SEMARANG – Di tengah hiruk-pikuk Kota Semarang yang kian padat, sebuah ruang sunyi di Tan Art Space justru menjadi tempat bergemuruhnya ribuan cerita yang tak terucapkan. Mulai 25 hingga 31 Maret 2026, Airlangga Satryatama Wisnumurti, seorang mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (UNNES), kembali menggelar pameran tunggal bertajuk “UNSPOKEN”. Ini bukan sekadar pajangan lukisan, melainkan sebuah manifestasi keberanian seorang seniman muda penyandang disleksia yang mengubah keterbatasan bahasa verbal menjadi kekuatan visual yang memukau dan kritis.
Bagi Angga—sapaan akrabnya—dunia kata-kata sering kali merupakan labirin yang membingungkan. Huruf-huruf menari liar, kalimat sulit dirangkai, dan suara bising kegelisahan internal kerap tak menemukan jalan keluar melalui lisan. Namun, di atas kanvas, Angga adalah raja yang absolut. Diagnosis hiperaktif dan disleksia yang menyertainya sejak kecil, yang dulu sempat dianggap sebagai hambatan, kini bermetamorfosis menjadi sumber kreativitas otentik yang langka.
Melalui terapi seni (art therapy) yang ditekuninya bertahun-tahun, Angga menemukan bahwa kuas adalah lidahnya, dan warna-warna cerah adalah teriakannya yang paling lantang.
“UNSPOKEN” menjadi kelanjutan eksplorasi artistiknya setelah sukses dengan pameran tunggal perdana, “My Journey”, di Galeri Gandasuli pada Mei 2024. Jika pameran sebelumnya menjadi penanda awal perjalanan kreatifnya, maka “UNSPOKEN” adalah kedewasaan visi. Di bawah kurasi Puspa Murya Aryani Ramadanti, pameran ini mengajak pengunjung menyelami tiga ruang narasi: Ruang Ingatan, Transisi, dan Ruang Imajinasi.
Di Ruang Ingatan, Angga tidak sekadar melukis sejarah; ia menginterpretasikannya ulang dengan kacamata naif namun tajam. Karya seperti “A Medieval Feasting” dan “Coronation and Divine Right” menggambarkan perebutan kekuasaan abad pertengahan bukan dengan kesan megah, melainkan dengan kecemasan para raja yang waspada terhadap pengkhianatan. Sementara itu, kritik terhadap kolonialisme dan eksploitasi sumber daya alam Nusantara dituangkan dalam “Pangeran Ada di Pasar” dan “Pelabuhan”, yang menyoroti pola illegal fishing dan ketegangan perdagangan masa lalu yang masih relevan hingga hari ini. Angga juga menyinggung kejahatan sistem global modern, seperti kasus Jeffrey Epstein dalam karya “See No Evil”, mengingatkan kita bahwa musuh masa kini sering bersembunyi di balik layar dan regulasi elit.
Masuk ke area Transisi, Angga melakukan reinterpretasi berani terhadap ikon sejarah Indonesia. Dalam “Cerita Akhir Pangeran Diponegoro”, ia memodifikasi lukisan legendaris Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro. Alih-alih adegan dramatis penuh ketegangan, Angga menggambarkan para pengikut Pangeran sedang santai bermain catur, menunggu negosiasi selesai. Ini adalah komentar sosial yang mendalam tentang bagaimana tragedi besar perlahan dinormalisasi dan kehilangan daya emosinya di mata generasi sekarang. Karya “Evolusi Mental di Dunia yang Tak Lagi Berperang” semakin mempertegas poin ini, memotret generasi muda yang terjebak dalam zona nyaman hingga kehilangan daya juang.
Puncak pameran terdapat di Ruang Imajinasi, di mana Angga melepaskan diri dari belenggu fakta historis dan masuk ke dalam dunia mimpi, memori pribadi, dan fantasi. Karya “Fay Micro Plastic Fish” dan “Pantai Plastik” lahir dari pengalaman pribadinya melihat pantai yang tercemar limbah, mengubah kekecewaan menjadi alegori visual yang menyentuh hati. Karya lain seperti “Monalisa”, “Speech”, “Attack”, hingga “World Peace?” hadir dengan figur-figur imajinatif yang lucu dan ramah, namun menyimpan pertanyaan tajam tentang kemanusiaan, komunikasi yang gagal, dan harapan akan perdamaian yang masih tanda tanya.
Gaya visual Angga yang khas—naif, dekoratif, dengan palet warna kontras yang berani—sering kali membuat pengunjung tersenyum pada pandangan pertama. Namun, senyum itu kerap berubah menjadi renungan saat mereka menyadari kedalaman pesan yang dibawa. “Imajinasi bagi Angga bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan alat untuk menafsirkan apa yang tak tersampaikan,” ujar Puspa Murya, kurator pameran. “Melalui goresan simboliknya, Angga membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menjadi kritis terhadap dunia.”
