JAKARTA — Perkumpulan Perawat Pembaharuan Indonesia (PPPI) menilai makna Hari Raya Waisak memiliki korelasi kuat dengan nilai-nilai yang menjadi fondasi profesi keperawatan, terutama sikap welas asih, kesabaran, dan pelayanan tanpa diskriminasi kepada sesama.
Ketua PPPI, Sukendar, mengatakan ajaran utama dalam Waisak, yakni metta atau cinta kasih universal, sejalan dengan tuntutan profesi perawat yang mengharuskan setiap tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara humanis kepada seluruh pasien tanpa membedakan latar belakang apa pun.
“Waisak sebagai simbolisasi universal welas asih. Prinsip utama ajaran Buddha adalah metta atau cinta kasih. Perawat dituntut bersikap sabar dan lembut saat berinteraksi dengan pasien. Itu juga bagian dari kode etik profesi. Karena itu, kedua prinsip tersebut memiliki korelasi yang kuat,” ujar Sukendar, Senin (1/6).
Menurutnya, Hari Raya Waisak yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama—kelahiran, pencerahan, dan parinibbana—bukan hanya memiliki makna spiritual bagi umat Buddha, tetapi juga mengandung pesan kemanusiaan yang relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa perawat memiliki kewajiban memberikan asuhan keperawatan secara holistik, adil, dan profesional tanpa memandang suku, ras, agama, maupun status sosial pasien.
“Makna Waisak bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi momentum penting untuk memperkuat fondasi kemanusiaan. Nilai-nilai itu juga menjadi prinsip dasar dan kode etik profesi keperawatan,” katanya.
Sukendar yang beragama Islam menambahkan bahwa semangat toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman telah menjadi bagian dari budaya organisasi PPPI. Saat ini, organisasi tersebut memiliki 615 anggota yang berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya.
Meski mayoritas anggota beragama Islam, PPPI juga menaungi perawat yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Keragaman tersebut, menurut Sukendar, justru menjadi kekuatan yang memperkaya organisasi.
“Waisak mengingatkan seluruh pengurus dan anggota bahwa perbedaan keyakinan adalah sebuah kekayaan. Ada anggota PPPI yang bertugas di rumah sakit-rumah sakit berbasis Buddha seperti Tzu Chi Hospital maupun di sejumlah rumah sakit di Bali. Semua saling menghormati dan bekerja sama dengan baik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa toleransi harus terus diimplementasikan dalam kehidupan organisasi maupun praktik pelayanan kesehatan sehari-hari. Nilai welas asih yang diajarkan dalam Waisak, lanjutnya, menjadi inspirasi bagi para perawat untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Anggota PPPI harus mengimplementasikan sikap welas asih dalam setiap tugas pelayanan kesehatan. Pada akhirnya, profesi perawat adalah profesi kemanusiaan yang menempatkan martabat manusia di atas segala perbedaan,” kata Sukendar.
PPPI berharap semangat Waisak dapat menjadi pengingat bagi seluruh tenaga kesehatan untuk terus mengedepankan empati, toleransi, dan pelayanan yang berkeadilan dalam menghadapi dinamika masyarakat yang semakin majemuk. (Christian Saputro/SL)




