Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Pengamat Seni Rupa
Di ruang pamer Merby Centre, Semarang, garis-garis tidak lagi sekadar jejak visual yang membeku di atas kanvas. Ia seperti sesuatu yang sedang bernapas pelan—menyusuri lapisan ingatan, menembus waktu, lalu kembali menjadi pertanyaan-pertanyaan tentang hidup itu sendiri.
Di ruang itulah pameran tunggal “Nyungging Asri” dibuka, menghadirkan 25 karya lukisan seniman multitalenta Paminto Krisna atau Sri Paminto Widi Legowo. Digelar pada 23 Juni hingga 25 Juli 2026, pameran ini tidak sekadar menampilkan karya rupa, tetapi juga membuka kembali perjalanan panjang seorang pelaku seni yang lama hidup di panggung tari, teater, dan ketoprak—sebelum akhirnya memilih kanvas sebagai ruang perenungan yang lain.
Namun sejak awal, pameran ini tidak dimaksudkan sebagai ruang pujian.
Ketua panitia pembukaan menegaskan itu tanpa tedeng aling-aling. Suaranya terdengar seperti peringatan yang lembut.
“Senang itu wajar,” katanya. “Tapi kalau kesenian hanya berhenti pada kesenangan, ia tidak akan berkembang.”
Ia berhenti sejenak.
“Di sini, karya bukan untuk dipuji, tetapi untuk diuji.”
Kalimat itu seperti membuka pintu lain dari pameran ini: bahwa seni tidak diletakkan sebagai kemewahan, melainkan sebagai cermin yang jujur—yang kadang memantulkan hal yang tak selalu nyaman dilihat.
Di dinding putih ruang pamer, 25 lukisan Paminto tersusun seperti serpihan perjalanan batin. Ada figur wayang yang samar, seolah baru saja keluar dari kabut ingatan. Ada ruang-ruang kosong yang justru terasa paling penuh—seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan terbuka agar makna bisa masuk sendiri.
Paminto bukan nama baru dalam dunia seni tradisi Jawa. Ia pernah meraih Penata Tari Terbaik Parade Tari Daerah TMII (1999), Sutradara Terbaik Festival Ketoprak (2011 dan 2025), serta Anugerah Pelestari Budaya 2025. Namun di ruang ini, semua gelar itu seakan diletakkan di luar pintu.
Yang tersisa hanya seorang seniman di hadapan dirinya sendiri.
“Nyungging itu bukan sekadar memberi warna,” ujarnya pelan. “Nyungging itu memberi jiwa.”
Dalam tradisi pewayangan Jawa, nyungging adalah kerja halus—menyempurnakan bentuk, memberi detail, menghidupkan figur. Namun dalam tafsir Paminto, ia berubah menjadi laku: proses panjang yang menuntut kesabaran, kejujuran, dan keberanian untuk terus mengoreksi diri.
Di samping kata itu, ia menempatkan kata asri.
Indah.
Seimbang.
Tenteram.
Namun dalam kebudayaan Jawa, keasrian tidak pernah berhenti pada estetika. Ia adalah harmoni yang lebih dalam—antara rasa, etika, dan cara manusia berdamai dengan hidupnya sendiri.
“Kalau tidak asri, hidup jadi bising,” katanya singkat.
Dari dua kata itu, Nyungging Asri bergerak seperti percakapan panjang yang tidak selesai: antara proses dan hasil, antara kerja tangan dan kerja batin, antara yang tampak dan yang hanya bisa dirasakan.
Sambutan Prof. Hardhono Susanto mempertegas posisi pameran ini sebagai peristiwa kebudayaan, bukan sekadar agenda seni rupa.
“Pameran ini bukan hanya ruang estetika,” ujarnya, “tetapi ruang kebudayaan.”
Baginya, karya-karya Paminto adalah catatan perjalanan jiwa—seorang seniman yang terus bergerak di antara tradisi dan modernitas, tanpa pernah benar-benar meninggalkan salah satunya.
Ia menambahkan, kebudayaan hanya akan hidup jika terus ditafsirkan ulang.
Kalimat itu seperti menegaskan ulang seluruh ruang pamer: bahwa seni bukan benda mati, melainkan percakapan yang terus berlangsung.
Di luar gedung, Semarang berjalan seperti biasa. Lalu lintas mengalir, bangunan tumbuh, waktu bergerak tanpa jeda.
Namun di dalam Merby Centre, waktu seperti diperlambat.
Orang-orang berhenti lebih lama di depan lukisan. Tidak semua bertanya. Tidak semua menjawab. Sebagian hanya diam, seperti sedang mencoba mengingat sesuatu yang pernah mereka kenal, tetapi lupa namanya.
Di titik itu, Nyungging Asri tidak lagi sekadar judul pameran.
Ia berubah menjadi cara melihat.
Bahwa keindahan tidak pernah lahir dari sesuatu yang tergesa-gesa. Ia selalu membutuhkan proses panjang yang sunyi—seperti garis yang pelan-pelan menemukan bentuknya sendiri.
Dan di ruang itu, seni tidak dipajang.
Ia sedang terjadi.
Pelan.
Hening.
Dan tetap hidup.
(*)




