SEMARANG — Sosok Arthur Rimbaud, penyair legendaris Prancis yang dikenal misterius dan pemberontak, kembali menjadi pusat perhatian dalam sebuah forum sejarah dan sastra di Kota Semarang. Alliance Française Semarang, berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), menggelar diskusi bertajuk “Melacak Jejak Arthur Rimbaud: Kisah Sang Penyair Perancis dan Jalur Kereta NIS Semarang–Salatiga di Hindia Belanda”.
Acara ini berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Gedung Oudetrap, kawasan Kota Lama Semarang, mulai pukul 10.30 WIB. Kolaborasi lintas sektor antara lembaga kebudayaan internasional, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi ini bertujuan menghidupkan kembali narasi sejarah global yang terhubung erat dengan lokalitas Jawa Tengah.
Rimbaud, KNIL, dan Rel Kereta Api
Diskusi menghadirkan dua narasumber ahli, yakni Mukhamad Shokheh, S.Pd., M.A., Ph.D., dan Dr. Nina Witasari, S.S., M.Hum. Keduanya akan membedah berbagai sumber sejarah, catatan perjalanan, serta kemungkinan jejak keberadaan Rimbaud di Jawa pada masa Hindia Belanda.
Arthur Rimbaud, yang meninggalkan dunia sastra di usia muda untuk menjelajahi dunia, tercatat pernah datang ke Hindia Belanda pada tahun 1876 sebagai serdadu Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL). Episode kehidupannya sebagai tentara bayaran sebelum akhirnya membelot dari dinas militer menjadi bahan kajian menarik bagi sejarawan dan sastrawan.
Forum ini secara khusus menelusuri keterkaitan perjalanan Rimbaud dengan jalur kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang menghubungkan Semarang dan Salatiga. Sebagai salah satu infrastruktur transportasi modern pertama di Hindia Belanda, jalur NIS memainkan peran vital dalam mobilitas manusia, perdagangan, dan pembukaan wilayah pedalaman Jawa pada abad ke-19. Apakah Rimbaud pernah melintasi rel-rel ini? Diskusi ini berupaya menjawab pertanyaan tersebut melalui pendekatan interdisipliner.
Semarang dalam Jaringan Sejarah Dunia
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat dialog budaya sekaligus memperkenalkan sejarah global yang memiliki akar di Semarang.
“Jejak Arthur Rimbaud di Jawa adalah kisah yang menarik karena mempertemukan sastra dunia, sejarah kolonial, dan perkembangan transportasi modern. Melalui diskusi ini, kami berharap masyarakat dapat melihat Semarang bukan hanya sebagai kota lokal, tetapi sebagai bagian dari jaringan sejarah dunia yang lebih luas,” ujar Kiki.
Selain aspek sejarah, forum ini juga menyoroti bagaimana sosok Rimbaud terus menginspirasi kajian lintas negara. Peserta diajak memahami jejak hubungan Prancis-Indonesia yang terjalin jauh sebelum era diplomasi modern, melalui lensa sastra dan budaya.
Rangkaian Acara Budaya Seharian
Kegiatan diskusi ini menjadi pembuka dari rangkaian acara budaya seharian di Oudetrap. Setelah sesi diskusi usai, pengunjung dapat menikmati pemutaran film internasional dalam program Europe on Screen, yaitu:
* Pukul 13.30 WIB: The Dormant Account
* Pukul 16.00 WIB: 7 Steps
* Pukul 18.30 WIB: The Stories
Melalui sinergi antara Alliance Française Semarang, Disbudpar Kota Semarang, UNNES, dan UKSW, acara ini diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi akademisi, pegiat budaya, mahasiswa, dan masyarakat umum. Bersama-sama, mereka menelusuri jejak sejarah yang menghubungkan Semarang dengan salah satu tokoh paling enigmatik dalam sastra dunia.
Meskipun jejak fisik Arthur Rimbaud di Jawa mungkin masih menyisakan tanda tanya, upaya melacaknya membuka perspektif baru dalam memahami sejarah. Lebih dari itu, hal ini memperkaya khazanah intelektual Kota Semarang sebagai kota yang sejak lama menjadi persimpangan berbagai peradaban dunia. (Christian Saputro)




