JAKARTA — Di tengah deru mesin digital yang tak pernah tidur, di mana informasi bergerak dalam hitungan detik dan tersimpan dalam awan data yang dingin, ada suara-suara lain yang perlahan mulai tenggelam. Suara itu tidak tertulis dalam kode biner. Ia hidup dalam napas, dalam intonasi, dalam getar pita suara seorang kakek yang mendongeng kepada cucunya, atau dalam nyanyian ritual seorang dukun yang memanggil hujan.
Suara-suara itu adalah tradisi lisan. Dan mereka sedang berjuang untuk tetap didengar.
Upaya pelestarian warisan budaya takbenda ini kembali mendapat panggung utama melalui penyelenggaraan LISAN XIII: Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara. Acara yang digelar oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) atau Oral Traditions Association (OTA) ini akan berlangsung pada 4–8 Agustus 2026 di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Dengan mengusung tema “Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan”, forum ini bukan sekadar pertemuan akademis. Ia adalah sebuah perlawanan halus terhadap lupa.
Pertemuan Para Penjaga Cerita
Taman Ismail Marzuki, yang selama puluhan tahun menjadi jantung kesenian ibu kota, akan berubah menjadi ruang pertemuan bagi para penjaga cerita. Akademisi, peneliti, budayawan, seniman, pegiat komunitas, mahasiswa, hingga pemerhati kebudayaan dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara akan berkumpul di sana.
Mereka datang bukan hanya untuk bertukar makalah, tetapi untuk berbagi keprihatinan dan harapan. Bagaimana tradisi lisan bisa tetap relevan di tengah gempuran algoritma media sosial? Bagaimana nilai-nilai kearifan lokal yang tersimpan dalam dongeng, mantra, atau pantun bisa menjadi fondasi bagi masyarakat modern yang semakin terfragmentasi?
“Tradisi lisan merupakan sumber pengetahuan yang diwariskan lintas generasi,” ujar Ketua Panitia dalam keterangan resminya. “Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap penting sebagai fondasi kehidupan masyarakat modern.”
Pernyataan itu mungkin terdengar klise bagi sebagian orang. Namun, bagi mereka yang bergelut di bidang ini, tradisi lisan adalah memori kolektif sebuah bangsa. Ia adalah cara manusia memahami dirinya sendiri, hubungannya dengan alam, dan tanggung jawabnya terhadap sesama.
Visi Pudentia MPSS: Tradisi Lisan sebagai Kompas Moral
Di balik gelaran LISAN XIII, ada sosok yang telah lama menjadi nahkoda bagi pergerakan ini: Prof. Dr. Pudentia MPSS, Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Bagi Pudentia, tradisi lisan bukan sekadar artefak masa lalu yang harus diawetkan di museum. Ia adalah entitas yang hidup, bernapas, dan terus berkembang. Dalam berbagai kesempatan, Pudentia sering menekankan bahwa tradisi lisan menyimpan etika, moralitas, dan spiritualitas yang urgently dibutuhkan di era kontemporer.
“Kita hidup di zaman di mana manusia semakin terhubung secara teknologi, namun seringkali tercerabut secara emosional dan spiritual,” demikian semangat yang kerap digaungkan Pudentia. Melalui ATL, ia berupaya membangun jejaring yang kuat untuk memastikan bahwa suara-suara dari pinggiran, dari desa-desa terpencil, dari komunitas adat, tetap memiliki ruang untuk bergema.
Sebagai organisasi yang telah memperoleh akreditasi UNESCO, ATL tidak bekerja sendirian. Mereka melibatkan pemerintah, universitas, komunitas lokal, dan media. LISAN XIII adalah puncak dari kerja keras tahunan tersebut, sebuah momen di mana teori bertemu praktik, di mana penelitian akademis berdialog dengan pertunjukan rakyat.
Lebih Dari Sekadar Seminar
LISAN XIII dirancang sebagai festival yang komprehensif. Selain seminar internasional yang berlangsung setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB, rangkaian kegiatannya mencakup Musyawarah Nasional (Munas) ATL, diskusi kelompok terpumpun (FGD), pelatihan penulisan populer tentang tradisi lisan, Festival Tradisi Lisan Nusantara, festival film, peluncuran buku, serta pameran.
Pada malam hari, TIM akan hidup dengan suara-suara dari berbagai daerah. Penonton akan disuguhkan ekspresi budaya yang beragam: dari dongeng-dongeng mistis Sumatera, tembang-tembang Jawa, hingga nyanyian epik dari Nusa Tenggara. Ini adalah kesempatan langka bagi publik urban untuk menyaksikan langsung kekayaan budaya yang sering kali hanya mereka baca di buku teks.
Penyelenggara juga membuka Call for Papers bagi peneliti, dosen, mahasiswa, dan pegiat budaya. Abstrak makalah dapat dikirimkan paling lambat 17 Juni 2026, dengan pengumuman hasil seleksi pada akhir Juni 2026. Batas akhir pengiriman makalah lengkap adalah Juli 2026, sementara registrasi peserta ditutup pada 31 Juli 2026.
Merawat Masa Depan dengan Akar Masa Lalu
Melalui LISAN XIII, ATL ingin menegaskan satu hal: tradisi lisan bukan beban masa lalu. Ia adalah sumber inspirasi yang terus hidup. Ia bisa menjadi panduan dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, berkeadaban, dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.
Di tengah arus globalisasi yang cenderung menyeragamkan budaya, keberagaman tradisi lisan adalah benteng identitas. Ia mengingatkan kita bahwa sebelum ada tulisan, ada suara. Sebelum ada internet, ada pertemuan tatap muka. Sebelum ada kecerdasan buatan, ada kearifan manusia.
Dan selama masih ada orang yang bersedia mendengarkan, suara-suara itu tidak akan pernah mati.
Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi, menjadi saksi, atau sekadar merasakan kembali hangatnya cerita dari mulut ke mulut, TAMAN ISMAIL MARZUKI menunggu. Pada Agustus 2026, biarkan suara-suara itu kembali bergema. Biarkan kita belajar lagi bagaimana merawat kemanusiaan, alam, dan kehidupan, lewat kata-kata yang diucapkan dengan hati. (Christian Saputro)




