SEMARANG, SP – Suasana berbeda menyelimuti Aula Gedung B Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) pada 14-15 Juli 2026. Bukan sekadar ruang kuliah atau rapat, aula tersebut bertransformasi menjadi galeri seni terbuka yang ramai oleh tawa dan decak kagum pengunjung. Ratusan karya seni dari siswa SD, mahasiswa, seniman profesional, hingga sahabat difabel dipamerkan dalam Education Art Festival (EAF) ke-5 dengan tema “Ekspresi Riang Gembira”.
Festival tahun ini tidak hanya merayakan kreativitas, tetapi juga menegaskan komitmen terhadap pendidikan yang inklusif. Kehadiran karya-karya sahabat difabel menjadi sorotan utama, membuktikan bahwa seni adalah hak dan bahasa universal bagi semua kalangan tanpa batasan fisik.
Ketua Panitia EAF #5 menyatakan bahwa tema tahun ini sengaja dipilih untuk menciptakan ruang psikologis yang positif dan inklusif bagi para pelaku pendidikan.
“Kami ingin mengembalikan esensi seni sebagai permainan dan kebebasan. Melalui kegembiraan, hambatan berekspresi—baik itu hambatan psikologis maupun fisik—bisa runtuh,” ujarnya saat membuka acara, Senin (14/7).
Kolaborasi Unik dan Ruang Inklusif
Daya tarik utama pameran tahun ini terletak pada interaksi lintas generasi dan kemampuan. Pengunjung disuguhi pemandangan unik di mana lukisan cat air polos nan jujur karya siswa sekolah dasar, karya kontemporer mahasiswa, serta ekspresi visual sahabat difabel dipajang berdampingan secara harmonis.
Di salah satu sudut, terlihat diskusi hangat antara mahasiswa bimbingan seni, anak-anak SD, dan sahabat difabel. Mereka berbaur membahas teknik dan makna di balik setiap goresan warna. Interaksi ini membuktikan bahwa seni mampu meruntuhkan sekat usia, status sosial, dan keterbatasan fisik, menciptakan dialog setara antara mentor, murid, dan sesama pencinta seni.
Singgih Adi Prasetyo, Dosen Seni Rupa UPGRIS, menilai pendekatan inklusif ini krusial dalam pembentukan karakter calon guru. Menurutnya, kebahagiaan dalam proses berkarya adalah fondasi kreativitas autentik yang harus dapat diakses oleh siapa saja.
“Ketika seseorang merasa riang gembira dan diterima, blokade psikologis akan hilang. Karya yang lahir dari suasana hati bahagia dan ruang yang aman memiliki energi visual yang lebih kuat. Ini harus dipahami calon guru agar mereka bisa menciptakan kelas yang inklusif dan menularkan semangat serupa ke semua murid, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus,” papar Singgih.
Latihan Empati Calon Pendidik
Wakil Rektor Bidang Akademik UPGRIS, Dr. Hartono, menambahkan bahwa festival ini bukan sekadar ajang pamer karya, melainkan laboratorium empati dan kemanusiaan.
“Bagi calon guru, ini adalah latihan memahami bahwa setiap individu memiliki cara unik memandang dunia, terlepas dari kondisinya. Kegembiraan dan inklusi adalah kunci membuka potensi tersebut,” tegasnya.
Selain pameran statis, EAF #5 juga menggelar workshop singkat dan pertunjukan seni spontan yang melibatkan pengunjung secara aktif, termasuk adaptasi metode bagi sahabat difabel. Keriuhan tawa dan apresiasi masyarakat sepanjang dua hari pelaksanaan menegaskan peran seni sebagai bahasa universal pemersatu.
Melalui EAF #5, UPGRIS berharap dapat melahirkan generasi pendidik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara emosional, spiritual, dan memiliki kesadaran inklusivitas tinggi. Acara yang terbuka untuk umum ini berhasil menarik minat warga Semarang dan sekitarnya untuk turut merayakan keberagaman kreativitas anak bangsa. (Christian Saputro)




