SEMARANG — Angin malam mulai berhembus pelan di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), membawa serta aroma kemenyan dan anticipation yang khas. Di tengah hingar-bingar kota Semarang yang tak pernah tidur, ada ruang waktu yang seolah berhenti sejenak setiap kali kalender Jawa menunjuk pada malam Jumat Kliwon. Di sinilah, selama 337 kali berturut-turut, Tradisi Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon hadir, menjembatani dunia nyata dengan alam rasa melalui bayangan-bayangan wayang yang menari di balik kelir.
Pada Kamis, 11 Juni 2026, pukul 20.30 WIB, Komunitas Seni Teater Lingkar kembali menggelar pagelaran rutin tersebut. Kali ini, dalang Ki MPP Bayu Aji akan memimpin penonton menyusuri kedalaman filosofi Jawa melalui lakon “Karmayoga Drupadi” dengan gaya pertunjukan Gagrag Surakarta. Sebuah pilihan pakem yang dikenal kaya akan estetika bahasa, kelembutan gerak, dan kedalaman karakter.
Memasuki penyelenggaraan ke-337, agenda ini bukan sekadar rutinitas. Ia adalah bukti ketahanan budaya. Di tengah arus deras hiburan digital dan budaya populer yang serba instan, Teater Lingkar berkomitmen menjaga denyut kebudayaan lokal tetap berdetak. Setiap malam Jumat Kliwon menjadi undangan terbuka bagi masyarakat untuk kembali duduk bersila, mendengarkan tembang, dan meresapi kebijaksanaan leluhur yang terkandung dalam kisah pewayangan.
Drupadi dan Jalan Pengabdian Tanpa Dendam
Lakon “Karmayoga Drupadi” mengangkat sosok Dewi Drupadi bukan sekadar sebagai istri para Pandawa, melainkan sebagai simbol kehormatan, keteguhan, dan keberanian menegakkan dharma di tengah badai ketidakadilan. Dalam narasi ini, Drupadi dihadapkan pada ujian-ujian berat yang mengguncang martabatnya. Namun, alih-alih terjerumus dalam lingkaran dendam, ia memilih menempuh jalan karmayoga—pengabdian melalui tindakan yang benar, tanpa dilandasi kepentingan pribadi atau kebencian.
Ki MPP Bayu Aji, melalui gaya Surakarta yang halus namun tegas, akan menghidupkan konflik batin Drupadi. Sang tokoh digambarkan sebagai sumber kekuatan moral bagi para Pandawa. Pesannya jelas: kemenangan sejati tidak hanya diukur dari keberhasilan mengalahkan musuh di medan perang, tetapi juga dari kemampuan menaklukkan keserakahan, amarah, dan hawa nafsu dalam diri sendiri.
Tema ini terasa sangat relevan dengan konteks masyarakat masa kini. Di era di mana tantangan sosial, politik, dan moral semakin kompleks, nilai-nilai pengabdian, tanggung jawab, integritas, dan keberanian membela kebenaran menjadi oase di tengah gersangnya etika publik. Wayang kulit, dalam hal ini, berfungsi bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan. Dialog antar tokoh, sulukan yang syahdu, hingga canda cerdas para punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) menghadirkan refleksi tajam mengenai kepemimpinan, keadilan, dan hubungan manusia dengan sesamanya.
Semarang sebagai Ruang Pertemuan Tradisi dan Modernitas
Semarang dikenal sebagai salah satu kota dengan ekosistem seni pertunjukan paling hidup di Jawa Tengah. Kehadiran komunitas seperti Teater Lingkar turut memperkuat posisi kota ini sebagai ruang pertemuan antara ekspresi budaya tradisional dan kontemporer. TBRS, dengan arsitektur yang memadukan nuansa klasik dan fungsionalitas modern, menjadi saksi bisu bagaimana wayang kulit terus berevolusi tanpa kehilangan akarnya.
Pagelaran ini terbuka bagi masyarakat umum, mengundang siapa saja—dari akademisi, budayawan, hingga pemuda yang baru pertama kali menyaksikan wayang kulit secara langsung—untuk bergabung dalam lingkaran apresiasi ini. Di tengah gempuran layar kaca dan media sosial, malam Jumat Kliwon di TBRS menawarkan pengalaman sensorik yang utuh: suara gamelan yang menggetarkan dada, bau dupa yang menenangkan jiwa, dan visual bayangan wayang yang memicu imajinasi.
Melalui Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon ke-337 ini, Teater Lingkar mengirimkan pesan bahwa tradisi bukanlah barang usang yang harus dikurung di museum. Ia adalah entitas hidup yang terus bernapas, beradaptasi, dan berbicara kepada setiap zaman. Dan malam itu, di bawah cahaya blencong, Drupadi akan kembali bercerita tentang keberanian menjadi manusia yang utuh. (Christian Saputro)




