SEMARANG — Sore merayap pelan di Jalan Kepodang. Cahaya matahari memantul di kaca-kaca tua sebuah bangunan berusia hampir seabad. Di terasnya, aroma kopi menyeruak, bercampur wangi kayu tua yang menyimpan terlalu banyak cerita untuk dilupakan.
Orang-orang datang silih berganti. Mahasiswa dengan ransel lusuh, pekerja kreatif membawa laptop, seniman yang menggulung kanvas di bawah lengan, hingga para lansia yang datang hanya untuk duduk dan mengenang. Mereka mengenal tempat ini dengan nama yang berbeda-beda. Generasi muda menyebutnya Rumah Po Han. Generasi lama masih mengingatnya sebagai Kepodang 64.
Tak banyak yang tahu, sebelum menjadi ruang budaya yang ramai, bangunan ini pernah menjadi salah satu jantung pers di Semarang. Dari sinilah koran Kuang Po terbit pada 1953. Tujuh tahun kemudian, Sinar Indonesia menyusul. Pada masanya, gedung ini bukan sekadar kantor redaksi. Ia adalah tempat berita dilahirkan, opini diperdebatkan, dan arah zaman dirumuskan.
Di ruangan yang kini dipenuhi meja kopi dan rak buku itu, dahulu suara mesin tik berdenting tanpa jeda. Wartawan keluar masuk membawa catatan lapangan. Editor membungkuk di atas naskah yang harus selesai sebelum tengah malam. Dari mesin-mesin cetak di belakang gedung, ribuan lembar koran berangkat menyapa pembacanya setiap pagi.
Waktu kemudian berjalan tanpa kompromi.
Media berubah. Generasi berganti. Mesin cetak berhenti berdentum. Satu per satu ruangan kehilangan penghuninya. Debu menebal di kusen jendela. Cat dinding mengelupas. Lantai tua yang pernah mengantar langkah para jurnalis perlahan retak dimakan usia. Kepodang 64 memasuki masa sunyi yang panjang.
Bagi sebagian orang, bangunan tua itu hanyalah aset yang menunggu diganti bangunan baru. Namun bagi mereka yang mencintai sejarah kota, Kepodang 64 adalah halaman penting dalam buku panjang Semarang. Merobohkannya berarti menghapus jejak tentang bagaimana kota ini pernah berbicara kepada dirinya sendiri melalui tinta dan kertas.
Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan Rumah Po Han.
Alih-alih menghapus masa lalu, para pengelolanya memilih merawatnya. Mereka mempertahankan pintu-pintu kayu besar, jendela tinggi, dan jejak usia yang masih menempel pada dinding. Bangunan itu tidak dipoles menjadi baru. Ia dibiarkan menua dengan anggun, sembari diberi kehidupan baru.
Kini, suara mesin cetak memang tak lagi terdengar. Namun ruang ini kembali ramai oleh percakapan. Diskusi sastra, pameran seni, pertunjukan musik, peluncuran buku, hingga pertemuan komunitas berlangsung hampir setiap pekan. Bangunan yang dahulu menjadi rumah berita kini menjelma rumah gagasan.
Kepodang 64 ternyata tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti peran.
Sejarah yang dulu dicetak di atas kertas kini hidup dalam percakapan, tawa, dan perjumpaan manusia. Di tengah kota yang terus berubah, Rumah Po Han membuktikan bahwa bangunan tua tidak harus menjadi monumen yang membeku. Ia bisa tetap bernapas, tumbuh, dan memberi makna bagi generasi yang datang kemudian.
Ketika malam turun dan lampu-lampu kuning mulai menyala dari balik jendela-jendelanya, bangunan itu tampak seperti sedang bercerita. Tentang masa ketika tinta mengalir deras dari mesin cetak. Tentang sunyi yang pernah menyelimutinya. Dan tentang harapan yang kini tumbuh kembali di antara dinding-dinding tua yang menolak dilupakan. (Christian Saputro)




