Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis penyuka sastra
Uap kapal uap SS Djember atau mungkin SS Prins van Oranje—catatan logistiknya sering kabur seperti ingatan Rimbaud sendiri—mulai menipis saat dermaga Tanjung Mas, Semarang, muncul di cakrawala pada akhir 1870-an. Bagi Arthur Rimbaud, pemuda Prancis berusia 20 tahun yang baru saja melempar seragam tentara Kolonial Belanda setelah desertir di Batavia, pemandangan ini bukan sekadar kedatangan di sebuah kota dagang. Ini adalah ambang batas antara dunia lama yang ia bakar habis di Eropa, dan dunia baru yang liar, panas, dan penuh misteri.
Rimbaud tidak datang sebagai turis. Ia datang sebagai buruh, sebagai orang buangan, sebagai mantan sersan yang mencari identitas baru di balik topi baja dan sepatu bot berlumpur. Namun, di balik mata birunya yang tajam dan rambut pirang kusut itu, tersimpan jiwa seorang voyant—seorang “pelihat”—yang terus-menerus mencari bahasa universal untuk menggambarkan kekacauan alam semesta. Dan Jawa, dengan hutan-hutan lebat dan gunung-gunung berapinya, seolah menjadi kanvas raksasa bagi visi-visinya.
Tanjung Mas: Gerbang Menuju Neraka Tropis
Pelabuhan Tanjung Mas pada era itu adalah mulut raksasa yang menelan segala jenis manusia: pedagang Tionghoa, kuli kontrak, serdadu Belanda, dan petualang Eropa yang kehilangan arah. Bagi Rimbaud, bau ikan asin yang bercampur dengan aroma cengkeh dan keringat manusia adalah parfum realitas yang paling jujur. Tidak ada kemunafikan borjuis Paris di sini. Hanya ada hukum rimba: bertahan hidup.
Dari Tanjung Mas, Rimbaud memulai perjalanan daratnya menuju pedalaman. Ia tidak naik kereta kuda mewah. Ia berjalan, atau menumpang gerobak sapi yang berderit-derit di atas jalan tanah yang berdebu. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak di tanah Jawa, jejak yang kelak akan hilang ditelan waktu, namun membekas dalam imajinasi sastra dunia.
Tuntang dan Rawa Pening: Cermin Jiwa yang Keruh
Perjalanan berlanjut ke selatan, menuju Tuntang. Di sini, lanskap berubah drastis. Hutan jati mulai menyapa, berdiri tegak seperti prajurit-prajurit diam yang mengawasi konvoi kecil Rimbaud. Tapi daya tarik utama Tuntang adalah Rawa Pening.
Bagi Rimbaud, rawa ini bukan sekadar kumpulan air. Ia adalah metafora fisik dari “Le Bateau ivre” (Kapal Mabuk). Permukaan air yang tenang di siang hari, namun bisa berubah ganas saat angin barat berhembus, mencerminkan dualitas jiwanya. Di tepi rawa, Rimbaud mungkin duduk sendirian, menatap refleksi wajahnya yang pucat di air keruh. Ia melihat “matahari rendah yang noda darah membeku,” seperti yang pernah ia tulis, tapi kali ini, matahari itu adalah matahari tropis yang menyengat kulit, memaksa keringat keluar sebagai bentuk pembersihan dosa-dosa masa lalunya di Paris bersama Paul Verlaine.
Di Tuntang, Rimbaud belajar bahwa keheningan di Jawa berbeda dengan keheningan di Eropa. Keheningan di sini dipenuhi dengungan serangga, desau daun, dan bisikan roh-roh lokal yang dipercaya penduduk. Bagi seorang ateis yang memberontak terhadap Tuhan Kristen, kepercayaan animisme Jawa menawarkan sejenis spiritualitas alternatif: sebuah hubungan langsung dengan alam yang tidak memerlukan dogma gereja.
Ambarawa: Benteng di Tengah Kabut
Mendaki lebih tinggi, Rimbaud mencapai Ambarawa. Kota garnisun militer ini dikelilingi oleh benteng-benteng peninggalan Belanda yang kokoh, berdiri megah di tengah hamparan sawah dan perbukitan. Udara di Ambarawa lebih sejuk, namun ketegangannya terasa. Suara latihan barisan tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) bergema di pagi hari, mengingatkan Rimbaud pada masa singkatnya sebagai serdadu—masa yang ia benci, namun juga masa yang membentuk disiplin tubuhnya.
