SEMARANG — Malam merambat pelan di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang. Angin Juni berembus tipis, menyusup di antara pepohonan tua yang mengelilingi kompleks kesenian itu. Di dalam pendapa, bunyi kenong terdengar seperti tetes air yang jatuh ke sumur ingatan—jernih, berulang, dan menghanyutkan. Satu per satu penonton datang. Ada mahasiswa, pegawai negeri, pegiat seni, pensiunan, hingga mereka yang sekadar mencari alasan untuk tidak pulang terlalu cepat ke rumah yang mungkin sepi.
Di hadapan mereka terbentang kelir putih.
Di baliknya, sejarah menunggu untuk dihidupkan kembali.
Malam itu, Kamis, 11 Juni 2026, Teater Lingkar kembali menggelar Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon ke-337. Angka yang tidak kecil untuk sebuah tradisi yang bertahan hidup di tengah zaman yang serba cepat dan dangkal. Di saat perhatian manusia diperebutkan habis-habisan oleh layar-layar kecil di genggaman tangan, ada sekelompok orang yang masih setia duduk berjam-jam, menyaksikan bayang-bayang kulit menari dalam cahaya blencong.
Mereka datang untuk mendengar kisah lama.
Atau mungkin, tanpa sadar, mereka datang untuk mendengar kisah mereka sendiri.
Dalang Ki MPP Bayu Aji malam itu memilih lakon Karmayoga Drupada. Sebuah tafsir atas tokoh yang jarang berdiri di pusat panggung Mahabharata. Nama Drupada kerap tenggelam di antara kebesaran Arjuna, kebijaksanaan Kresna, atau heroisme para Pandawa. Padahal, dari dirinya, salah satu api terbesar dalam epos itu menyala—api yang membakar segalanya, termasuk dirinya sendiri.
Drupada adalah raja.
Tetapi sebelum menjadi raja, ia adalah seorang sahabat.
Ia dan Drona pernah tumbuh bersama dalam masa muda yang penuh janji. Mereka belajar dalam satu padepokan, berbagi mimpi yang sama tentang masa depan di mana persahabatan akan mengalahkan hierarki sosial. Namun waktu memiliki kesenangan yang kejam: mempertemukan manusia untuk kemudian mengujinya dengan perbedaan nasib.
Drupada menjadi penguasa Pancala yang megah.
Drona menjadi brahmana miskin yang tersingkir.
Ketika Drona datang menagih janji persahabatan, yang ia temui bukan pelukan hangat, melainkan penghinaan dingin. Dan seperti semua penghinaan yang menyentuh harga diri seorang pria bangsawan, peristiwa itu tidak pernah benar-benar berakhir pada hari yang sama.
Ia hidup.
Ia tumbuh.
Ia berubah menjadi dendam.
Lakon yang dimainkan malam itu tidak sibuk mengisahkan gemuruh peperangan atau kesaktian astra. Ia justru menyelami ruang yang lebih sunyi dan mengerikan: batin manusia. Sebab perang terbesar tidak selalu terjadi di medan laga Kurukshetra. Kadang, ia berlangsung di dalam dada seseorang yang tak mampu berdamai dengan masa lalunya.
Dalam sabetan wayang gagrag Surakarta yang halus, terukur, dan penuh tata krama, Drupada hadir bukan sebagai tokoh hitam-putih. Ia bukan pahlawan yang harus dipuja mati-matian. Ia juga bukan penjahat yang harus dicaci maki. Ia adalah manusia yang berusaha mempertahankan kehormatan, lalu perlahan menyadari bahwa kehormatan yang dibangun di atas fondasi dendam hanya akan melahirkan luka baru yang lebih dalam.
Di titik itulah lakon ini terasa menakutkan karena begitu dekat dengan zaman sekarang.
Berapa banyak keputusan politik lahir dari ego yang tersinggung?
Berapa banyak konflik sosial berakar pada keinginan primitif untuk membalas penghinaan?
Berapa banyak hubungan—baik pribadi maupun profesional—yang runtuh karena manusia lebih memilih “menang” daripada memahami?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergaung di antara bunyi gender yang melankolis dan suluk dalang yang menusuk kalbu.
Wayang, rupanya, sedang berbicara tentang hari ini.
