CIKARANG – Di tengah hingar-bingar peringatan ulang tahun ke-25 President University (PU), Chairman Jababeka Group, S.D. Darmono, melontarkan sebuah pernyataan yang bukan sekadar janji, melainkan tantangan terbuka bagi ekosistem pendidikan tinggi Indonesia. Dengan nada tegas, ia menyoroti ironi jumlah universitas di Tanah Air yang mencapai lebih dari 4.000 institusi, namun belum satu pun yang mampu menembus jajaran 10 besar World University Rankings.
“Seharusnya kita sangat malu. Singapore, negara kecil, sudah bisa menempatkan National University of Singapore (NUS) dan NTU Singapore di Top Ten Global Universities. Itu adalah tantangan bagi kita semua. Ambisi kami jelas: membawa President University masuk ke dalam jajaran sepuluh besar dunia,” ujar Darmono dalam sambutannya di Cikarang, Bekasi, Kamis (23/4/2026).
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Sejak didirikan seperempat abad lalu, PU memang dirancang dengan DNA yang berbeda. Berlokasi di jantung kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, Jababeka, universitas ini mengadopsi konsep Special Economic Zones (SEZ) ala Singapura. Tujuannya tunggal: menciptakan institusi pendidikan global yang nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.
Laboratorium Hidup di Kawasan Industri
Keunikan PU terletak pada integrasi total antara kampus dan industri. Bagi Darmono, lokasi strategis ini adalah aset terbesar untuk menerapkan konsep Link and Match secara ekstrem. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas ber-AC, tetapi “terjun” langsung ke lantai produksi perusahaan multinasional yang mengelilingi kampus.
“Mahasiswa diarahkan bukan sekadar memiliki skill, tetapi juga kemampuan economic survival,” tegas Darmono. Ia menekankan bahwa kesempatan magang di ratusan pabrik di kawasan Jababeka adalah hak istimewa yang tidak dimiliki kampus lain. “Sangat disayangkan jika mahasiswa tidak mengambil kesempatan ini. Bahkan, saya pernah mengusulkan agar program magang dilakukan sejak semester awal, meski aturan Kementerian Pendidikan Tinggi saat ini masih membatasi magang di semester akhir.”
Model pembelajaran ini telah membuahkan hasil nyata. Pengakuan terhadap kualitas PU bahkan tembus hingga ke tingkat pembuat kebijakan nasional. Darmono mengungkapkan bahwa diskusi intensif mengenai konsep “Kampus Merdeka” dengan seorang mantan Menteri Pendidikan akhirnya bermuara pada pengangkatan Rektor PU saat ini, Prof. Jony Oktavian Haryanto, sebagai staf khusus menteri. Hal ini membuktikan bahwa formula yang diterapkan PU dianggap relevan sebagai percontohan pendidikan tinggi masa depan.
Meniru Stanford dan Harvard dari Cikarang
Strategi lain yang menjadi kunci ambisi global PU adalah penciptaan lingkungan (environment) internasional di dalam kampus. Darmono mencontohkan universitas elit dunia seperti Stanford dan Harvard yang konsisten bertengger di puncak peringkat global berkat keberagaman mahasiswanya.
“Selama ini, yang bisa studi di Stanford atau Harvard hanyalah mereka dari keluarga kaya atau yang dibiayai pemerintah. PU hadir sebagai alternatif bagi mereka yang bukan dari kedua kategori tersebut, namun ingin merasakan atmosfer global,” jelasnya.
Untuk mewujudkan hal itu, PU secara agresif mendatangkan mahasiswa dan dosen asing. Saat ini, komposisi mahasiswa asing di PU telah mencapai 30 persen. Kehadiran mereka dipadukan dengan kebijakan wajib tinggal di asrama kampus (on-campus housing).
“Dengan tinggal di asrama, terjadi pergaulan sehari-hari yang alami antara mahasiswa lokal dan asing. Dari situlah tercipta environment berbahasa asing, khususnya Inggris dan Mandarin, secara otomatis. Ini adalah metode yang terbukti puluhan tahun lalu di universitas-universitas top dunia,” tambah Darmono.
Di usia ke-25 tahun ini, President University tidak lagi melihat diri mereka sekadar sebagai universitas swasta terbaik di Indonesia, melainkan sebagai calon raksasa pendidikan Asia. Dengan kombinasi lokasi strategis di kawasan industri, kurikulum berbasis survival ekonomi, dan lingkungan multikultural yang kental, PU bertekad membuktikan bahwa sebuah universitas di Cikarang mampu bersaing dengan NUS Singapura dan universitas elit lainnya di panggung dunia.
Seperti kata Darmono menutup sambutannya, “Jumlah universitas bukan jaminan kualitas. Yang penting adalah bagaimana kita berani bermimpi besar dan mengeksekusinya dengan standar global.” (Christian Saputro/SL)




