SEMARANG — Di sebuah ruang yang teduh, kuas bergerak pelan di atas kanvas. Bukan sekadar memindahkan warna, melainkan sedang membuka jalan menuju kemandirian, kepercayaan diri, dan kesempatan hidup yang lebih setara. Seni, dalam konteks ini, bukan lagi soal estetika semata. Ia adalah bahasa perlawanan terhadap stigma, sekaligus jembatan penghubung antara keterbatasan fisik dan kebebasan berekspresi.
Semangat itulah yang menggerakkan Yayasan Roemah Difabel Indonesia (RDI) saat menggelar Workshop Melukis dan Menggambar bertajuk “Ayo Bebaskan Imajinasimu dengan Gembira”. Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan rangkaian pre-launching Griya Karya Inklusi dan Akademi Inklusi Bersinar (AKIB). Sebuah inisiatif yang dirancang menjadi pusat pengembangan kreativitas sekaligus pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Hadir sebagai narasumber, pelukis surealis Giovanni Susanto membimbing peserta melalui tiga tahapan pembelajaran: dasar-dasar menggambar, teknik melukis, hingga latihan mengembangkan imajinasi. Sebelum praktik dimulai, ia mengajak peserta menyaksikan tayangan mengenai sepuluh lukisan termahal di dunia. Tujuannya sederhana namun fundamental: menanamkan keyakinan bahwa sebuah karya seni memiliki nilai estetika, sejarah, sekaligus nilai ekonomi yang tak boleh diremehkan.
“Melukis bukan sekadar membuat gambar yang indah,” ujar Giovanni, yang telah berkarya profesional sejak 2015 dan dikenal sebagai muralis di berbagai yayasan sosial. “Ia menjadi media untuk melatih kesabaran, konsentrasi, keberanian, serta kemampuan menuangkan gagasan ke dalam sebuah karya.”
Salah satu karyanya, Bird in Space, pernah dimuat dalam katalog seni internasional Schwan Sali und Freundin Navi di Jerman pada 2023. Pencapaian itu membuktikan bahwa batas geografis maupun fisik tidak mampu mengekang kreativitas yang tulus.
Bagi Noviana Dibyantari, Founder RDI, kehadiran Griya Karya Inklusi dan AKIB adalah langkah strategis untuk memperluas akses pendidikan kreatif, pelatihan vokasi, serta pengembangan kewirausahaan. Program ini didukung sejumlah mitra seperti Bank Jateng, Albea, Techpack Asia, RD Shop, dan Akademi Inklusi Bersinar, menandakan bahwa ekosistem pemberdayaan difabel kini mulai mendapatkan tempat di sektor publik maupun privat.
“Setiap orang memiliki potensi untuk berkarya. Yang dibutuhkan bukan rasa iba, melainkan kesempatan, pendampingan, dan ruang yang aman agar potensi tersebut dapat berkembang,” tegas Noviana saat membuka kegiatan.
Menurutnya, seni telah terbukti efektif membantu penyandang disabilitas mengembangkan imajinasi, melatih konsentrasi, dan membangun keberanian berekspresi. Lebih jauh, seni juga membuka peluang ekonomi nyata. Kualitas karya seni, ia menekankan, tidak ditentukan oleh kondisi fisik penciptanya, melainkan oleh kreativitas, ketekunan, dan proses yang dijalani.
“Ini membuktikan bahwa teman-teman difabel mampu menghasilkan karya yang layak diapresiasi dan memiliki nilai tinggi,” katanya.
Bukti itu kini terlihat jelas dari meningkatnya apresiasi publik terhadap karya seniman difabel. Dalam beberapa pameran bergengsi, karya-karya mereka berhasil terjual: tujuh karya pada Pameran Liberté d’Inclusion di Alliance Française, delapan karya pada Pameran Biru dalam rangka Hari Autis Sedunia, tiga karya pada Pameran Abirama di Museum Ranggawarsita, satu karya pada Pameran Bulan Bung Karno di Oude Trap, serta tiga karya pada pameran Wheel of Life yang diselenggarakan Rotary Club.
Tak hanya diminati kolektor umum, karya para seniman difabel juga telah dikoleksi oleh tokoh-tokoh penting, termasuk anggota DPRD Kota Semarang Melly Pangestu, Kepala Museum Ranggawarsita, Direktur Jenderal Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Amiruddin, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, CEO UNICEF, serta sejumlah kolektor seni lainnya.
Capaian tersebut bukan sekadar angka penjualan. Ia adalah validasi bahwa penyandang disabilitas mampu menghasilkan karya berkualitas dan bernilai ekonomi apabila memperoleh akses, pendampingan, dan kesempatan yang setara.
Noviana menutup sambutannya dengan ajakan yang menggugah: mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas, dari objek belas kasihan menjadi subjek yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan kontribusi nyata.
“Mari bersama-sama membangun Indonesia yang lebih inklusif,” pungkasnya. “Ketika kesempatan dibuka seluas-luasnya, teman-teman difabel akan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya, mandiri, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.”
Di tengah goresan kuas yang terus mengalir, pesan itu terasa semakin kuat. Bahwa seni, pada akhirnya, bukan tentang seberapa sempurna tangan yang memegang kuas. Melainkan tentang seberapa besar ruang yang kita sediakan agar setiap jiwa bisa bersinar dengan caranya sendiri. (Christian Saputro)




