SEMARANG — Filateli tidak lagi dipandang sekadar hobi mengoleksi perangko dan benda pos. Di tangan para pegiat sejarah dan budaya, filateli menjadi medium penting untuk merekam, merawat, dan menyebarluaskan memori kolektif bangsa. Semangat itu mengemuka dalam Orasi Publik Filateli bersama Menteri Kebudayaan Republik Indonesia yang digelar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang.
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, para pegiat filateli, budayawan, akademisi, komunitas heritage, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pelestarian sejarah dan budaya Indonesia.
Dalam forum tersebut, filateli diposisikan sebagai instrumen pelestarian budaya yang memiliki nilai historis sekaligus edukatif. Melalui perangko, kartu pos, maupun berbagai dokumen pos, perjalanan bangsa dapat direkam dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa filateli merupakan sarana pembelajaran sejarah yang kaya makna.
“Setiap perangko memiliki cerita. Di dalamnya terdapat catatan sejarah, tokoh-tokoh bangsa, kekayaan budaya, serta berbagai peristiwa penting yang membentuk Indonesia. Karena itu, filateli sesungguhnya merupakan media pembelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Menurut Agustina, Kota Semarang memiliki hubungan erat dengan sejarah komunikasi, perdagangan, dan pertukaran budaya sejak masa kolonial. Karena itu, penyelenggaraan orasi publik filateli di kawasan Kota Lama menjadi momentum penting untuk merawat ingatan kolektif bangsa.
Ia menilai perkembangan teknologi digital tidak boleh membuat masyarakat melupakan nilai sejarah yang terkandung dalam koleksi filateli.
“Filateli mengajarkan kita untuk menghargai proses, mengenali perjalanan bangsa, dan memahami bahwa identitas Indonesia dibangun dari berbagai peristiwa serta kebudayaan yang sangat kaya,” katanya.
Rangkaian kegiatan filateli tersebut juga diperkuat dengan penyelenggaraan Pameran Filateli bertajuk “Dalam Cengkeraman Saudara Tua” yang berlangsung pada 31 Mei hingga 7 Juni 2026 di Rumah PoHan, Jalan Kepodang No. 64, Kota Lama Semarang.
Pameran yang didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang itu mengajak pengunjung menelusuri salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Indonesia, yakni masa pendudukan Jepang pada 1942–1945.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan filateli merupakan cara kreatif untuk mendekatkan sejarah kepada masyarakat.
“Filateli tidak hanya berbicara tentang perangko, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan bangsa. Melalui pameran ini, masyarakat dapat memahami sejarah dari sudut pandang yang berbeda dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari pada masa lampau,” ujarnya.
Berbagai koleksi perangko, kartu pos, dokumen pos, dan arsip filateli yang dipamerkan memperlihatkan bagaimana perang, propaganda, komunikasi, hingga kehidupan masyarakat pada masa pendudukan Jepang terekam dalam benda-benda kecil yang kini menjadi dokumen sejarah bernilai tinggi.
Tema “Dalam Cengkeraman Saudara Tua” merujuk pada sebutan yang digunakan Jepang ketika memasuki Indonesia pada masa Perang Dunia II. Namun di balik slogan propaganda tersebut, masyarakat Indonesia menghadapi berbagai perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kemerdekaan.
Berlokasi di Rumah PoHan, salah satu bangunan heritage yang kini berkembang sebagai ruang budaya dan kreatif di Kota Lama Semarang, pameran menghadirkan pengalaman yang lebih kontekstual bagi pengunjung. Ruang-ruang tua bangunan tersebut menjadi latar yang memperkuat suasana historis dari arsip-arsip yang dipamerkan.
Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat menarik minat masyarakat, pelajar, komunitas heritage, hingga wisatawan untuk mengenal sejarah bangsa melalui media filateli. Selain menikmati kawasan Kota Lama Semarang yang kaya warisan budaya, pengunjung juga diajak memahami bagaimana benda-benda sederhana seperti perangko dan surat mampu menjadi saksi perjalanan panjang sebuah bangsa.
Melalui orasi publik dan pameran filateli ini, Semarang kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya menjaga bangunan-bangunan bersejarah, tetapi juga merawat ingatan dan identitas bangsa yang terkandung di dalamnya. (Christian Saputro)
.




