SEMARANG — Bulan Juni kembali menjadi ruang refleksi atas pemikiran dan perjuangan Proklamator Republik Indonesia, Presiden Pertama RI Ir. Soekarno. Berbagai seniman, budayawan, musisi, penyair, dan pegiat teater di Semarang akan memperingati Bulan Bung Karno melalui rangkaian kegiatan bertajuk “DJAREK: Sepekan Bung Karno Dalam Gerak, Rupa, Suara, Sastra” yang berlangsung pada 20–30 Juni 2026.
Kegiatan ini menghadirkan beragam ekspresi seni, mulai dari pembacaan puisi, diskusi kebangsaan, pertunjukan seni rupa, musik, hingga teater, sebagai upaya menghidupkan kembali gagasan-gagasan Bung Karno di tengah tantangan zaman modern.
Pembukaan acara akan berlangsung pada 20 Juni 2026 pukul 19.00 WIB. Malam pembuka akan diisi pembacaan puisi oleh Enifa Yuli, penampilan musik BDN Bersenandung, serta performance art dari kelompok KGB yang akan menghadirkan tafsir artistik terhadap sosok dan pemikiran Bung Karno.
Rangkaian acara kemudian berlanjut pada 21 Juni dengan agenda spiritual bertajuk “Doa untuk Sang Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah” bersama masBagus Fadhel. Kegiatan ini menjadi ruang kontemplasi untuk mengenang jasa para pendiri bangsa sekaligus mendoakan Indonesia agar tetap teguh menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu agenda yang diperkirakan menarik perhatian publik adalah diskusi bertema “Relevansi Marhaenisme dalam Kehidupan Kekinian” pada 23 Juni 2026.
Forum ini akan membahas sejauh mana pemikiran ekonomi-politik Bung Karno masih dapat menjadi inspirasi dalam menjawab persoalan ketimpangan sosial, kemandirian bangsa, dan keadilan ekonomi pada era globalisasi.
Nuansa sastra kembali mengemuka pada 25 Juni melalui Panggung Puitika untuk Bung Karno. Sejumlah penyair dan pegiat literasi seperti Beno Siang Pamungkas, Gunoto Saparie, Imaniar, Kolaborart, Lukni Maulana, Muhammad Agung Ridho, dan Yusri Yusuf akan membacakan karya-karya yang merefleksikan nasionalisme, kemanusiaan, dan cita-cita Indonesia yang diperjuangkan Bung Karno.
Semangat perjuangan kemudian diterjemahkan dalam bahasa musik melalui konser “Genta Suara Revolusi Indonesia” pada 27 Juni 2026. Berbagai kelompok musik lintas genre seperti The Rebel, Private Prayet, Moon Walker, Necrolust, Scum Visual Rock, Giga of Spirit, dan JNF dijadwalkan tampil dalam panggung yang memadukan energi kreatif anak muda dengan semangat kebangsaan.
Sementara itu, penutupan rangkaian kegiatan pada 30 Juni akan ditandai dengan pertunjukan “Seronce Melati bagi Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi” yang dipersembahkan oleh SatoeBoemi dan Teater Lingkar.
Pertunjukan ini menjadi bentuk penghormatan artistik terhadap Bung Karno sebagai tokoh sentral dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Tidak hanya pertunjukan dan diskusi, selama 20–30 Juni 2026 pengunjung juga dapat menikmati Pameran Seni Lukis “JAS MERAH” karya Suhartono. Judul pameran tersebut merujuk pada pesan terkenal Bung Karno, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, yang hingga kini tetap menjadi pengingat penting bagi bangsa Indonesia untuk tidak tercerabut dari akar perjuangannya.
Bagi para penyelenggara, peringatan Bulan Bung Karno bukan sekadar mengenang sosok seorang presiden, melainkan menghidupkan kembali semangat berpikir, berkarya, dan berjuang yang diwariskannya. Melalui seni, sastra, dan budaya, gagasan-gagasan Bung Karno diharapkan dapat terus berdialog dengan generasi muda.
Sebagaimana kutipan legendaris yang terpampang dalam kegiatan tersebut, “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa selalu bertumpu pada keberanian generasi muda untuk bermimpi, berkarya, dan menjaga cita-cita Indonesia.
(Christian Saputro)




