SEMARANG — Di era di mana kamera ponsel bisa membekukan waktu dalam sepersekian detik, sekelompok orang di Semarang justru memilih cara yang lebih lambat, lebih sunyi, dan jauh lebih intim untuk menangkap wajah kota mereka.
Minggu pagi, 14 Juni 2026. Cahaya matahari belum terlalu terik saat menyelinap melalui celah-celah arsitektur Radjawali Semarang Cultural Center (SCC). Di selasar, teras, dan sudut-sudut ruang terbuka gedung bergaya batik itu, puluhan orang duduk bersila atau di atas kursi lipat. Mereka tidak sibuk memotret selfie atau menggulir umpan media sosial. Mata mereka tertuju pada detail pilar, bayangan atap, atau sekadar seorang pejalan kaki yang melintas di kejauhan.
Di tangan mereka, bukan gawai pintar, melainkan buku sketsa dan pensil.
Mereka adalah anggota Komunitas Semarang Sketchwalk (SSW) dan sejumlah sketcher independen yang berkumpul dalam kegiatan “Nyeket Bareng”. Bagi mereka, menggambar langsung di lokasi (on-site) bukan sekadar hobi. Itu adalah sebuah ritual perhatian. Sebuah upaya untuk berhenti sejenak dari deru kota, dan benar-benar melihat.
Melawan Arus Digital
Ratna Sawitri, Ketua Semarang Sketchwalk, mengamati para pesertanya dengan senyum tipis. Baginya, aktivitas ini adalah antitesis dari budaya instan.
“Menggambar langsung di lapangan memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan bekerja berdasarkan foto,” kata Ratna. “Ketika Anda memotret, Anda merekam apa yang ada. Ketika Anda menggambar, Anda harus memahami apa yang Anda lihat. Anda harus memilih: garis mana yang penting? Bayangan mana yang menceritakan suasana?”
Proses ini memaksa otak dan mata untuk bekerja sama dalam harmoni yang jarang terjadi di kehidupan modern. Peserta tidak hanya menyalin bentuk; mereka menyerap atmosfer. Mereka menangkap kelembapan udara pagi, kebisingan lalu lintas yang samar, dan ritme kehidupan di sekitar Radjawali SCC.
“Setiap tempat memiliki cerita,” lanjut Ratna. “Melalui sketsa, kami berusaha merekam cerita itu dengan cara yang sederhana tetapi personal. Hasilnya mungkin tidak sempurna secara teknis, tapi ia jujur secara emosional.”
Inilah esensi dari urban sketching: dokumentasi yang manusiawi. Bukan tentang presisi arsitektural yang kaku, melainkan tentang bagaimana seorang individu berinteraksi dengan ruang publiknya.
Selasar sebagai Ruang Hidup
Radjawali SCC, dengan fasadnya yang unik bermotif batik, menjadi kanvas raksasa bagi para penggambar hari itu. Gedung ini bukan sekadar bangunan komersial; ia telah bertransformasi menjadi ruang budaya berkat program “Selasar Seni”.
Winny Aryani, Sales & Marketing Radjawali SCC, melihat kolaborasi dengan Semarang Sketchwalk sebagai langkah strategis untuk menghidupkan ruang publik.
“Kami ingin selasar ini tidak hanya menjadi area lalu lintas pengunjung, tetapi menjadi ruang hidup bagi komunitas,” ujar Winny. Ia mengaku tertarik mengundang SSW setelah melihat aktivitas mereka di Instagram. Pendekatan mereka yang unik dalam mengamati kota—bukan sebagai objek wisata, tapi sebagai subjek yang hidup—menarik perhatiannya.
“Saya melihat teman-teman Semarang Sketchwalk mengajak masyarakat mengamati kota dengan cara yang berbeda. Itu menarik karena membuat kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar,” tambahnya.
Bagi pengelola gedung, kehadiran para sketcher adalah bukti bahwa ruang publik dapat berfungsi ganda: sebagai tempat transaksi ekonomi, sekaligus sebagai galeri terbuka yang demokratis. Siapa pun boleh datang, duduk, dan menuangkan pandangannya tanpa perlu izin khusus atau biaya masuk.
Jejak Visual di Atas Kertas
Para peserta tersebar. Ada yang fokus menggambar lengkungan atap yang rumit. Ada yang lebih tertarik pada lingkungan yang asri. Ada pula yang memilih sudut tenang, merekam permainan cahaya dan bayangan di dinding bata ekspos.
Tidak ada kompetisi. Tidak ada penilaian siapa yang gambarnya paling bagus. Yang ada adalah keheningan yang produktif, sesekali diselingi obrolan ringan tentang teknik arsir atau jenis kertas.
Bagi para sketcher, kegiatan ini adalah jeda reflektif. Di tengah banjir gambar digital yang cepat terlupa, sketsa di atas kertas menawarkan keabadian yang fisik. Setiap goresan pensil adalah jejak kehadiran mereka di waktu dan tempat tertentu.
“Ini juga soal jejaring,” kata Agus Budi Santoso salah satu peserta, yang enggan disebutkan namanya. “Kami belajar dari satu sama lain. Dari latar belakang yang berbeda-beda. Tapi kami disatukan oleh kecintaan pada cara pandang yang sama.”
Semarang Sketchwalk telah konsisten menggelar kegiatan serupa di berbagai titik di kota ini: dari kawasan cagar budaya Kota Lama, hingga pasar tradisional yang ramai. Mereka mendokumentasikan wajah Semarang yang terus berubah, bukan melalui lensa kamera yang dingin, melainkan melalui mata dan tangan yang hangat.
Kota yang Diperhatikan
Saat siang mulai tiba dan acara berakhir, buku-buku sketsa tertutup. Puluhan lembar kertas kini menyimpan versi-versi berbeda dari Radjawali SCC. Ada yang gelap dan dramatis, ada yang ringan dan penuh udara, ada yang detail hingga ke retakan tembok.
Kegiatan “Nyeket Bareng” mengingatkan kita pada hal yang sering terlupa: bahwa untuk mencintai sebuah kota, kita harus mau meluangkan waktu untuk memperhatikannya. Bukan sekilas lewat, bukan sekadar difoto untuk unggahan, tetapi diam, duduk, dan meresapi.
Di tengah dinamika Semarang yang terus berkembang, di mana gedung-gedung baru bermunculan dan lama runtuh, goresan-goresan pensil ini menjadi saksi bisu. Mereka adalah arsip visual yang intim, yang mencatat bukan hanya bagaimana kota terlihat, tetapi bagaimana kota dirasakan.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan seni yang paling sederhana: ia memperlambat waktu, sehingga kita bisa benar-benar hadir di dalamnya. (Christian Saputro)




