Finalis Denok Kenang 2026 tak sekadar belajar tentang pariwisata dan penampilan panggung. Pada Jumat, 22 Mei 2026, mereka “ngangsu kawruh budaya” di Klub Merby, Semarang—menyelami warisan tradisi melalui batik, wayang, hingga racikan wedang rempah bersama Marta Adista.
Di ruang yang hangat dan penuh aroma rempah, para finalis diajak memahami bahwa budaya bukan sekadar benda masa lalu, melainkan napas yang terus hidup dalam keseharian masyarakat. Kegiatan membatik menjadi pelajaran tentang kesabaran dan ketelitian. Goresan malam di atas kain mengajarkan bahwa setiap motif memiliki cerita, filosofi, dan jejak perjalanan zaman.
Selain praktik membatik, para finalis juga belajar membuat hiasan janur—keterampilan tradisional yang lekat dengan upacara adat dan perayaan masyarakat Jawa. Jemari mereka merangkai helai demi helai daun kelapa muda menjadi ornamen yang indah, menghadirkan suasana belajar yang akrab sekaligus penuh makna tentang ketelatenan dan estetika tradisi.
Tak berhenti di sana, mereka juga mengenal dunia wayang sebagai ruang refleksi nilai-nilai kehidupan Jawa—tentang kebijaksanaan, keberanian, dan laku manusia. Sementara wedang rempah menghadirkan pengalaman rasa yang akrab dengan tradisi Nusantara: hangat, sederhana, namun menyimpan kekayaan sejarah dan kesehatan.
Pengalaman budaya itu semakin lengkap ketika para finalis diajak belajar mengolah kuliner lumpia bersama Japar, owner Lumpia Semawis yang telah menekuni dunia kuliner selama lebih dari dua dekade. Dari tangan yang telah terbiasa menggulung rebung, telur, dan racikan bumbu khas Semarang itu, para finalis memahami bahwa kuliner bukan sekadar makanan, melainkan identitas kota yang diwariskan lintas generasi.
Suasana belajar berlangsung cair dan penuh tawa. Aroma rebung yang dimasak berpadu dengan semangat para finalis yang antusias mencoba menggulung lumpia mereka sendiri. Dalam sesi itu, Japar membagikan pengalaman menjaga cita rasa tradisional di tengah perubahan zaman dan selera pasar yang terus bergerak.
Para finalis juga diajak melakukan tour budaya ke dapur produksi wedang rempah untuk melihat secara langsung proses pengolahan minuman tradisional tersebut—mulai dari pemilihan bahan alami hingga racikan rempah yang menjadi ciri khas. Aroma jahe, kayu manis, cengkih, dan serai memenuhi ruangan, menghadirkan pengalaman yang tidak hanya edukatif, tetapi juga membangkitkan ingatan akan tradisi jamuan Nusantara.
Perjalanan budaya berlanjut ke Merby Shop, tempat berbagai peralatan, aksesori, dan busana budaya Semarangan dipamerkan. Di sana, para finalis mengenal ragam identitas visual Kota Semarang yang tercermin dalam motif, warna, hingga detail aksesori tradisional. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, menangkap momen kebersamaan generasi muda yang tengah belajar merawat akar budayanya sendiri.
Marta Adista menuturkan bahwa generasi muda perlu memiliki kedekatan emosional dengan budaya agar mampu menjadi duta yang bukan hanya fasih berbicara, tetapi juga memahami akar identitasnya.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda dan tradisi di tengah derasnya arus modernitas. Di Klub Merby, budaya tidak diajarkan sebagai hafalan, melainkan sebagai pengalaman yang dirasakan dengan tangan, mata, lidah, dan hati. (Christian Saputro)




