Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Malam di Gang Pinggir itu mula-mula terasa seperti ruang berkabung yang panjang.
Getir pare mentah masih tertinggal di ujung lidah para peserta. Aroma bunga kecombrang bercampur asap dupa menggantung rendah di langit-langit gedung tua Perkoempoelan Boen Hian Tong, Semarang, Sabtu malam, 23 Mei 2026. Di sudut altar, lilin-lilin kecil menyala gemetar, seakan ikut menjaga ingatan tentang Mei 1998—tentang api yang membakar kota, perempuan-perempuan yang kehilangan rasa aman, dan sejarah yang terlalu lama hidup dalam bisik-bisik ketakutan.
Orang-orang malam itu datang membawa duka.
Mereka mengenakan pita hitam di lengan kiri. Musik dari kelompok Lamkwan mengalun pelan seperti desir angin yang melewati rumah-rumah tua pecinan. Segalanya tampak bergerak lambat: doa-doa, langkah kaki, juga wajah-wajah yang larut dalam kenangan.
Tak ada yang menduga suasana akan berubah.
Tetapi hidup, kadang-kadang, memang datang lewat cara yang tidak disangka.
Ketika sesi Estungkara dimulai, Ulin membuka percakapan dengan suasana hangat dan cair. Orang-orang yang sejak tadi tenggelam dalam keheningan mulai saling menyapa. Tawa kecil muncul di beberapa sudut ruangan.
Lalu Sherly Chebing berdiri.
Ia tidak datang dengan wajah muram seperti orang yang hendak membuka luka lama. Tidak ada tangis. Tidak ada nada getir yang dibuat-buat. Yang muncul justru seorang perempuan dengan senyum lebar dan energi yang ringan.
Ia melontarkan celetukan spontan. Orang-orang tertawa.
Sesekali tubuhnya bergerak kecil mengikuti irama musik. Sampai kemudian, tanpa aba-aba, ia mulai menari.
Bukan tarian besar. Bukan pula pertunjukan panggung yang disusun rapi. Hanya gerak tubuh sederhana di tengah ruang refleksi yang semula penuh suasana duka.
Tetapi justru di situlah daya pukau malam itu lahir.
Gerak tubuh Sherly terasa seperti seseorang yang sedang mengambil kembali ruang hidupnya yang pernah dirampas rasa takut.
Beberapa peserta tampak terkejut. Bagaimana mungkin malam mengenang tragedi kemanusiaan justru mendadak terasa “gayeng”?
Namun mungkin begitulah cara manusia bertahan.
Kesedihan tidak selalu datang dengan air mata. Luka tidak selalu hidup dalam wajah muram. Ada orang-orang yang memilih tetap hidup justru dengan tertawa lebih keras.
Sherly tampaknya termasuk di antaranya.
Beberapa menit setelah orang-orang tertawa melihat dance kecilnya, suasana mendadak berubah. Ketika mikrofon kembali berada di tangannya, nada suaranya perlahan turun.
Ia mulai berbicara tentang kekerasan dalam rumah tangga yang pernah dialaminya.
Tentang hari-hari panjang ketika hidup terasa begitu berat hanya untuk sampai ke pagi berikutnya. Tentang ketakutan yang selama ini disimpan rapat di balik kehidupan yang tampak biasa dari luar.
“Saya ingin orang-orang yang mengalami hal seperti itu tahu bahwa mereka tidak sendirian,” katanya lirih.
Ruangan mendadak sunyi.
Orang-orang yang tadi tertawa kini menunduk diam.
Di titik itulah Sherly seperti memperlihatkan dua wajah manusia sekaligus: wajah yang belajar tersenyum di depan publik, dan wajah yang diam-diam pernah remuk oleh kekerasan.
Tetapi ia tidak berdiri sebagai korban yang meminta belas kasihan.
Ia hadir sebagai seseorang yang sedang merebut kembali dirinya sendiri.
Dan mungkin, dance kecil tadi adalah bagian dari proses itu—cara tubuh mengatakan bahwa dirinya masih punya hak untuk bahagia, meski pernah dihancurkan oleh rasa takut.
Di negeri ini, banyak perempuan tumbuh dalam budaya diam. Mereka diajarkan menjaga nama baik keluarga, menyimpan rapat persoalan rumah tangga, dan bertahan sejauh mungkin. Kekerasan sering dianggap urusan domestik, bukan luka sosial.
Karena itu, ketika seorang perempuan berani berbicara di ruang publik, keberanian itu sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Sherly malam itu tidak sekadar berbagi cerita.
Ia sedang mematahkan tradisi bungkam.
Dan Estungkara menjadi menarik justru karena berhasil mempertemukan dua hal yang tampaknya bertolak belakang: duka dan kehidupan.
Di satu sisi, orang-orang diajak mengenang Mei 1998—tentang perempuan-perempuan yang kehilangan martabat dan rasa aman. Tetapi di sisi lain, malam itu juga mengingatkan bahwa manusia tetap punya hak untuk tertawa, menari, dan memulihkan dirinya.
Malam semakin larut.
Lagu-lagu kembali dimainkan. Aroma dupa masih menggantung di ruang tua itu. Di luar gedung, Kota Semarang tetap bergerak seperti biasa. Motor melintas. Lampu toko menyala. Orang-orang berjalan tanpa tahu berapa banyak luka sedang dikenang di dalam bangunan tua tersebut.
Sherly duduk santai di salah satu sudut ruangan. Sesekali ia tertawa kecil bersama peserta lain. Wajahnya kembali tampak ringan.
Tetapi malam itu, semua orang tahu:
di balik tawa yang terdengar renyah itu, ada seseorang yang pernah berjalan sangat jauh melewati gelap.
Dan mungkin, justru karena pernah terluka, ia kini memilih menari. (Christian Saputro)




