NIJMEGEN/DEN HAAG — Malam di Nijmegen turun pelan ketika suara gamelan mulai berdenting di Theater de klif. Di luar gedung, udara Belanda masih menyimpan sisa dingin musim semi yang menusuk tulang. Namun, di dalam ruang pertunjukan itu, Jawa seolah hidup kembali: denting kenong yang jernih, lengking suling yang melankolis, gerak tubuh para penari yang luwes, serta kisah mistis “Dewa Ruci” yang bergerak perlahan di atas panggung.
Di barisan penonton, warga Belanda duduk rapat, terpaku. Tiket pertunjukan malam itu habis terjual. Ketika tirai ditutup, tepuk tangan panjang menggema nyaris tanpa jeda. Beberapa penonton berdiri. Standing ovation itu berlangsung lama, seolah enggan membiarkan malam berakhir begitu saja.
Di balik gemerlap applause tersebut, tersimpan kisah panjang tentang kerja sunyi, kelelahan fisik, dan keberanian sekelompok seniman Wayang Orang Ngesti Pandowo dari Semarang. Mereka datang ke Eropa bukan dengan rombongan besar dan kemewahan logistik, melainkan dengan tekad bulat untuk menjaga napas tradisi tetap berhembus di tanah rantau.
Mereka menyebut perjalanan epik ini dengan satu istilah Jawa yang sederhana namun sarat makna: mbarang.
Dalam khazanah kesenian Jawa, mbarang bukan sekadar bepergian untuk pentas. Ia adalah ritual perjalanan hidup para seniman keliling yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membawa seluruh kehidupan mereka demi menjaga seni tetap hidup. Dan tahun ini, semangat mbarang itu menyeberangi benua, dari tepian Sungai Semarang hingga jantung Eropa.
Gotong Royong di Negeri Orang
Rombongan ini terdiri atas 15 seniman dan pekerja seni inti. Ada Hardhono Susanto sebagai Team Manager, Grace Widjaja sebagai Project Leader, Djoko Muljono sebagai pimpinan artistik Wayang Orang Ngesti Pandowo, serta Krisna Phiyastika, Bambang Budiono, Sugiyanto, hingga para penari dan penabuh gamelan muda.
Yang membedakan tur ini dari pertunjukan internasional pada umumnya adalah ketiadaan kru logistik khusus. Tidak ada roadie yang siap siaga. Semua dilakukan secara mandiri dengan semangat gotong royong yang kental.
Mereka mengangkat sendiri bonangan gamelan dari satu kota ke kota lain. Membongkar peralatan di pagi buta, menata kostum rumit, menyiapkan rias wajah tradisional, hingga membersihkan area pertunjukan setelah acara usai. Tidur larut malam setelah pentas, lalu bangun sebelum fajar untuk perjalanan berikutnya.
“Di sini kami melakukan semuanya sendiri,” kata Grace Widjaja, sambil mengusap keringat di dahinya selepas membantu memindahkan properti panggung. “Mulai mengangkat gamelan, membawa properti, sampai menyiapkan kostum untuk pentas berikutnya. Ini adalah bentuk pengabdian total.”
Keberangkatan ke Belanda sendiri nyaris terasa seperti perjudian besar. Pengurusan visa menuntut proses kurasi yang ketat dan melelahkan, mengingat tingginya kekhawatiran otoritas imigrasi Eropa. Mereka harus menyerahkan profil kelompok, rekam jejak artistik setiap pemain, hingga konsep detail pertunjukan sebelum akhirnya dipercaya untuk menginjakkan kaki di Schiphol.
“Modal kami sebenarnya nekat,” ujar salah satu anggota rombongan sambil tertawa kecil, mengenang masa-masa tegang menunggu persetujuan visa. “Tapi kami berangkat dengan satu niat tunggal: membawa wayang agar bisa dikenal dunia, meski harus dengan keringat sendiri.”
