghoa. Mereka belajar, bermain, dan menghormati “Dewa” yang sama—dewa yang mengajarkan bahwa musik adalah bahasa universal yang tidak mengenal ras atau agama. Dalam harmoni Lam Kwan, semua perbedaan melebur menjadi satu suara yang indah.
Jadi, ketika kita berbicara tentang sejarah Boen Hian Tong, kita tidak boleh melupakan dimensi ini. Sejarah perkumpulan ini bukan hanya tentang rapat-rapat pengurus, laporan keuangan, atau bantuan sosial. Sejarah ini juga tentang malam-malam sunyi di mana segelintir orang duduk bersama, menyalakan lilin, dan membiarkan jiwa mereka terbang bersama alunan Lam Kwan, percaya bahwa ada kekuatan besar—sebut saja Dewa Kesenian—yang menjaga agar api budaya mereka tidak pernah padam dimakan zaman.
Transformasi di Tengah Badai Zaman
Waktu bergerak, seperti air yang tidak pernah benar-benar diam. Memasuki abad ke-20, dunia berubah drastis. Kolonialisme mulai retak. Perang datang dan pergi. Jepang masuk, Belanda pergi, Indonesia lahir sebagai negara merdeka. Dalam setiap perubahan politik yang mengguncang itu, komunitas Tionghoa di Semarang harus terus menegosiasikan identitasnya. Boen Hian Tong pun tidak tinggal diam. Ia beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Dari sebuah perkumpulan seni dan solidaritas internal yang kental dengan nuansa etnis, ia perlahan bermetamorfosa menjadi lembaga sosial yang lebih luas dan inklusif. Layanan pemakaman yang dulunya hanya untuk anggota, kini terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan. Bantuan sosial diperluas jangkauannya. Namun, perubahan terbesar terjadi pada paradigma keanggotaannya.
Di abad ke-21, nama Boen Hian Tong secara resmi bertransformasi menjadi Perkumpulan Sosial Budaya “Rasa Dharma”. Perubahan nama ini bukan sekadar kosmetik, melainkan sebuah pernyataan sikap yang radikal. “Rasa Dharma” mengandung makna mendalam: Rasa (perasaan/kepekaan) dan Dharma (kewajiban/kebajikan universal). Nama ini menghapus sekat-sekat eksklusivitas etnis. Jika dahulu ia adalah rumah bagi orang Tionghoa, kini ia mendeklarasikan diri sebagai rumah bagi semua umat manusia. Etnis Jawa, Tionghoa, Arab, India, maupun campuran; Muslim, Kristen, Buddha, Konghucu, Hindu—semua bisa masuk. Semua bisa menjadi bagian.
Langkah ini sangatlah progresif di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh isu SARA. Rasa Dharma membuktikan bahwa identitas lokal yang kuat justru bisa menjadi fondasi untuk merangkul keberagaman global. Mereka tidak membuang akar Tradisi Tionghoa mereka; sebaliknya, mereka menjadikan nilai-nilai luhur tradisi tersebut—seperti gotong royong dan penghormatan pada leluhur—sebagai platform untuk membangun persaudaraan lintas iman.
Ingatan Kolektif yang Hidup
Yang paling menarik dari sejarah panjang ini bukanlah perubahan besar yang mudah dicatat dalam buku teks, melainkan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Seperti bagaimana sebuah bangunan tua di gang sempit itu tetap berdiri tegak, meski catnya mengelupas dimakan cuaca tropis. Seperti bagaimana orang-orang masih rela datang ke sana di hari Minggu pagi, bukan karena kewajiban administrasi, tetapi karena mereka merasa memiliki. Seperti bagaimana ingatan kolektif bekerja—diam-diam, tanpa paksaan, tetapi kuat mengikat.
Di dalam gedung Rasa Dharma hari ini, waktu seolah tidak berjalan lurus. Ia berlapis-lapis. Masa lalu dan masa kini saling bertumpuk dalam harmoni yang unik. Di satu sudut ruangan, Anda mungkin akan melihat pertunjukan wayang potehi yang dimainkan oleh dalang senior dengan kostum tradisional. Di sudut lain, sekelompok mahasiswa dari berbagai universitas sedang mengadakan diskusi lintas agama tentang toleransi. Di hari tertentu, dapur umum mengepul, membagikan ribuan nasi kotak kepada warga sekitar yang terdampak banjir atau pandemi, tanpa bertanya apa agama atau suku penerima bantuan.