Dukungan Ekosistem: Dari Keluarga hingga Kampus
Keberhasilan Angga mencapai titik ini tidak lepas dari dukungan ekosistem yang kuat. Kedua orang tuanya, Prakoso Juli Wahyono, S.E., dan Sri Purwanti, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi mendalam kepada berbagai pihak yang telah mendampingi tumbuh kembang putra mereka. Mereka menyebut peran krusial dari lingkungan pendidikan mulai dari Sekolah Nasima, komunitas Klub Merby sebagai ruang di mana Angga menemukan dunianya, hingga Pendidikan Seni Rupa UNNES yang mengasah kemampuan akademik dan artistiknya. Penghargaan khusus juga diberikan kepada Hokage Studio yang dinilai turut menempa Angga hingga menemukan jati dirinya sebagai pelukis.
“Kehadiran ekosistem yang suportif menjadi kunci penting dalam perjalanan Angga, sehingga bakat dan kreativitasnya dapat berkembang secara optimal,” ujar kedua orang tua Angga.
Hal senada disampaikan oleh Ratih Ayu Pratiwinindya, S.Pd., M.Pd., Koordinator Program Studi D-3 dan S-1 Pendidikan Seni Rupa UNNES. “Mas Airlangga, atau Mas Angga, merupakan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dengan baik. Ia memiliki kemampuan yang mumpuni. Gaya visual karyanya cenderung naif, yang mungkin bagi sebagian orang tampak tidak berkorelasi dengan usianya. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Gaya tersebut memperlihatkan sisi imajinasi yang khas, bahkan menghadirkan sensibilitas yang sering diasosiasikan dengan dunia anak-anak. Meski secara visual tampak sederhana, isi dan narasi dalam karya-karyanya tidaklah sesederhana itu. Di dalamnya tersimpan banyak pesan mendalam,” jelasnya.
Sementara itu, Krisna Phiyastika, Manager Klub Merby, menekankan proses pendampingan yang egaliter. “Prosesnya sampai menemukan titik ‘klik’ memang tidak instan. Di sini, mereka tidak diberi tuntutan kaku. Mereka diperlakukan setara, sama seperti yang lain, tetapi tetap dalam pendampingan dan kontrol yang terarah.” Dukungan inilah yang memungkinkan Angga berkembang optimal, menjadi pengingat penting bahwa anak-anak dengan keistimewaan membutuhkan ruang tumbuh yang tepat dan pemahaman tulus.
Sebuah Undangan untuk Mendengar yang Sunyi
Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang aktif meraih berbagai penghargaan dalam pameran bersama, komitmen Angga terhadap seni rupa inklusif tak perlu diragukan. Ia tidak ingin karyanya hanya dipandang sebagai produk terapi, melainkan sebagai karya seni serius yang mampu membuka dialog antara seniman, karya, dan publik. “Saya ingin orang melihat dunia dari perspektif berbeda. Membaca tanpa banyak bicara, tapi mampu melihat lebih dalam,” demikian pesan yang tersirat dari setiap kanvasnya.
Pameran “UNSPOKEN” di Tan Art Space ini menjadi bukti nyata bahwa seni adalah ruang demokratis di mana setiap suara, bahkan yang paling sunyi sekalipun, berhak didengar. Bagi Angga, ini adalah perayaan atas perbedaan. Ia mengajarkan kita bahwa di balik tampilan yang jenaka, selalu ada keseriusan yang mendalam; dan bahwa keterbatasan fisik hanyalah awal dari kemungkinan kreatif yang tak terbatas.
Bagi masyarakat Semarang dan pencinta seni, pameran ini adalah undangan untuk berhenti sejenak, melampaui batas bahasa verbal, dan merasakan fakta-fakta dunia yang sering kali tersembunyi di balik warna-warna cerah. Seperti kata Angga melalui karyanya: terkadang, hal yang paling kuat justru adalah yang tidak pernah terucap, namun terasa begitu nyaring di hati.
Info Pameran:
* Judul: UNSPOKEN: Antara Ingatan dan Imajinasi
* Seniman: Airlangga Satryatama Wisnumurti
* Kurator: Puspa Murya Aryani Ramadanti
* Lokasi: Tan Art Space, Semarang
* Tanggal: 25 – 31 Maret 2026
* Jam Buka: (Silakan cek akun media sosial Tan Art Space atau Hokage Studio untuk jam operasional terbaru)
Mari datang, saksikan, dan dengarkan apa yang tak terucapkan. (Christian Saputro)




