SEMARANG — Riuh tabuhan tambur, gemulai tarian naga, dan harum dupa akan kembali memenuhi sudut-sudut Pecinan Semarang. Masyarakat Kota Semarang bersiap menyambut salah satu tradisi budaya dan spiritual terbesar masyarakat Tionghoa, yakni Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 yang diselenggarakan di Klenteng Tay Kak Sie pada 14–16 Juni 2026.
Perayaan yang telah berlangsung lebih dari satu setengah abad ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga penanda kuat bagaimana keberagaman budaya tumbuh dan hidup berdampingan di Kota Semarang. Puncak acara akan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) melalui Kirab Budaya Akbar yang diperkirakan melibatkan ribuan umat dari berbagai daerah, dengan atraksi barongsai, liong, musik tradisional, hingga arak-arakan tandu keramat (kio) yang membawa Kimsin YS Poo Seng Tay Tee.
Ketua Yayasan Tay Kak Sie, Tanto Hermawan, mengatakan perayaan tahun ini memiliki makna yang sangat istimewa. Untuk pertama kalinya, akan hadir Kimsin Kongco Poo Seng Tay Tee dari klenteng asalnya di Tiongkok, yakni Zhangzhou Baijiao Ciji Ancestral Temple Management Committee.
Menurutnya, kehadiran Kimsin dari tanah leluhur tersebut menjadi simbol kuat hubungan sejarah dan spiritual yang telah terjalin selama ratusan tahun antara komunitas Tionghoa di Semarang dan akar budayanya di Tiongkok.
“Tradisi ini telah mengajarkan kita tentang kesabaran, ketekunan, dan kebersamaan. Ini adalah bukti bahwa Semarang adalah kota yang toleran, di mana keberagaman dirayakan dengan penuh hormat,” ujar Tanto.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Djoko Weyong, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan terbuka bagi masyarakat luas tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.
“Perayaan ini adalah milik bersama, bagian dari kekayaan budaya Kota Semarang. Kami berharap kehadiran masyarakat dapat memperkuat tali persaudaraan dan menunjukkan wajah Semarang sebagai kota yang inklusif,” katanya.
Rangkaian Prosesi Tiga Hari
Rangkaian perayaan diawali pada Minggu (14/6/2026) dengan upacara slametan dan doa bersama di Pantai Marina. Prosesi ini menjadi ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan agar seluruh kegiatan berjalan lancar.
Pada malam harinya, umat mengikuti sembahyang bersama dan pembabaran Dharma di lingkungan Klenteng Tay Kak Sie.
Memasuki Senin (15/6/2026), klenteng akan menerima kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee dari berbagai klenteng rekanan. Malam harinya berlangsung prosesi sakral pemasangan Kimsin ke dalam kio yang disaksikan umat dalam suasana penuh kekhusyukan.
Puncak perayaan digelar Selasa (16/6/2026) mulai pukul 05.00 WIB melalui Kirab Budaya Akbar. Arak-arakan akan bergerak dari Klenteng Tay Kak Sie menuju Pantai Marina, kemudian kembali melintasi kawasan Pecinan Semarang.
Rute tersebut menyimpan makna filosofis yang mendalam. Klenteng melambangkan pusat spiritualitas, laut menjadi simbol sumber kehidupan dan perjalanan para leluhur, sementara Pecinan merupakan ruang sejarah tempat budaya Tionghoa berkembang dan berakulturasi dengan masyarakat lokal selama berabad-abad.
Sejarah Hidup yang Terus Berjalan
Bagi para pemerhati budaya, kirab Poo Seng Tay Tee merupakan bentuk living history atau sejarah hidup yang masih bertahan hingga kini. Tradisi ini menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Semarang sejak abad ke-19 sekaligus menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat diwariskan lintas generasi tanpa kehilangan makna.
Poo Seng Tay Tee sendiri dipercaya sebagai dewa pelindung yang membawa kesehatan, keselamatan, dan kedamaian. Penghormatan kepada sosok tersebut telah menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat Tionghoa Semarang selama lebih dari 166 tahun.
Selain memiliki nilai religius, perayaan ini juga menjadi magnet wisata budaya. Ribuan pengunjung setiap tahun datang untuk menyaksikan prosesi yang memadukan unsur spiritual, seni pertunjukan, dan tradisi masyarakat Tionghoa dalam satu perhelatan besar yang unik.
Panitia bersama aparat keamanan dan instansi terkait telah menyiapkan berbagai langkah pengamanan, termasuk posko kesehatan serta pengaturan lalu lintas di sepanjang rute kirab, guna memastikan kenyamanan peserta dan masyarakat.
Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, Kirab Poo Seng Tay Tee ke-166 menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya bukanlah sekat, melainkan jembatan yang mempertemukan berbagai identitas dalam semangat kebersamaan. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini terus hidup sebagai wajah toleransi dan harmoni yang telah lama menjadi ciri khas Kota Semarang. (Christian Saputro)




