JAKARTA — Maestro bedah saraf Indonesia, Prof. Satyanegara, menegaskan bahwa operasi pertama yang dilakukan seorang dokter muda kerap menjadi penentu reputasi dan kepercayaan publik terhadap profesinya di masa depan. Karena itu, ia selalu mendorong para dokter muda untuk mempersiapkan diri secara matang, baik secara ilmu, mental, maupun tanggung jawab etik sebelum memasuki ruang operasi.
Menurut profesor yang kini berusia 88 tahun itu, tindakan operasi pertama bukan sekadar prosedur medis, melainkan momentum pembuktian kompetensi seorang dokter bedah. Ia mengingat pengalaman pada era 1970-an ketika jumlah ahli bedah saraf di Indonesia masih sangat terbatas dan proses pendidikan berlangsung sangat ketat.
“Waktu itu, ketika saya baru pertama kali menjalankan tindakan bedah pada tahun 1970-an, hanya sedikit ahli bedah saraf. Operasi pertama gagal atau berhasil sangat menentukan nama dan reputasi dokter,” ujar Prof. Satyanegara.
Ia menuturkan, pada masa pendidikan dahulu, para dokter muda tidak hanya menghadapi ujian teori dan lisan, tetapi juga diuji langsung melalui tindakan operasi di ruang khusus dengan pengawasan ketat para senior.
“Saya ingat apa yang diutarakan profesor saya. Kami diuji betul-betul untuk bisa menjadi ahli bedah saraf,” katanya.
Sepanjang perjalanan kariernya, Prof. Satyanegara telah menangani ratusan hingga ribuan kasus bedah saraf, mulai dari tumor otak, hidrosefalus, stroke, koma, hingga gangguan pikun. Sebagian besar pengabdiannya dijalani di Rumah Sakit Pertamina Pusat pada periode 1972 hingga 1998.
Di balik pengalaman panjang tersebut, ia mengaku masih mengingat jelas pasien pertama yang dioperasinya. Pengalaman itu bahkan ditulis dalam buku biografinya karena menjadi titik penting dalam perjalanan profesinya sebagai dokter bedah saraf.
“Awalnya pasien tidak sadar. Operasi berlangsung beberapa jam sampai kemudian dia bangun. Guru-guru saya saat itu bertanya bagaimana saya mengatasi penyakit pasien pertama itu,” kenangnya.
Dari pengalaman tersebut, ia memperoleh pelajaran penting bahwa seorang dokter bedah harus memahami kondisi pasien secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada organ yang dioperasi.
“Dari situ saya dimotivasi bahwa saya harus mengerti semua, dari kepala sampai kaki,” ujarnya.
Prof. Satyanegara mengatakan, hubungan antara dokter dan pasien juga menjadi bagian penting dalam perjalanan profesi medis. Hingga kini, ia masih menjalin komunikasi dengan pasien pertamanya yang kini telah berusia sekitar 80 tahun.
“Waktu itu saya berusia 33 tahun, pasien saya 28 tahun. Sampai sekarang kami masih bertemu,” katanya.
Dalam dunia medis modern, lanjutnya, dokter bedah menjadi bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan yang bekerja secara kolaboratif bersama dokter umum maupun dokter spesialis lain. Namun, menurutnya, kualitas dasar seorang dokter tetap ditentukan oleh kedisiplinan belajar, ketelitian, serta keberanian mengambil keputusan di ruang operasi.
Bagi Prof. Satyanegara, profesi dokter bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan hidup manusia yang dititipkan kepada seorang tenaga medis.(Christian Saputro/SL)




