Bandar Lampung — Di sebuah ruang kerja yang dipenuhi aroma tajam cat, kain kanvas, dan jejak-jejak eksperimen yang tak pernah usai, Bambang Suroboyo duduk menatap lukisannya. Di hadapannya, ombak menjulang seperti dinding langit yang siap runtuh.
Ombak itu bukan ombak biasa.
Ia adalah tsunami Krakatau.
Di kanvas berukuran besar itu, laut tampak bergolak liar. Langit merah membara, seolah terbakar dari dalam. Gunung memuntahkan energi purba yang tak terbendung. Cahaya dan gelap bertabrakan dalam satu ledakan visual yang nyaris membuat penonton merasa berdiri di tepi bencana, merasakan cipratan air asin dan panas abu vulkanik di kulit mereka.
Namun bagi Bambang Suroboyo—yang akrab disapa Bambang SBY—lukisan itu bukan sekadar gambaran sebuah peristiwa sejarah atau rekaman visual bencana.
“Itu adalah tenaga alam,” katanya, suaranya tenang namun tegas. “Tenaga yang ingin saya tangkap, saya pahami, lalu saya terjemahkan ke dalam bahasa seni.”
Bambang bukan pelukis yang puas berjalan di jalan raya yang sudah dibuka orang lain. Sebagaimana karakter khas Arek Suroboyo yang tumbuh dalam semangat keberanian dan keteguhan hati, ia memilih membuka jalannya sendiri, menembus hutan belantara estetika yang belum terpetakan.
Dari situlah lahir gagasan yang kemudian ia sebut Realis Ekspresif Avonturisme.
Nama itu mungkin terdengar panjang dan asing di telinga sebagian kritikus seni. Namun di balik istilah tersebut tersimpan sebuah pandangan hidup yang sederhana, bahkan primitif dalam kemurniannya: kenyataan tidak cukup hanya dilihat dengan mata, tetapi harus dirasakan dengan seluruh indera dan jiwa.
Tiga Unsur dalam Satu Napas
Dalam aliran ciptaannya itu, Bambang memadukan tiga unsur yang seolah bertentangan, namun ia paksa untuk berdamai.
Pertama, realisme. Bentuk gunung harus tetap tampak sebagai gunung. Ombak tetap ombak. Langit tetap langit. Alam tidak boleh kehilangan logikanya, karena penghormatan pertama seorang seniman adalah pada kebenaran objek.
Kedua, ekspresivisme. Di sinilah emosi mengambil alih. Warna boleh menyala lebih terang daripada kenyataan fisik. Sapuan kuas boleh bergerak lebih liar daripada bentuk aslinya. Sebab, dalam momen bencana, emosi manusia—takut, kagum, kecil—memiliki hak untuk berbicara lebih keras daripada fakta fisika.
Dan ketiga, avonturisme.
Inilah unsur yang paling personal. Yang paling dekat dengan jiwanya. Yang paling Surabaya.
Bagi Bambang, avonturisme bukan sekadar petualangan fisik mendaki gunung atau menyusuri sungai. Ia adalah keberanian mental menghadapi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Ia menyebutnya sebagai semangat Bondo Nekad.
Bondo berarti modal. Nekad berarti keberanian nekat.
Modal tekad. Modal keberanian. Modal keyakinan.
Dalam budaya Arek Suroboyo, bondo nekad bukan berarti bertindak tanpa pikir panjang atau ceroboh. Ia adalah keberanian untuk melangkah ketika orang lain masih ragu di garis start. Keberanian untuk mencoba ketika peta jalan belum tersedia. Keberanian untuk gagal, demi menemukan cara baru.
Semangat itulah yang dibawa Bambang ke dalam karya-karyanya. Karena itu, tema-tema yang ia pilih jarang sekali yang ringan. Ia tertarik pada letusan gunung, gelombang tsunami, badai dahsyat, sejarah besar, dan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan betapa kecilnya manusia di hadapan semesta.
“Krakatau” menjadi salah satu simbol paling kuat dalam pencariannya. Di sana ia menemukan segala sesuatu yang ia cari: keindahan yang mengerikan, ketakutan yang mengagumkan, kehancuran yang melahirkan kehidupan baru.
Seniman Sebagai Ilmuwan Hutan
Tetapi petualangan Bambang tidak berhenti pada pilihan tema atau gaya lukis. Ia bahkan memilih menciptakan medianya sendiri, menolak ketergantungan pada industri seni yang serba instan.