Ada alasan mengapa Teater Lingkar memilih gagrag Surakarta untuk membawakan kisah sekeras ini. Dalam tradisi pewayangan Jawa, Surakarta dikenal sebagai rumah bagi kehalusan (alus). Tokoh-tokohnya bertubuh ramping dan anggun. Gerakannya hemat tetapi sarat makna. Dialognya kaya unggah-ungguh. Tidak ada ledakan emosi yang berlebihan. Tidak ada kemarahan yang diumbar tanpa kendali.
Semua bergerak dalam irama laku.
Seperti hidup itu sendiri: diam-diam, namun mematikan.
Dalam tangan seorang dalang, wayang gagrag Surakarta tidak sekadar menceritakan peristiwa masa lalu. Ia mengajak penonton merenung. Setiap jeda adalah ruang tafsir. Setiap diam adalah bagian dari percakapan batin.
Maka ketika Drupada berdiri di hadapan takdirnya, yang terlihat bukan sekadar seorang raja yang sombong. Yang tampak adalah manusia yang mulai memahami, meski terlambat, bahwa setiap tindakan memiliki harga.
Bahwa dendam tidak pernah datang sendirian.
Ia selalu membawa anak-anaknya: kemarahan yang buta, kesedihan yang tak berujung, kehilangan orang tercinta, dan penyesalan yang datang setelah semuanya hancur.
Dari api yadnya lahirlah Drestadyumna dan Drupadi. Dari mereka, sejarah bergerak lurus menuju Bharatayuda. Tetapi malam itu, lakon seolah bertanya kepada penonton dengan nada sinis: apakah semua itu sungguh kemenangan?
Ataukah itu hanya lingkaran baru dari penderitaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah putus?
Sudah lebih dari tiga ratus kali Teater Lingkar menggelar wayang kulit Malam Jumat Kliwon. Sebuah ketekunan yang nyaris tampak kuno, bahkan aneh, di zaman yang memuja kebaruan dan kecepatan.
Tetapi mungkin justru karena itulah tradisi ini bertahan.
Ia tidak berlomba menjadi yang paling baru.
Ia memilih menjadi yang paling sabar.
Setiap bulan, kelir kembali dibentangkan. Gamelan kembali ditabuh. Cerita-cerita lama kembali dipanggil dari alam bawah sadar kolektif. Dan setiap kali itu pula, manusia menemukan dirinya di dalam kisah yang sama, berulang-ulang.
Sebab Mahabharata tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hidup dalam kantor-kantor pemerintahan di mana jabatan diperebutkan. Ia hidup dalam ruang rapat perusahaan di mana rekan kerja saling menjatuhkan. Ia hidup di meja makan keluarga yang retak, bahkan dalam percakapan kecil di media sosial yang menyimpan luka bertahun-tahun.
Drupada hidup di sana.
Dalam diri pemimpin yang sulit mengakui kesalahan.
Dalam diri seseorang yang memelihara dendam sebagai bahan bakar untuk terus berjalan, karena jika dendam itu hilang, ia takut akan berhenti.
Dalam diri siapa saja yang mengira kemenangan berarti melihat orang lain kalah.
Menjelang tengah malam, gamelan terus mengalun. Bayang-bayang wayang bergerak semakin panjang dan distortif di atas kelir. Di luar pendapa, kota Semarang tetap sibuk dengan urusannya sendiri. Kendaraan melintas di Jalan Pemuda. Lampu jalan menyala redup. Dunia modern berjalan seperti biasa, seolah tidak peduli pada apa yang terjadi di balik kain putih itu.
Namun di dalam ruang pertunjukan, waktu seolah melambat. Detik demi detik terasa berat.
Dan ketika lakon berakhir, penonton pulang membawa sesuatu yang tidak tampak oleh mata.
Bukan kemenangan Drupada.
Bukan pula kekalahannya yang tragis.
Melainkan kesadaran yang dingin: bahwa musuh terbesar manusia sering kali bukan lawan yang berdiri di hadapannya dengan pedang terhunus, melainkan api yang diam-diam ia rawat, beri makan, dan peluk di dalam dirinya sendiri.
Api yang membakar Drupada hingga habis.
Api yang, hingga hari ini, masih menyala di mana-mana. (Christian Heru Cahyo Saputro)




