SEMARANG — Malam merambat perlahan di Kota Lama Semarang.
Lampu-lampu tua menyala kuning keemasan di sepanjang jalan berbatu. Bayangan bangunan kolonial jatuh memanjang di atas trotoar, menciptakan kontras antara masa lalu yang kokoh dan malam yang cair. Dari kejauhan, suara kendaraan terdengar samar, bercampur dengan desir angin yang melintas di sela-sela jendela kayu kawasan bersejarah itu.
Di sebuah bangunan bernama Oudetrap, puluhan orang duduk menghadap layar putih.
Mereka datang bukan untuk melarikan diri dari kenyataan.
Justru sebaliknya.
Mereka datang untuk memahaminya.
Pada Sabtu, 13 Juni 2026, festival Europe on Screen (EoS) kembali hadir di Semarang. Memasuki hari kedua penyelenggaraan, festival film yang telah menjadi salah satu jendela sinema Eropa terbesar di Indonesia itu menghadirkan tiga film dari Slovakia, Swedia, dan Mesir. Namun, yang terjadi di dalam ruang pemutaran bukan sekadar aktivitas menonton pasif. Yang berlangsung adalah sebuah perjalanan. Perjalanan melintasi benua, melintasi sejarah, dan melintasi pengalaman manusia yang universal.
Jejak Luka yang Tak Pernah Hilang
Ketika lampu ruangan dipadamkan dan layar mulai menyala, penonton dibawa memasuki dunia The Dormant Account, karya sutradara Slovakia Miloslav Luther.
Film itu bercerita tentang seorang perempuan lanjut usia yang berusaha mencari kembali hak yang hilang akibat tragedi Holocaust. Di layar, pencarian sebuah rekening bank yang terlupakan perlahan berubah menjadi pencarian yang lebih besar: pencarian ingatan.
Penonton mengikuti jejak masa lalu yang belum selesai. Mereka menyaksikan bagaimana luka sejarah ternyata tidak pernah benar-benar menghilang. Ia hanya berdiam, tidur di dasar kesadaran, menunggu untuk kembali muncul dalam bentuk lain.
Di kursi-kursi penonton, keheningan terasa berbeda. Sesekali seseorang menggeser posisi duduk. Sesekali terdengar tarikan napas panjang. Film itu mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa dalam buku teks. Sejarah hidup di dalam tubuh manusia. Di dalam keluarga. Di dalam kenangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti genetik yang tak kasatmata namun terasa dampaknya.
Persimpangan Cinta dan Kehilangan
Setelah jeda singkat, suasana berubah. Layar kini menampilkan 7 Steps, film Swedia karya Andreas Öhman.
Jika film pertama berbicara tentang masa lalu yang membayang, film kedua berbicara tentang masa depan yang belum pasti. Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang keberanian untuk memulai kembali ketika segala sesuatu tampak runtuh.
Dua tokoh muda dalam film itu menjalani perjalanan emosional yang terasa akrab bagi banyak orang di ruang pemutaran. Karena pada akhirnya, setiap manusia pernah berada di persimpangan yang sama: antara bertahan atau melepaskan. Antara memegang erat atau membuka tangan.
Di antara tawa dan kesedihan yang muncul sepanjang film, penonton seperti diajak mengingat pengalaman mereka sendiri. Seseorang mungkin teringat cinta pertama yang kandas. Yang lain mungkin teringat perpisahan yang belum sepenuhnya sembuh. Film itu bekerja dengan cara yang sederhana namun efektif: ia tidak menggurui. Ia hanya mengajak penonton berjalan bersama, sisi demi sisi, melalui lorong-lorong emosi yang familiar.
Mozaik Kehidupan Tanpa Batas Bahasa
Menjelang malam semakin dalam, pemutaran ditutup dengan The Stories, karya sineas Mesir Abu Bakr Shawky.
Film ini bergerak lebih tenang, lebih observatif. Ia tidak bertumpu pada satu tokoh utama yang heroik. Sebaliknya, ia merangkai banyak kehidupan dalam satu komunitas. Ada keluarga yang retak. Ada persahabatan yang diuji. Ada harapan yang rapuh. Ada kegagalan yang harus ditelan.
Semua berjalan berdampingan, membentuk mozaik kehidupan yang terasa begitu dekat. Meski berlatar budaya Timur Tengah yang berbeda, kisah-kisah dalam film itu tidak terasa asing bagi penonton di Semarang. Karena kebutuhan manusia untuk dicintai, diterima, dan dipahami ternyata melampaui batas negara maupun bahasa.
Di titik itu, sinema menunjukkan kekuatannya yang paling murni. Ia membuat penonton di Jawa Tengah memahami kehidupan seseorang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya di Kairo atau Stockholm. Tanpa perlu paspor. Tanpa perlu penerjemah. Hanya melalui cerita.
Dari Layar ke Dialog
Namun, Europe on Screen tidak berhenti pada layar hitam.
Setelah film usai, lampu kembali menyala. Percakapan dimulai. Di sinilah festival menemukan nyawanya yang sesungguhnya.
Diskusi yang menghadirkan Agil Ardian dari Sineroom menjadi ruang bagi penonton untuk membedah apa yang baru saja mereka saksikan. Beberapa peserta mengangkat tangan, ragu-ragu lalu berani. Ada yang bertanya tentang simbol-simbol visual (Christian Saputro)