Di tengah dunia seni rupa kontemporer yang lazim menggunakan bahan-bahan pabrikan impor, Bambang justru menempuh jalur yang lebih panjang, lebih berdebu, dan lebih berisiko.
Ia bereksperimen. Meracik. Mencampur. Menguji. Berulang kali, hingga bertahun-tahun.
Cat yang digunakan dalam sejumlah karya besarnya bukan semata cat akrilik atau minyak yang dibeli dari toko seni. Ia mengolah bahan-bahan organik dan anorganik yang diperoleh langsung dari kawasan hutan di Sumatera Selatan dan Lampung. Ia turun ke alam, bukan hanya untuk mencari inspirasi, tetapi untuk mencari materi.
Baginya, bahan bukan sekadar alat tempel. Bahan adalah bagian dari jiwa karya. Cat yang berasal dari tanah dan tumbuhan hutan tropis membawa memori tempat itu ke dalam kanvas.
Dari proses panjang yang menyerupai kerja seorang alkemis itu, ia menemukan komposisi yang tidak hanya menghasilkan warna yang kaya dan dalam, tetapi juga memiliki fungsi protektif. Lukisannya terlindungi dari ancaman yang selama ini menjadi musuh bebuyutan para perupa di negeri tropis: jamur, kelembaban tinggi, panas ekstrem, dan serangan serangga perusak.
Begitu pula dengan kanvas.
Ia tidak sepenuhnya percaya pada bahan standar yang umum digunakan. Kanvas, menurutnya, harus mampu bertahan menghadapi cuaca dua musim yang ekstrem di Indonesia. Karena itu ia memilih dan mengolah material khusus yang lebih kuat, lebih tahan terhadap kerusakan, dan lebih sesuai dengan iklim nusantara.
Pendekatan itu membuat proses kreatifnya menyerupai kerja seorang peneliti lapangan. Atau mungkin, seorang petualang yang sedang menyiapkan perlengkapan untuk ekspedisi panjang.
Sistem, Bukan Sekadar Gaya
Di dunia seni rupa Indonesia, para pelukis biasanya dikenal melalui gaya visual, tema tertentu, atau teknik khas. Bambang mencoba melangkah lebih jauh. Ia membangun sebuah sistem.
Sebuah gagasan utuh yang menghubungkan karya, teknik, material, pengalaman hidup, dan akar budaya.
Realis Ekspresif Avonturisme bukan hanya soal cara melukis. Ia adalah cara memandang dunia. Bahwa kenyataan harus dihormati kebenarannya. Bahwa emosi harus diberi ruang ekspresinya. Dan bahwa keberanian (bondo nekad) adalah bahan bakar utama setiap penciptaan yang autentik.
Karena itulah karya-karyanya selalu bergerak di antara dua kutub yang tegang.
Antara fakta dan perasaan.
Antara ketepatan bentuk anatomi alam dan ledakan emosi subjektif.
Antara ketenangan seorang pengamat yang teliti dan keberanian seorang petualang yang nekat.
Ketika seseorang berdiri di depan lukisan “Dahsyatnya Tsunami Krakatau”, mereka mungkin melihat ombak raksasa, gunung api yang meletus, dan langit yang bergolak dramatis.
Namun Bambang melihat sesuatu yang lain di balik lapisan cat itu.
Ia melihat tekad.
Ia melihat keberanian.
Ia melihat manusia yang terus mencoba memahami alam, meski sadar sepenuhnya bahwa tak akan pernah benar-benar mampu menaklukkannya.
Barangkali itulah inti dari Realis Ekspresif Avonturisme. Bukan sekadar menghadirkan pemandangan indah di dinding galeri. Melainkan menghadirkan pengalaman batin yang mentah.
Sebuah pengalaman yang membuat orang tidak hanya melihat sebuah lukisan, tetapi juga mendengar gemuruh ombak yang memecah gendang telinga, merasakan panas letusan yang membakar kulit, dan menyadari bahwa di hadapan semesta yang begitu besar dan misterius, manusia hanya memiliki satu bekal yang paling berharga:
Bondo nekad.
Tekad untuk terus berkarya, terus melangkah, dan terus mengagumi keagungan alam yang tak pernah selesai diceritakan. (Christian Saputro)




