Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Bayangkan suatu pagi, dua puluh ribu tahun silam.
Saat itu, belum ada Selat Sunda yang memisahkan Jawa dan Sumatra. Belum ada Laut Jawa yang membiru luas di antara pulau-pulau. Belum ada kapal feri yang menyeberang dari Merak ke Bakauheni. Yang terbentang di hadapan mata hanyalah hamparan padang rumput tak bertepi, hutan hujan tropis yang lebat, sungai-sungai raksasa yang berkelok liar, dan kawanan gajah purba yang berjalan gagah tanpa pernah menyadari bahwa jejak kaki mereka kelak akan dipisahkan oleh lautan.
Pada masa itu, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan bukanlah kepulauan yang terpisah. Mereka adalah satu kesatuan daratan masif. Para ahli geologi menyebutnya Paparan Sunda atau Sundaland—sebuah benua tropis yang kini sebagian besar telah tertidur pulas di dasar samudra.
Lautan yang hari ini menjadi batas administratif dan geografis kita, pada masa itu hanyalah lembah hijau dan dataran rendah. Permukaan air laut berada 120 hingga 130 meter lebih rendah daripada sekarang. Mengapa? Karena sebagian besar air bumi terkunci rapat dalam lapisan es raksasa di kutub utara dan selatan, membekukan dunia dalam cengkeraman Zaman Es terakhir (Last Glacial Maximum).
Di atas tanah kering itulah manusia purba berjalan. Di atas tanah itu pula harimau, badak, gajah, banteng, dan orangutan menyebarkan wilayah hidupnya dengan bebas, tanpa mengenal batas pulau, tanpa hambatan gelombang.
Namun, bumi tidak pernah diam.
Ketika zaman es berakhir, iklim mulai menghangat. Lapisan es di kutub mencair perlahan namun pasti. Air laut naik, inch demi inch, tahun demi tahun, abad demi abad. Dataran rendah mulai tergenang. Sungai-sungai raksasa berubah menjadi teluk. Lembah-lembah hijau tenggelam menjadi dasar laut. Puncak-puncak perbukitan yang tersisa berubah menjadi pulau-pulau yang kita huni sekarang.
Proses dramatis yang berlangsung ribuan tahun inilah yang melahirkan wajah Indonesia seperti yang kita kenal hari ini.
Laut Jawa, sejatinya, adalah daratan yang tenggelam.
Selat Malaka, dulunya, adalah sebuah lembah sungai.
Begitu pula Selat Sunda.
Bukti-buktinya masih bisa dibaca. Di dasar laut yang dangkal tersebut, para ahli geologi dan oseanografi menemukan jejak-jejak jaringan sungai purba yang dahulu mengalir melintasi Sundaland. Mereka memberinya nama Sungai Sunda Utara dan Sungai Sunda Timur. Melalui pemetaan batimetri modern, alur-alur sungai kuno itu tampak jelas, seolah bumi masih menyimpan ingatan tajam tentang masa ketika Nusantara belum terpecah belah.
Jejak penyatuan itu tidak hanya tersimpan dalam bebatuan sedimen. Ia juga hidup, bernapas, dan bergerak dalam tubuh satwa-satwa yang kini menghuni pulau-pulau kita.
Pernahkah Anda bertanya: Mengapa orangutan hanya ditemukan di Sumatra dan Kalimantan? Mengapa fosil gajah pernah ditemukan di Jawa? Mengapa harimau pernah berkeliaran bebas dari daratan Asia hingga ke ujung Jawa dan Sumatra?
Jawabannya sederhana namun menakjubkan: Mereka datang ketika semuanya masih tersambung. Mamalia besar tidak memiliki kemampuan untuk menyeberangi lautan lepas yang luas. Migrasi mereka terjadi melalui daratan. Karena itu, kemiripan fauna di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya menjadi bukti biologis paling otentik tentang keberadaan Paparan Sunda. Kita berbagi nenek moyang ekosistem dengan tetangga kita di seberang laut.
Sebaliknya, coba lihat ke timur, menuju Sulawesi. Di sana, dunia berubah drastis.
