BANDAR LAMPUNG — “Udo, kalau punya dokumentasi puisi Achmad Rich, ya.”
Pesan singkat itu datang dari Christian Saputro pada 16 April 2026. Saya menjawabnya dengan pendek, bahkan dengan nada yang agak malu-malu.
“Itulah… nggak punya lagi.”
Lalu pertanyaan berikutnya menyusul, seperti menampar ingatan saya yang mulai keropos.
“Nggak punya buku Memetik Puisi dari Udara, ya?”
Jawaban saya kali ini lebih memalukan lagi.
“Dulu punya, Mas. Sekarang tak tahu rimbanya.”
Percakapan sederhana di layar gawai itu ternyata menyentil sesuatu yang lama mengendap dalam kepala. Sesuatu yang selama bertahun-tahun saya abaikan. Sesuatu yang mungkin juga kita abaikan bersama sebagai masyarakat sastra Lampung: dokumentasi.
Ada pepatah lama yang mengatakan: manusia mati meninggalkan nama, penyair mati meninggalkan puisi. Dan puisi, sebagaimana kita percaya, memiliki umur yang lebih panjang daripada tubuh penciptanya. Namun, kepercayaan itu hanya akan menjadi ilusi jika tidak ada upaya nyata untuk merawatnya. Puisi hanya bisa hidup jika ada yang menyimpan, mendokumentasikan, dan membacanya kembali. Jika tidak, ia bisa hilang bahkan sebelum sempat menjadi kenangan.
Saya teringat masa SMA hingga kuliah, sekitar tahun 1986 hingga awal 1990-an. Saat itu, saya mengumpulkan buku-buku sastra Lampung dengan semangat seorang kolektor perangko. Antologi puisi, majalah sastra, koran-koran lama, hingga kumpulan cerpen, semuanya saya simpan rapi. Saya pernah memiliki banyak buku yang kini justru sedang saya cari-cari dengan sia-sia.
Namun, nasib buku sering kali tragis. Teman meminjam, lalu lupa mengembalikan. Ada yang meminjam dengan wajah penuh persahabatan, lalu menghilang bersama buku itu untuk selamanya. Ada pula yang menganggap buku itu lebih baik tinggal di rak mereka daripada kembali ke pemilik asalnya.
Jangan salah, saya sendiri bukan tanpa dosa. Pada masa muda, ketika CCTV belum menjadi penjaga moral masyarakat, ada juga buku yang berpindah tangan dari perpustakaan atau teman dengan cara-cara yang tidak terlalu terhormat. Ah, begitulah hubungan rumit antara manusia dan buku: sama-sama saling mencintai, tetapi sering berakhir dengan kehilangan.
Akibatnya, kini saya hanya bisa mengenang sejumlah buku yang pernah saya miliki. Padahal, dari buku-buku itulah saya pertama kali mengenal nama-nama penyair Lampung yang kelak menjadi pilar penting perjalanan sastra daerah ini. Nama-nama seperti Achmad Rich, Asaroeddin Malik Zulkarnain Ch (atau yang lebih dikenal sebagai Amzoech), Sugandhi Putra, Syaiful Irba Tanpaka, dan sejumlah nama lain yang perlahan-lahan menghilang dari ingatan publik.
Mereka pernah menulis. Pernah bersuara. Pernah memenuhi halaman-halaman buku dan surat kabar. Namun kini, mencari karya mereka sering kali lebih sulit daripada mencari foto artis tahun 1970-an.
Ambil contoh Achmad Rich. Penyair yang lahir di Jakarta pada 6 April 1956 ini meninggalkan jejak melalui berbagai antologi penting seperti Nyanyian Tanah Putih (1984), Memetik Puisi dari Udara (1987), Temu Penyair se-Bandar Lampung (1987), Forum Puisi Indonesia 1987 (1987), dan Jung (1995). Namun, hari ini, berapa banyak generasi muda Lampung yang pernah membaca puisinya? Berapa banyak perpustakaan yang masih menyimpan buku-buku tersebut? Atau, bahkan lebih sederhana: berapa banyak dari kita yang masih ingat nama Achmad Rich?
Pertanyaan itu terasa menyakitkan.
Lalu ada Sugandhi Putra, penyair kelahiran Kotabumi, 6 Januari 1962. Namanya pernah hadir dalam Forum Puisi Indonesia 1987, Jung, Festival Januari: Penyair Lampung (1996), Antologi Puisi Indonesia 1997, dan antologi bersama Iwan Nurdaya-Djafar berjudul Seratus Sajak (1989). Ia juga menerbitkan kumpulan puisi tunggal Kiblat pada 1987. Buku itu kini nyaris seperti benda purbakala. Mungkin masih tersimpan di rak seseorang yang sudah lupa bahwa ia memilikinya, atau sedang berdebu di sudut perpustakaan yang jarang dikunjungi.
