SEMARANG — Pameran dan diskusi arsip seni “RANCANG LAKU | Art Archive Exhibition” berlangsung hangat dan penuh antusias di TAN Art Space, Rabu (13/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka bagi para pegiat seni, peneliti, kurator, hingga masyarakat budaya untuk membahas pentingnya arsip dalam merawat ingatan kolektif dan perkembangan ekosistem kebudayaan.
Forum budaya tersebut dipandu Yanuar Aris Budiharto dan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang seni dan budaya. Di antaranya Muhammad Salafi Handoyo, Singgih Adhi Prasetyo, serta Ari Eko Budiyanto.
Selain sesi presentasi, kegiatan juga menghadirkan paparan dari para periset dan seniman residensi bersama Muhammad Rahman Athian yang membahas praktik pengarsipan seni sebagai bagian dari kerja kebudayaan.
Suasana diskusi berlangsung cair dan interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan narasumber, tetapi juga aktif bertukar pandangan mengenai hubungan arsip, seni, ruang kota, dan dinamika sosial masyarakat.
Salah satu sesi yang menarik perhatian datang dari Tri Subekso yang menyampaikan tanggapan budaya mengenai korelasi gunung, laut, dan kota dalam perspektif kebudayaan Jawa. Paparan tersebut memperlihatkan bagaimana arsip dan pengetahuan budaya dapat dibaca melalui hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Panitia menyebut kegiatan ini diharapkan menjadi ruang berkelanjutan untuk memperkuat jejaring kebudayaan di Semarang sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya dokumentasi dan arsip seni.
“Forum ini bukan hanya ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga upaya merawat memori kolektif agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujar panitia.
Melalui “RANCANG LAKU”, Semarang kembali menunjukkan geliat ruang budaya alternatif yang terus tumbuh dan menjadi wadah pertemuan gagasan, kreativitas, serta kolaborasi lintas komunitas. (Christian Saputro)