Di Ambarawa, Rimbaud mungkin merasa terjebak antara dua dunia: dunia militer yang kaku dan dunia alam yang bebas. Ia mengamati para tahanan politik yang dipenjara di benteng, orang-orang Jawa yang melawan kolonialisme. Dalam diri mereka, Rimbaud melihat semangat pemberontakan yang sama dengan yang ia rasakan saat bergabung dengan Komune Paris. Ia adalah orang asing di sini, blanca, tapi jiwanya merasa lebih dekat dengan para pemberontak daripada dengan para perwira Belanda yang minum anggur di klub eksklusif.
Salatiga: Tempat Waktu Berhenti
Puncak perjalanan daratnya adalah Salatiga. Terletak di lereng Gunung Merbabu, Salatiga menyambut Rimbaud dengan kabut tebal yang turun setiap sore, menyelimuti kota kecil itu dalam selimut putih yang dingin dan lembap.
Bagi Rimbaud, Salatiga adalah tempat di mana waktu seolah berhenti. Di sinilah, jauh dari hiruk-pikuk Semarang dan tekanan militer Ambarawa, ia menemukan momen kontemplasi terdalam. Ia tinggal di rumah-rumah kayu sederhana,7 mendengarkan suara hujan yang mengetuk atap seng—suara yang ritmis, hampir seperti musik gamelan yang samar-samar terdengar dari kejauhan.
Di Salatiga, Rimbaud menulis surat-surat kepada keluarganya di Charleville. Surat-surat itu kering, faktual, berbicara tentang cuaca, harga kopi, dan kondisi kesehatan. Tidak ada satu pun kata tentang puisi. Tidak ada satu pun referensi pada Une Saison en enfer. Namun, para ahli sastra percaya bahwa pengalaman sensorik di Salatiga—bau tanah basah setelah hujan, rasa dingin yang menusuk tulang, pandangan ke lembah hijau yang tak berujung—telah meresap ke dalam bawah sadarnya.
Malam-malam di Salatiga mungkin diisi dengan obrolan bersama sesama ekspatriat Eropa yang kesepian, atau berjalan sendirian di jalanan berbatu yang sepi. Di sinilah Rimbaud mulai memahami bahwa “keindahan” tidak harus selalu dramatis dan meledak-ledak seperti di puisinya. Keindahan juga bisa ditemukan dalam kesederhanaan, dalam ketahanan hidup sehari-hari, dalam diamnya gunung yang menjulang.
Warisan yang Tak Tertulis
Rimbaud tidak tinggal lama di Jawa. Ia akhirnya melanjutkan perjalanan ke Afrika, menjadi pedagang kopi dan gading, dan sepenuhnya meninggalkan dunia sastra. Ia meninggal pada usia 36 tahun, tanpa pernah menerbitkan lagi satu baris puisi pun.
Namun, jejak perjalanannya dari Tanjung Mas, melalui Tuntang dan Ambarawa, hingga ke Salatiga, tetap menjadi bagian penting dari mitos Rimbaud. Perjalanan ini adalah jembatan antara Rimbaud si penyair radikal dan Rimbaud si pengembara praktis. Di Jawa, ia belajar bahwa dunia jauh lebih luas daripada kata-kata. Bahwa ada realitas yang tidak bisa ditangkap oleh soneta atau prosa puitis, melainkan harus dialami dengan seluruh tubuh dan indra.
Hari ini, jika Anda berjalan di jalanan tua Salatiga atau memandang Rawa Pening di Tuntang, Anda mungkin tidak akan menemukan patung atau plakat bernama Arthur Rimbaud. Namanya tidak diabadikan di peta pariwisata Jawa. Tapi bagi mereka yang mengenal karyanya, setiap hembusan angin di dataran tinggi Jawa terasa membawa bisikan dari masa lalu: bisikan seorang pemuda Prancis yang tersesat, yang menemukan dirinya sendiri di tengah kabut, dan yang belajar bahwa kadang, satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran adalah dengan berhenti berbicara, dan mulai berjalan. (*)