Semua aktivitas itu adalah kelanjutan langsung dari satu keputusan sederhana yang diambil pada malam Cap Go Meh tahun 1876. Keputusan untuk tidak hidup sendiri. Keputusan untuk peduli.
Apa yang membuat sebuah organisasi bertahan selama lebih dari satu abad? Bukan sekadar struktur organisasi yang rapi. Bukan sekadar kas yang tebal. Bukan pula nama besar para pendirinya. Jawabannya mungkin sangat sederhana: karena ia dibangun dari kebutuhan manusia yang paling mendasar dan nyata. Manusia, pada hakikatnya, adalah makhluk sosial yang rapuh. Ia butuh komunitas. Ia butuh ruang untuk berbagi cerita, untuk didengar tangisnya, dan untuk diingat namanya saat tiada. Boen Hian Tong, dan kini Rasa Dharma, memahami kebutuhan eksistensial itu sejak awal.
Sejarah umat manusia sering kali ditulis dengan tinta darah: perang, revolusi, kudeta, pergantian kekuasaan yang dramatis. Tetapi di balik narasi besar itu, ada sejarah lain yang lebih sunyi, lebih lembut, namun tidak kalah penting. Sejarah tentang bagaimana manusia biasa merawat satu sama lain. Boen Hian Tong adalah bab penting dalam sejarah sunyi itu. Ia tidak mengubah peta geopolitik dunia. Ia tidak menjatuhkan pemerintahan kolonial dengan senjata. Tetapi ia melakukan sesuatu yang mungkin lebih sulit: ia memastikan bahwa di tengah perubahan yang tak terelakkan, di tengah ketidakpastian hidup, ada sesuatu yang tetap: rasa kebersamaan.
Dan dalam dunia modern yang sering kali terasa dingin, terpecah, dan individualistis, tindakan sederhana untuk tetap menjaga rasa kebersamaan mungkin adalah hal paling radikal yang bisa dilakukan.
Gema yang Tak Pernah Usai
Hari ini, ketika kita berjalan menyusuri kawasan Pecinan Semarang, mata kita mungkin akan langsung tertuju pada toko-toko emas yang berkilau, restoran mewah, atau bangunan klenteng Sam Poo Kong yang megah. Kita mungkin tidak langsung menyadari keberadaan sejarah sunyi seperti Boen Hian Tong yang bersembunyi di balik dinding gang sempit. Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan dengan ruko modern. Suara knalpot kendaraan bercampur dengan percakapan pedagang.
Namun, jika kita berhenti sejenak. Jika kita menutup mata dan memberi ruang untuk mendengar lebih dalam, mungkin kita akan merasakan sesuatu yang lain. Sebuah gema.
Gema dari malam Cap Go Meh tahun 1876, ketika para pendiri itu menyalakan lilin pertama mereka. Gema dari musik Lam Kwan yang pernah mengalun, menggetarkan jiwa para leluhur. Gema dari langkah-langkah kaki orang-orang yang datang untuk saling membantu, memikul jenazah tetangga, atau sekadar berbagi secangkir teh hangat.
Semua itu tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk, menyesuaikan diri dengan wajah zaman, namun intinya tetap sama. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, yang sering kali melupakan masa lalu demi mengejar masa depan yang abstrak, kisah seperti Boen Hian Tong mengingatkan kita pada kebenaran yang sederhana namun fundamental: Bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan akar. Bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Bahwa identitas tidak harus eksklusif untuk tetap kuat.
Di sebuah gang yang mungkin luput dari perhatian banyak orang, sebuah balai pernah didirikan. Ia tidak besar. Ia tidak megah seperti istana. Tetapi ia hidup. Dan selama masih ada orang yang datang, yang duduk bersama, yang berbagi cerita, yang memainkan nada Lam Kwan dengan cinta, ia akan terus hidup.
Mungkin, pada akhirnya, itulah makna sebenarnya dari Boen Hian Tong. Bukan sekadar bangunan bata dan semen. Bukan sekadar organisasi dengan anggaran dasar dan rumah tangga. Melainkan sebuah cara untuk mengatakan kepada dunia, dengan lantang namun penuh kasih:
Kita ada. Dan kita tidak sendiri. (Christian Heru Cahyo Saputro)




