SEMARANG — Perayaan Hari Ulang Tahun ke-160 Klenteng Ling Hok Bio tidak hanya menjadi momentum spiritual dan budaya, tetapi juga ruang ekspresi visual melalui lomba fotografi yang menyedot antusiasme peserta dari berbagai daerah.
Ketua Yayasan TITD Ling Hok Bio Semarang, Liemawan Haryanto, didampingi Humas Panitia, Agung Kurniawan, menyampaikan bahwa lomba foto ini merupakan bagian dari upaya mendokumentasikan sekaligus merawat nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Melalui fotografi, kami ingin menghadirkan kembali semangat kebersamaan, keberagaman, dan kekayaan tradisi yang selama ini menjadi napas dari Ling Hok Bio,” ujar Liemawan dalam keterangannya.
Lomba yang mengangkat tema human interest, documentary, street, dan architecture ini secara khusus memotret rangkaian Kirab Budaya HUT ke-160 Ling Hok Bio yang berlangsung pada 11–12 April 2026. Ratusan karya yang masuk dinilai oleh dewan juri dari Komunitas Fotografi Semarang, dengan mempertimbangkan kekuatan narasi visual, komposisi, serta kedalaman cerita.
Agung Kurniawan menambahkan, karya-karya yang terpilih tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga mampu menangkap momen-momen otentik yang merepresentasikan interaksi budaya di ruang publik.
“Foto-foto pemenang menunjukkan bahwa perayaan ini bukan hanya milik satu komunitas, tetapi menjadi ruang bersama yang terbuka dan inklusif,” katanya.
Dari hasil penilaian, Enny Fajriyati Dwitriana keluar sebagai juara pertama, disusul Barata Adhi di posisi kedua, dan Hardijanto Lukman sebagai juara ketiga. Selain itu, sepuluh karya nominasi juga dipilih sebagai representasi visual terbaik dari keseluruhan kegiatan, yakni Suwito, Gholib, Tirza Felia, Deddy Award Widya Laksana, Praevio Nurwinadi, Wikan Hadi, Suharto Brahma, Heriyanto, Ritchey Joelino, dan Aris Nurhindarto.
Panitia menyediakan total uang pembinaan sebesar Rp5,2 juta, dengan rincian juara pertama Rp1.600.000, juara kedua Rp1.200.000, juara ketiga Rp800.000, serta masing-masing nominasi menerima Rp160.000.
Panitia menegaskan bahwa seluruh karya nominasi dan pemenang akan menjadi bagian dari arsip budaya Ling Hok Bio, serta dapat digunakan untuk kebutuhan non-komersial yayasan.
“Ini bukan sekadar lomba, tetapi dokumentasi sejarah. Apa yang ditangkap para fotografer hari ini akan menjadi ingatan kolektif di masa depan,” ujar Liemawan.
Perayaan 160 tahun Ling Hok Bio sendiri menjadi penanda panjangnya perjalanan klenteng sebagai pusat spiritual sekaligus ruang interaksi lintas budaya di Kota Semarang. Melalui pendekatan seni visual seperti fotografi, nilai-nilai tersebut diharapkan terus hidup dan menjangkau generasi berikutnya. (Christian Saputro)