Anda tidak akan menemukan harimau atau gajah. Sebaliknya, Anda disambut oleh anoa, babirusa, tarsius, dan kuskus beruang—satwa-satwa unik yang tidak ada di wilayah Paparan Sunda. Perubahan tajam ini dijelaskan oleh Garis Wallace, sebuah batas biogeografi imajiner namun nyata yang memisahkan fauna bercorak Asia dengan kawasan peralihan menuju Australia.
Laut di sekitar Garis Wallace sangat dalam. Bahkan saat permukaan laut turun drastis selama Zaman Es, celah laut dalam itu tidak pernah kering. Itu sebabnya satwa Asia tidak pernah bisa menyeberang ke Sulawesi secara alami. Laut menjadi tembok tinggi yang menjaga keunikan evolusi di sisi lain.
Di antara data-data ilmiah yang dingin itu, Nusantara juga menyimpan cerita-cerita yang lebih tua, yang disampaikan melalui bisikan leluhur.
Dalam sejumlah naskah tradisional Jawa dan Sunda, muncul kisah tentang Gunung Batuwara. Disebutkan bahwa gunung ini meletus dengan dahsyat, membelah daratan, dan memicu banjir besar yang mengubah muka bumi. Sebagian peneliti modern mengaitkan Gunung Batuwara dengan Krakatau Purba. Ahli geologi Belanda, Berend George Escher, bahkan pernah mengidentifikasi Batuwara sebagai nama lain bagi gunung purba yang kemudian runtuh membentuk kaldera Krakatau yang kita kenal sekarang.
Legenda serupa juga termuat dalam Pustaka Raja Parwa, yang mengisahkan letusan besar dan perubahan bentang alam yang drastis. Meskipun hubungan langsung antara naskah kuno dan peristiwa geologi spesifik masih menjadi bahan kajian akademis—para ilmuwan belum sepenuhnya sepakat mengenai kronologi pastinya—fakta bahwa Krakatau memiliki sejarah letusan purba yang kolosal tidak dapat dibantah.
Di titik inilah mitologi dan sains saling bersalaman. Yang satu berbicara melalui simbol dan metafora ketakutan manusia purba. Yang lain berbicara melalui lapisan batuan dan fosil. Keduanya, pada hakikatnya, sedang berusaha mengingat masa lalu bumi yang sama.
Kini, yang tersisa dari Sundaland hanyalah serpihan-serpihan pulau. Namun, jangan salah sangka. Pulau-pulau yang terpisah ini justru menjelma menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia.
Sumatra masih setia menjaga orangutan dan harimau sumatra.
Kalimantan menjadi benteng terakhir bagi bekantan dan orangutan kalimantan.
Jawa, dengan segala padatnya penduduk, masih menyisakan ruang suci bagi badak jawa di Ujung Kulon.
Sulawesi membanggakan keunikan anoa dan babirusa.
Dan Papua, di ujung timur, menjadi habitat eksklusif bagi kanguru pohon dan ekidna, mamalia bertelur yang nyaris tak ditemukan di belahan bumi lain.
Keanekaragaman ini bukan sekadar statistik kekayaan alam. Ia adalah arsip evolusi yang ditulis selama jutaan tahun, sebuah perpustakaan hidup yang mencatat bagaimana kehidupan beradaptasi terhadap perubahan bumi yang radikal.
Barangkali, laut yang hari ini memisahkan kita bukanlah dinding pemisah. Ia adalah halaman-halaman sejarah bumi yang terbuka.
Di bawah deburan ombak Laut Jawa dan Selat Sunda, tersembunyi jejak sungai, hutan, dan padang rumput yang pernah diinjak oleh kaki-kaki manusia purba dan telapak-telapak mamalia raksasa. Indonesia ternyata bukan sekadar negeri kepulauan yang acak. Ia adalah pecahan dari sebuah benua agung yang perlahan tenggelam, meninggalkan pulau-pulau sebagai kenangan, dan menyisakan pesan abadi: bahwa bumi selalu berubah, dinamis, dan tak pernah berhenti bergerak. Sementara kita, manusia, hanyalah sesaat menjadi saksi dalam perjalanan panjang planet ini. (*)




