SEMARANG — Di lobi Front One HK Hotel & Resort Semarang, lukisan-lukisan itu menggantung seperti fragmen percakapan yang belum selesai. Ada warna-warna yang menyala, garis-garis yang bergetar, dan wajah-wajah sunyi yang seolah memandang balik pengunjung. Pameran bertajuk “Nyawiji” (16 Mei – 16 Juli 2026) memang dirancang sebagai pertemuan para pelukis dari Semarang, Jombang, dan Yogyakarta—sebuah peleburan berbagai usia dan karakter artistik dalam satu ruang.
Namun, di tengah keriuhan visual dan dialog antar-karya yang hidup itu, ada satu sudut yang menawarkan jeda hening. Di sanalah karya-karya Goenarso hadir. Tidak dengan ledakan agresif, melainkan dengan ketenangan seseorang yang memilih duduk di pojok ruangan, membiarkan dunia bergerak sambil ia mendengarkan detak waktu sendiri.
Bagi Goenarso, melukis bukan sekadar merekam objek, melainkan menerjemahkan suasana batin ke atas kanvas. Dan dalam “Nyawiji”—yang dalam bahasa Jawa berarti menyatu—karya-karyanya justru menjadi titik temu bagi mereka yang mencari keheningan di tengah kebisingan visual kontemporer.
Puisi yang Diterjemahkan Menjadi Warna
Judul-judul karya Goenarso dalam pameran ini terasa seperti serpihan puisi: “Bahasa Jiwa”, “Bahasa Kalbu”, “Senja”, “Doa Senja”, hingga “Gita Senja”. Ia tampaknya tidak tertarik pada realisme fotografis atau abstraksi yang rumit secara intelektual. Ia lebih dekat pada sesuatu yang organik: rasa.
Dalam “Bahasa Jiwa”, warna-warna bergerak lembut, seperti bisikan yang tak sempat terucap. Tidak ada paksaan untuk dipahami secara literal. Sebaliknya, karya ini membuka ruang tafsir, mengundang penonton untuk masuk ke dalam diamnya sendiri. Sementara “Bahasa Kalbu” menghadirkan intimasi tentang percakapan manusia dengan dirinya sendiri—tentang luka yang mengering, harapan yang rapuh, dan doa-doa yang disimpan rapat-rapat di dada.
Goenarso memahami bahwa garis dan warna memiliki frekuensi emosional. Ia tidak memaksa penonton untuk “mengerti” lukisannya, melainkan mengajak mereka untuk “merasakan”. Dalam dunia seni rupa yang hari ini sering kali terjebak pada sensasi visual dan kegaduhan konsep, pendekatan Goenarso terasa seperti napas lega. Ia kembali pada hal yang paling sederhana, namun paling sulit dipalsukan: kejujuran rasa.
Senja Sebagai Metafora Penerimaan
Mungkin tema yang paling kuat menyentuh hati adalah seri “Senja”. Bagi banyak seniman, senja bisa dimaknai sebagai akhir yang muram atau perpisahan. Namun, bagi Goenarso, senja adalah momen ketika hidup mulai melambat.
Karya “Senja” dan “Doa Senja” berbicara tentang usia dan penerimaan. Di sana, cahaya tidak lagi menyilaukan, melainkan hangat dan meneduhkan. Ini adalah visualisasi dari kedewasaan spiritual: sebuah keadaan di mana manusia belajar berdamai dengan waktu, menerima apa adanya, dan menemukan keindahan dalam ketenangan.
Lalu ada “Gita Senja”. Kata gita berarti nyanyian. Kanvas itu seolah menyimpan lagu sore yang lirih—tentang cahaya yang perlahan turun, tentang kenangan yang tak benar-benar pergi, melainkan berubah bentuk menjadi kebijaksanaan. Melihat karya ini, orang mungkin tidak langsung menemukan makna yang pasti. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia bekerja perlahan, seperti senja yang datang tanpa suara, namun mengubah seluruh atmosfer langit.
Ruang Pulang bagi Batin
Keberadaan Goenarso dalam “Nyawiji” memberikan dimensi baru pada pameran lintas kota ini. Jika nama-nama lain seperti Djoko Susilo, Hary Laksono, Harry Titut, Hendry Yanto, A. Muzayin, Heriwanto, Ahmad Taufik (Semarang), Marsim (Jombang), serta Agus Nuryanto, Arief, dan Yantoto Warno (Yogyakarta) menghadirkan spektrum visual yang luas dan dinamis, maka Goenarso hadir sebagai jangkar kontemplatif.
Karya-karyanya saling bercakap diam-diam dengan karya rekan-rekannya, menciptakan harmoni yang tidak kaku. Tidak ada sekat antara satu pelukis dengan lainnya; yang ada adalah aliran energi kolektif yang dihentikan sejenak oleh heningnya Goenarso.
Pameran “Nyawiji” sendiri terasa penting bukan hanya karena mempertemukan seniman dari tiga kota, melainkan karena ia menyediakan ruang pertemuan batin. Di tengah dunia yang semakin cepat, ruang semacam itu menjadi langka: tempat orang berhenti sejenak, memandang warna, lalu diam-diam mendengarkan dirinya sendiri.
Melalui karya-karyanya, Goenarso mengingatkan kita bahwa manusia, sesibuk apa pun mengejar dunia luar, tetap membutuhkan ruang untuk pulang ke dalam. Dan kadang, pintu pulang itu dibuka oleh sebuah lukisan senja yang tenang, yang berkata: di sini, kamu boleh istirahat. (*)