Kemudian Syaiful Irba Tanpaka. Nama yang bagi saya selalu menghadirkan kesan khas. Ia hadir dalam banyak antologi penting: Nyanyian Tanah Putih, Forum Puisi Indonesia 1987, Mengenang Bumi Kelahiran (1993), Jung (1995), Sajak-Sajak Setengah Abad Indonesia Merdeka (1995), hingga Puisi-Puisi dari Pulau Andalas (1999). Ia juga menerbitkan buku puisi tunggal Mata-Mata (1984), Buku Puisi (1996), dan Karena Bola Matamu (2007), serta kumpulan cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua (2013).
Ketika Syaiful Irba Tanpaka wafat pada November 2023, Lampung kehilangan salah satu penyair yang paling tekun menjaga nyala kepenyairannya. Namun, seperti sering terjadi, setelah pemakaman selesai, setelah karangan bunga layu, dan setelah ucapan belasungkawa berhenti, pertanyaan lama kembali muncul: siapa yang menjaga karya-karyanya?
Pertanyaan serupa berlaku bagi Amzoech (Asaroeddin Malik Zulkarnain Ch), yang lahir di Jakarta pada 12 November 1956 dan wafat di Bandar Lampung pada 17 Oktober 2017. Ia meninggalkan jejak dalam Nyanyian Tanah Putih, Memetik Puisi dari Udara, Jung, dan berbagai publikasi lainnya. Namun lagi-lagi, dokumentasi karya-karya itu tersebar, tercecer, dan nyaris tak terurus.
Padahal, Indonesia pernah beruntung memiliki sosok seperti H.B. Jassin. Melalui Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, ribuan karya sastra berhasil diselamatkan dari kepunahan. Jejak itu kemudian diikuti oleh sejumlah pegiat dokumentasi sastra di berbagai daerah.
Lampung? Betapa malangnya kita. Hampir tidak ada lembaga yang secara serius dan berkelanjutan mendokumentasikan karya sastrawan Lampung. Kalau beruntung, beberapa buku masih bisa ditemukan di Perpustakaan Provinsi Lampung. Kalau beruntung.
Masalahnya, keberuntungan bukanlah sistem. Dokumentasi tidak boleh bergantung pada nasib baik. Ia harus menjadi kesadaran kolektif. Sebab, sastra bukan hanya urusan penyair. Sastra adalah memori kebudayaan. Ketika sebuah puisi hilang, yang hilang bukan sekadar rangkaian kata-kata. Yang hilang adalah jejak zaman, suasana batin masyarakat, cara berpikir sebuah generasi, dan potongan sejarah yang tidak pernah dicatat oleh arsip resmi pemerintah.
Karena itu, tulisan ini sesungguhnya bukan hanya in memoriam bagi Achmad Rich, Sugandhi Putra, Syaiful Irba Tanpaka, Amzoech, dan para penyair Lampung yang telah mendahului kita. Tulisan ini juga merupakan pengakuan dosa. Dosa saya sendiri. Dosa karena kurang peduli merawat dokumentasi yang pernah saya miliki. Dosa karena menganggap buku akan selalu ada. Dosa karena merasa ingatan cukup untuk menyimpan sejarah.
Padahal tidak. Ingatan manusia rapuh. Buku bisa hilang. Majalah bisa lapuk. Koran bisa dimakan rayap. Dan nama penyair bisa lenyap bila tak ada yang mengingatnya.
Untunglah karya-karya mereka pernah ada. Untunglah sebagian masih tersisa. Untunglah sesekali masih ada orang seperti Christian Saputro yang bertanya tentang Achmad Rich dan tanpa sadar membangunkan ingatan yang hampir tertidur.
Kini, mereka memang telah tiada. Namun, puisi-puisi mereka masih mengada. Mungkin tercecer. Mungkin berdebu. Mungkin terselip di rak tua yang tak pernah dibuka. Tapi, ia masih ada. Menunggu ditemukan kembali. Menunggu dibaca kembali. Menunggu diwariskan kembali.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Terima kasih kepada Achmad Rich, Sugandhi Putra, Syaiful Irba Tanpaka, Amzoech, dan para penyair Lampung yang telah mendahului perjalanan ini. Kalian telah pulang. Namun, kata-kata yang kalian tinggalkan masih tinggal. Dan, selama masih ada yang membaca, sesungguhnya kalian belum benar-benar pergi. []
Udo Z Karzi
Pembaca sastra yang sesekali jadi tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung.