Jejak Sejarah Bung Karno di Den Haag
Sebelum mencapai Nijmegen, rombongan singgah di Den Haag. Di sana, mereka sempat bersilaturahmi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Momen ini menjadi titik emosional tersendiri ketika rombongan diizinkan meminjam seperangkat gamelan milik KBRI yang disimpan di Sekolah Indonesia Den Haag.
Gamelan tersebut bukanlah instrumen biasa. Ia adalah warisan sejarah dari Presiden Soekarno (Bung Karno), yang dahulu dihadiahkan bagi komunitas Indonesia di Belanda sebagai pengikat identitas bangsa di tanah perantauan.
Bagi para seniman, memainkan gamelan peninggalan Bung Karno di negeri bekas kolonial terasa seperti sebuah siklus sejarah yang闭环 (menutup lingkaran). Ia seperti jejak masa lalu yang kembali berbunyi, menghubungkan generasi seniman hari ini dengan spirit kebangsaan masa lalu.
Hangatnya Nijmegen dan Kolaborasi Lintas Budaya
Perjalanan kemudian membawa mereka ke Nijmegen, kota tua di provinsi Gelderland yang dikenal sebagai salah satu kota tertua di Belanda. Jika pengalaman awal di Rijswijk diwarnai keterbatasan akomodasi, di Nijmegen mereka disambut dengan kehangatan yang menyentuh hati.
Keluarga-keluarga lokal membuka pintu rumah mereka. Ada welcome dinner sederhana namun penuh makna. Obrolan lintas bahasa terjadi di meja makan, perlahan mencairkan jarak budaya antara Jawa dan Eropa.
“Di Nijmegen, kami merasa sangat diterima. Bukan sebagai tamu asing, tapi sebagai saudara,” kenang Grace.
Setiap malam, mereka menggelar workshop intensif bersama penari Belanda. Kolaborasi ini melibatkan dancer lokal yang sebelumnya hanya berlatih secara daring. Gerak-gerak halus wayang orang dipertemukan dengan tubuh-tubuh penari Eropa yang berusaha memahami ritme dan filosofi Jawa. Di bawah supervisi artistik Krisna Phiyastika, pakem tradisi dijaga ketat, namun ruang untuk dialog estetika tetap dibuka lebar.
Tantangan terbesar bukan hanya soal bahasa atau teknis pertunjukan, melainkan bagaimana menerjemahkan konteks budaya.
“Kami ingin orang luar negeri bukan hanya mengenal nama ‘wayang’ sebagai eksotisme,” ujar Djoko Muljono. “Tetapi juga memahami nilai, karakter tokoh, filosofi cerita, hingga makna di balik busana dan riasannya.”
Untuk itu, sebelum tirai diangkat, mereka memutarkan video dokumenter tentang Kota Semarang: keindahan arsitektur Kota Lama, kesibukan Tambak Lorok, gang-gang tua, dan wajah kota pesisir yang terus bergerak dinamis di antara sejarah dan modernitas. Penonton diajak mengenal konteks sosial tempat seni itu lahir.
Diplomasi yang Bekerja Secara Sunyi
Diplomasi budaya ternyata bekerja dengan cara yang sunyi dan efektif.
Bukan lewat pidato politik di forum internasional atau perjanjian bilateral yang kaku, melainkan melalui denting gamelan, kisah epik Mahabharata, dan tubuh-tubuh penari yang bergerak penuh disiplin di atas panggung Eropa.
Di akhir pertunjukan “Dewa Ruci”, tarian “Selendang Biru” dimainkan sebagai penutup. Tepuk tangan kembali bergema panjang, memecah keheningan malam Nijmegen.
Dan malam itu, di sebuah kota tua bernama Nijmegen, Wayang Orang Ngesti Pandowo seperti membuktikan satu hal: tradisi mungkin lahir dari masa lalu, tetapi ia selalu menemukan jalan untuk berbicara kepada masa depan. Bahwa selama ada orang-orang yang bersedia mbarang—berjalan jauh dengan beban tradisi di pundak—kebudayaan tidak akan pernah mati. Ia hanya sedang mencari panggung baru. (Christian Heru Cahyo Saputro Based on Krisna Phiyastika)




